Ali Masykur Musa, Plt Ketua Umum DPP PKB

Ali Masykur Musa menolak anggapan bahwa politik sebagai ladang hidup. Baginya, politik itu pilihan hidup. “Saya tidak memilih politik sebagai ladang hidup, karena politik itu merupakan panggilan dan tuntutan sejarah buat saya,” kata Plt Ketua Umum DPP PKB itu.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus dosen di Universitas Mercu Buana (UMB) ini, kalau politik merupakan ladang hidup, seakan-akan politik menjadi lahan mencari rezeki dan uang. “Padahal, politik untuk pengabdian dan perjuangan.”

Santai, flamboyan, dengan raut muka maskulin, demikian anggota Komisi XI DPR RI ini dikenal oleh masyarakat. Sikap ini ditunjukkannya dalam gaya bicara yang santun, intonasi kata dan gaya tuturnya tertata rapi. Gaya seperti itu juga terlihat ketika Opini Indonesia menyambanginya di sebuah kantor di Jalan Dewi Sartika, Jakarta, Selasa pekan lalu.

Politisi santun itu kini hatinya berbunga-bunga. Kegembiraan tengah menggelayuti kehidupannya. Bukan karena ia dipercaya oleh Ketua Umum Dewan Syuro PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Plt Ketua Umum DPP PKB, tetapi pria kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 12 September 1962, itu, telah berhasil meraih cita-cita yang diidamkannya sejak usia sekolah dasar, yakni memperoleh derajat doktor.

Rabu, 3 Oktober 2007, Gedung Rektorat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) telah menjadi saksi pencapaian cita-cita Ali Masykur Musa itu. Ia dinyatakan lulus sebagai seorang doktor di bidang Majemen Pendidikan dengan konsentrasi studi Kebijakan dan Politik Anggaran, dengan disertasi berjudul: “Perubahan UUD 1945 tentang Pendidikan dan Implikasinya terhadap Politik Anggaran Pendidikan Nasional: Sebuah Analisis Kebijakan”. Ia menjadi doktor ke-812 dari Program Pascasarja UNJ.

Karirnya di dunia akademik mengalir seperti air, begitu pula dengan aktivitasnya di dunia politik. Dewan Syuro PKB memberikan amanah kepada mantan Ketua Umum PB PMII periode 1991-1994 ini menjadi Plt Ketua Umum DPP PKB yang ditinggalkan oleh Muhaimin Iskandar. Limpahan tugas ini diterimanya dengan lapang dada. Namun, katanya, “Saya sebetulnya tidak dalam posisi meminta atau memobilisir agar jabatan itu diberikan kepada saya.”

Jabatan itu bukanlah sesuatu yang istimewa buat Ali Masykur Musa. Ia sudah melalui proses cukup lama di PKB sejak partai ini berdiri. Jabatan demi jabatan sudah diembannya. Ketika partai ini lahir, jabatan ketua Departemen Pemuda dan Mahasiswa sudah diberikan kepadanya. Berturut-turut, jabatan ketua DPP PKB dan Wakil Ketua Umum. Baginya, jabatan Plt Ketua Umum adalah hal biasa. “Secara ex officio, wakil ketua umum menjalankan tugas ketua umum apabila ketua umum berhalangan. Sehingga waktu itu saya merasa biasa,” tuturnya.

Politisi jebolan Universitas Negeri Jember ini menjalani hidup dan karir politiknya selalu mengikuti filosofi air mengalir. “Saya hidup mengalir saja,” katanya. Setiap pekerjaan, baik di parlemen atau kampus adalah panggilan Tuhan. “Itu panggilan, di mana saja saya bekerja saya mengartikan itu panggilan Tuhan. Saya harus mengabdikan amanah itu dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Namun begitu, tugas sebagai Plt Ketua Umum DPP PKB bukan perkara mudah. PKB sedang mengalami kemelut pasca pencopotan Muhaimin Iskandar. Peristiwa itu berbuntut karena Muhaimin Iskandar tidak menerima keputusan rapat pleno yang memecatnya dari kursi ketua umum DPP PKB.

Kini tugas berat sedang ditapaki Ali Masykur Musa. Ia pun sudah mendatangi Departemen Hukum dan HAM. “Menurut Undang-Undang, dalam satu bulan setelah terjadi perubahan kepengurusan harus dilaporkan ke Departeman Hukum dan HAM,” katanya dengan nada santai.

Masalahnya, Muhaimin Iskandar mengajukan gugatan ke pengadilan atas pemecatan dirinya oleh sidang pleno PKB, Maret lalu. Meski begitu, bagi Ali Masykur Musa, itu bukanlah hal yang akan menjadi kendala. Menurutnya, kalau Departemen Hukum dan Ham sudah memahami nomenklatur dan struktur pengambilan kebijakan dan pengendalian ada di Dewan Syuro, “Tentu perubahan itu tidak ada halangan buat Departemen Hukum dan HAM,” katanya sambil tersenyum. Ia pun yakin PKB dengan susunan pengurus baru akan lolos verifikasi baik oleh Departemen Hukum dan HAM maupun KPU.

Saat ini PKB sedang ada masalah, bukan hanya organisatoris semata, tetapi masalah itu ada dampak politisnya. Ia khawatir kalau konflik itu terus merembet sampai ke bawah, cabang-cabang. Oleh karena itu, ketika Ali Masykur Musa mendapat mandat dari Gus Dur, ia ditugaskan untuk melokalisir konflik hanya pada tingkat DPP.

Ketika kader-kader muda PKB berusaha melawan kepemimpinan Gus Dur, Ali Masykur Musa memilih berdiri di barisan Dewan Syuro. Ia sendiri setuju dengan gagasan untuk membangun PKB menjadi partai rasional dan mekanis serta menjunjung tinggi prosedur. Menurutnya, itu merupakan tuntutan sejarah untuk menuju partai modern. Namun ia juga berpikir rasional, AD/ART PKB mengatur bahwa struktur tertinggi partai adalah Dewan Syuro. “Faktnya Gus Dur masih ketua Umum Dewan Syuro, salah satu prinsip demokrasi itu orang harus taat aturan,” tegasnya

Menurutnya, pikiran-pikiran Gus Dur yang humanis, demokratis, terbuka dan pluralis, dikagumi ole seluruh kader muda NU, kader muda PKB bahkan bangsa ini mengagumi pikiran-pikiran besarnya. “Gus Dur menjadi faktor utama dalam gerakan demokrasi dan dalam membesarkan PKB,” ujarnya.

Sekarang ia punya beban untuk menyelenggarakan Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB yang segera digelar di Bali, 30 April hingga 1 Mei. MLB itu diharapkan dapat menjadi ajang penyelesaian konflik PKB sekarang. “Moga-moga lancar tidak ada masalah. MLB bisa menjadi solusi atas semua masalah, dan semoga tidak justru mendatangkan masalah,” harapnya.

******

Sejak kecil Ali Masykur Musa dididik dalam tradisi NU yang cukup kuat. Pendidikan keluarga dan lingkungan telah membentuk dirinya menjadi sosok orang yang penuh dedikasi dan pengabdian. Orang tuanya tidak pernah mengizinkannya masuk dunia modern sebelum nyantri di pondok pesantren terlebih dahulu. Hal serupa ia tanamkan kepada anaknya. “Kalau sudah mondok, orang tua saya percaya,” kenangnya.

Ali Masykur Musa kecil dikenal sebagai anak cerdas. Di Madrasah Diniyah langsung masuk kelas 4, masuk SD di kelas 5. Kecerdasan terus mengantarkannya hinga memasuki dunia mahasiswa. Ia menjadi mahasiswa teladan ketika lulus S1 dari Universitas Jember tahun 1986, hingga ia langsung ditawari untuk mengajar di alamamaternya. Di sana ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil selama 12 tahun.

Sewaktu kecil, Ali Masykur Musa mengaku sering berganti-ganti bercita-cita, namun ia mantap memilih politik sebagai hobi saat duduk kelas 2 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tulungagung. Pilihan ini bukan begitu saja datang, tetapi telah berurat berakar sejak ia dididik oleh lingkungan keluarga yang menanamkan kesadaran sosial, politik dan kemasyarakatan. “Sejak Aliyah, saya sudah punya bakat berpolitik,” kenangnya. Ia mendapatkan indoktrinasi itu dari orang tuanya. “Hidup itu bukan kesenangan, tetapi hidup itu pengorbanan untuk orang lain”, itulah yang selalu ditanamkan orang tuanya.

Kini, bagi Ali Masykur Musa, PKB merupakan partai yang didirikan dan menjadi penyalur aspirasi warga NU. Sebab para pendirinya waktu itu memang struktural NU, baik Gus Dur maupun Kiai Ilyas Ruchiyat. Pilihannya itu memang dipengaruhi oleh latar belakang sosial-politik lingkungannya. “Politik saya adalah politik NU,” pungkasnya.[Figur » Edisi 97 / Tahun II / Tanggal 28 April - 2 Mei 2008]

[...Selengkapnya]

Label:

Buruh Mbabar Juga Bikin Batik Cap Duit

Menyiasati keberlanjutan usaha, juragan batik di Pekalongan terus berproduksi. Anjloknya permintaan pasar karena pasar utama di Tanah Abang “diberangus” dan harga bahan baku perbatikan terus menanjak, tak membuat mereka putus asa. Sebab orang-orang yang bermental majikan ini, tiada guna jika harus menyerah menjadi kuli. Setidaknya, mereka tetap menjadi majikan meski status usahanya adalah buruh mbabar (juragan batik yang hanya menerima order produksi batik tanpa mengurusi pemasaran).

Salah seorang juragan batik yang kemudian memilih jadi buruh mbabar adalah Haji Wardi, biasa disapa Kaji Wardi. Sejak pasar Tanah Abang --salah satu pasar utama batik Pekalongan—“terbakar” pada 2003 dan berganti menjadi kompleks pertokoan mahal, kelas juragan seperti Kaji Wardi pelan-pelan mulai mengurangi perannya memasok batik ke Tanah Abang. Alasannya, pertama, permintaan pasar di pusat grosir batik itu melorot tajam sebab para pemilik toko yang rata-rata pribumi itu tak lagi berjualan. Umumnya mereka tak mampu menyewa toko-toko baru pasca kebakaran. Kedua, suasana hubungan bisnis berubah –tak lagi ramah, begitu Tanah Abang didominasi oleh orang-orang baru yang tak dikenal.

Ketika itu, Kaji Wardi baru dua tahun menjadi juragan batik, yang memproduksi dan memasarkan sendiri batiknya. Dengan modal awal Rp 10 juta pada 2001, ia sudah mengumpulkan omset Rp 100 juta pada 2003. Namun, tragedi pasar Tanah Abang membuat Kaji Wardi memilih memproduksi saja tanpa mengurusi pasar. Orang Pekalongan biasa menyebut model juragan ini dengan “Buruh Mbabar” atau “Juragan Buruh”.

Kini, Kaji Wardi mampu memproduksi 1.000 stel per minggu atau 4.000 stel dalam sebulan. Ongkos produksi per stel adalah Rp 22.500,- dengan keuntungan bersih Rp 2.500 per stel. Itu berarti omset yang berputar adalah Rp 90 juta per bulan, dengan keuntungan rata-rata Rp 10 juta per bulan. Omset per tahun mecapai Rp 500 jutaan. “Menjadi buruh mbabar juga bisa eksis seperti juragan beneran yang sukses,” ujar Wardi kepada OpiniIndonesia, Selasa pekan lalu.

Mantan TKI, yang menjadi sopir di Arab Saudi selama empat tahun ini pun tak peduli dengan soal status: buruh mbabar atau juragan beneran. Bagi Kaji Wardi, “Yang penting kita sama-sama bikin batik cap duit!” guraunya.

Namun, maksud dia adalah bahwa rata-rata juragan yang bergerak di jalur “batik cap” sama seperti dirinya, berusaha keras memproduksi batik dengan mutu tinggi dengan pendapatan lumayan: batik cap duit!

Apa pun status kelas sosial juragan, keberadaan buruh mbabar sebenarnya sama-sama ikut serta mengangkat ekonomi rakyat di kampungnya. Seperti Kaji Wardi, setidaknya sekitar 20 orang di Desanya, Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, bekerja dan menggantungkan pendapatan ekonomi dari usaha Kaji Wardi. Mereka bekerja sebagai tukang ngeCap, membatik, nyolet, nglorod, hingga melempit batik. Rata-rata penghasilan mereka juga lumayan, bisa mencapai Rp 1-1,5 juta per bulan.

Kaji Wardi memproduksi batik jenis sutra, paris dan serat nanas. Batik sutra diminati orang-orang kota besar, sedangkan batik paris dan serat nanas umumnya laku di pasaran Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa Timur. Seperti lazimnya batik Pekalongan, batik produksi Kaji Wardi juga tak hanya di dalam negeri, tetapi juga terkenal di mancanegara.

Batik Pekalongan sejak lama diekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sedemikian terkenalnya batik dari Pekalongan, Jawa Tengah, sehingga jenis batik ini tidak berhenti hanya menjadi hasil kegiatan ekonomi, tetapi juga telah menjadi ikon wisata.

Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil seperti Kaji Wardi, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

Inilah istimewanya (sakpore), batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik Pekalongan adalah nafas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

Batik Hokokai, SBY, Hingga Tsunami
Anak-anak sedang bermain di sebuah sekolah dasar di Simbang Kulon, Buaran, Kabupaten Pekalongan. Mereka berseragam pramuka, bersarung batik dan memakai kopiah. Sebuah gambaran yang pas di Pekalongan. Sebab Pekalongan memang gudangnya produksi batik yang indah dan dinamis.

Lantas, bagaimana proses pembuatan batik tersebut? Secara umum proses pembuatan batik melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberian malam (lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain.

Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai selera atau tetap berwarna putih sebelum kemudian diberi malam. Proses pemberian malam dapat menggunakan proses batik tulis dengan canting tangan atau dengan proses cap. Pada bagian kain yang diberi malam maka proses pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup oleh malam (wax resist). Setelah diberi malam, batik dicelup dengan warna. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keinginan, berapa warna yang diinginkan.

Jika proses pewarnaan dan pemberian malam selesai maka malam dilunturkan dengan proses pemanasan. Batik yang telah jadi direbus hingga malam menjadi leleh dan terlepas dari air. Proses perebusan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik, dan menghindari kelunturan. Setelah perebusan selesai, batik direndam air dingin dan dijemur.

Batik Pekalongan adalah batik pesisir yang paling kaya warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya bersifat naturalis. Dibanding dengan batik pesisir lainnya, batik Pekalongan sangat dipengaruhi pendatang keturunan Cina dan Belanda. Motif batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif batik Pekalongan yang paling populer adalah batik Jlamprang.

Keistimewaan batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan zaman. Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama ’batik Jawa Hokokai’, yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik Jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun 1960-an juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, beberapa saat setelah Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden, muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengan kain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer belakangan ini adalah motif Tsunami. Orang Pekalongan memang tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik. [OI, Profil Usaha, Edisi 095, 14-20 April 2008]


[...Selengkapnya]

Label:

Arrosa Kid’s Friend Dari Bojonggede Menembus Pasar Luar Negeri

Modal Rp 20 juta telah berlipat ganda. Omset mutakhir usaha ”boneka muslimah” ini beranak pinak menjadi Rp 300 juta. Pasar pun meluas, dari sekitar Bojonggede-Bogor, hingga Malaysia, Abudabi, Amerika Serikat dan Inggris.

Pusing mencari hadiah ulang tahun buat sang anak, justru menginspirasi Umining Dwi Kusminarti berdaya kreatif. Ceritanya, wanita kelahiran 1967 yang akrab disapa Atiek ini berburu hadiah ulang tahun anak perempuannya. Ia memilih hadiah boneka muslimah. Namun, setelah membolak-balik aneka merek boneka di beberapa tempat penjualan, Atiek tak menemukan boneka yang diinginkan.

Atiek pun penasaran. Ia mengontak teman sekampusnya dulu –yang bekerja di Abudabi, bagaimana kalau membuat sendiri boneka santun berbusana muslimah. Teman lamanya itu pun mencari-cari dan mendapatkan Fulla, boneka berbusana muslimah khas Arab yang beredar di Timur Tengah. “Kami ingin memberi alternatif mainan pada anak-anak. Kami ingin mainan itu menempel di benak anak-anak, yakni orang harus berpakaian muslimah sejak kecil,” ujar ibu dari Arsa (16) dan Lia (12).

Niat mulia mendandani boneka sebagai sahabat bermain anak-anak muslimah ini segera diwujudkan dengan membangun usaha. Pada awal tahun 2005, Atiek menelusuri pasar-pasar untuk mengukur kemungkinan pangsa pasar yang tersedia, lantas produksi perdana diluncurkan pada Agustus 2005.

Dengan modal Rp 20 juta, hasil patungan dengan teman-teman yang bekerja di Abudabi, boneka santun berbusana muslimah pun akhirnya hadir di Indonesia. Namun, Atiek memilih tidak membuat boneka sendiri. Ia ingin membeli yang sudah jadi, lalu mendandaninya. Boneka asal Cina, berbahan plastik yang dicetak, jadi pilihannya. Lalu, boneka itu dibalut jilbab dipadu dengan kebaya dan songket, busana khas Indonesia. Untuk wanita karir, boneka berjilbab itu dipadu dengan blazer dan celana panjang.

Untuk merek usaha, Atiek memilih nama Arrosa. Dalam bahasa Arab, Arrosa berarti boneka dan dalam bahasa Basque berarti bunga ros. Nah, boneka Arrosa atawa boneka muslimah yang berciri khas Indonesia itu, awalnya dikirim ke Abudabi untuk konsumen asal Indonesia.

Seiring meningkatnya pangsa pasar di Abudabi, dari 12 boneka hingga berlipat dua, yang dipasarkan ala getok tular (dari mulut ke mulut), celah pangsa pasar di Indonesia pun mengikuti. Selain terpajang di beberapa toko di Depok, Jawa Barat, Arrosa telah merambah ke Carrefour, Alfath Grup Yogyakarta, sampai kota-kota lainnya seperti Medan, Pekanbaru, Balikpapan, Bontang, Tarakan, Palu, dan Gorontalo. Pada tahun 2007, pasar meluas hingga ke Malaysia dan Georgia, Amerika Serikat. Lantas, Februari 2008, Arrosa melayani permintaan pesanan dari Inggris.

Meluasnya pasar, sedikit membuat produksi Arrosa, yang berkantor di rumah Atiek di Bojonggede-Bogor ini, kerepotan. “Tantangan dan hambatan di awalnya adalah sulit mencari penjahit yang mau dan mampu menjahit baju kecil, karena agak rumit dibanding baju manusia,” kata alumni teknik kimia ITB itu.

Kemudian kesulitan itu teratasi setelah mendapatkan beberapa tenaga penjahit di sekitar rumahnya. Malah, bagi 7 penjahit yang kini menjahit baju boneka Arrosa, merasakan keberuntungannya. Sebab, hasilnya lumayan. Untuk 1 baju boneka dihargai Rp 5.000, rata-rata per hari ibu-ibu penjahit menghasilkan 10 baju. Jadi, seorang ibu penjahit yang tetap bisa mengurus anak-anaknya di rumah, bisa mengantongi hasil Rp 50 ribu per hari.

Kalau Anda ingin memiliki sebuah boneka Arrosa, cukup dengan merogoh kocek Rp 50 ribu. Di luar negeri pun harga tetap Rp 50 ribu, hanya saja ditambah ongkos kirim. Lain lagi kalau Anda adalah pedagang yang akan menjualnya kembali, maka harga yang dipatok produsen lebih murah, yakni Rp 42 ribu. Bagaimana kalau mau mengganti baju boneka? Anda tak perlu khawatir, Arrosa menyediakan baju-baju dengan beragam model, dengan harga Rp 25 ribu.

Setelah berjalan dua tahun, omset usaha Atiek mencapai Rp 300 juta, dengan rata-rata produksi per bulan, 300 boneka Arrosa dan 1.000 baju. Begitu datang bulan Ramadhan, produksi selalu melonjak hingga 1.000 boneka per bulan. “Permintaan selalu meningkat tiga kali lipat begitu datang bulan Ramadhan,” kata Atiek kepada opiniIndonesia, Rabu pekan lalu.

Berjalin berkelindan, Arrosa Kid’s Friend tak saja menjadi media pengenalan anak sejak dini terhadap busana muslimah, tetapi juga bisnis ini cukup menguntungkan. Inikah berkah luar dalam?

Barbie, Razanne, Fulla
Kalau Amerika Serikat (AS) memproduksi Barbie, boneka kenes bertubuh langsing, rok mini dan berambut blonde, warga muslim punya Razanne, yang anggun berjilbab.

Barbie mengenakan bikini, Razanne bergaun panjang dan berjilbab. Postur tubuh Razanne juga tak seseksi Barbie, yang bagian dadanya dibuat menonjol. Perbedaan itu sengaja dibuat produsen Razanne, Noor Art Inc. Michigan. Sebab, Razanne memang ditujukan untuk warga muslim AS.

Razanne dibuat untuk mengingatkan gadis-gadis muslim bahwa penampilan fisik bukanlah segalanya. "Apa pun masalahnya adalah apa yang berada di dalam diri Anda, tidak bagaimana penampilan Anda," kata Saadeh yang mendirikan NoorArt In. dengan istri dan beberapa investor lainnya. Perusahaan yang bermarkas di Livonia, Michigan, itu berdiri pada 1997. Perusahaan tersebut memang khusus menjual mainan yang ditujukan untuk anak-anak muslim.
Razanne dibuat dengan mengadopsi bentuk tubuh ABG. Diciptakan tiga versi, berkulit putih dan berambut pirang, berkulit cokelat dan berambut hitam, serta berkulit hitam dan berambut hitam.
Dengan menciptakan Razanne, Sadeeh ingin menampilkan sosok muslimah modern. Karena itu, ada Dr Razanne dan astronot Razanne. Ada pula Razanne gadis muslim pramuka, lengkap dengan rekaman kaset sumpah pramuka muslim.
Razanne, setiap tahun terjual 30 ribu boneka dengan harga bervariasi, mulai USD 9,99 hingga USD 24,99 (sekitar Rp 83 ribu-Rp 209 ribu) untuk satu set boneka.
Saingan Barbie lainnya adalah Fulla. Seperti Razanne, Fulla juga adalah boneka berjilbab. Di balik jilbabnya, Fulla memiliki rambut hitam. Matanya juga hitam dan lebar. Fulla tidak dikelilingi cowok seperti halnya Barbie yang berpacaran dengan Ken. Fulla, si boneka Muslimah itu, menjadi dagangan laris manis di Timur Tengah. Fulla muncul pada 2004 dan mampu menggantikan kelarisan Barbie.
Fulla juga tampil sebagai dokter dan guru. Pakaian Fulla antara lain terdiri dari busana wanita Muslim modern seperti celana jeans dan jilbab berwarna-warni seperti yang banyak dipakai oleh wanita muda di Mesir. Pada 2006, Fulla telah terjual 1,3 juta boneka.
Fulla telah mampir ke Indonesia. Pada 12 April 2007, perusahaan mainan terbesar di Timur Tengah, NewBoy FZ Co, meluncurkan boneka Fulla di Jakarta. Tentu saja, Fulla, yang berkarakter menyenangkan, penyayang, peduli, jujur, luwes, pintar, dan populer di sekolah itu, tampil dengan busana muslim khas Indonesia. [OI, Profil Usaha, Edisi 094, 7-13 April 2008]


[...Selengkapnya]

Label:

Alat Pijat Kayu Tetap Diminati

Sekali berarti, terus berproduksi. Demikian pula dengan Moch Yamin & Mitra yang tak berhenti membuat usahanya terus menggelinding. Alat pijat Kediri ini terus menggeliat.


Alat pijat, juga biasa dikenal sebagai alat pijat refleksi, ternyata lumayan laku. Sekali berpameran, tingkat penjualannya bisa menyamai omset sebulan. Tengok saja pengalaman Kabupaten Kediri ketika berpameran di Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Agustus tahun lalu. Alat pijat Kediri diminati masyarakat Jember. Dengan harga Rp 7.500 per biji, produk ini terjual 4.600 biji selama empat hari. Berarti angka nominal penjualan adalah Rp 34.500.000.

Pengalaman hampir serupa dialami Moch Yamin & Mitra ketika berpameran di Kabupaten Expo di Jakarta bulan lalu Meski tingkat penjualan lebih rendah tetapi angka nominal penjualannya tak kurang dari omset rata-rata per bulan Rp 12 juta. Penjualan rata-rata per bulan ini dihitung dari produksi rata-rata per hari 50 biji dikali 24 hari dikali rata-rata Rp 10 ribu per biji.Demikian pula harga jual yang dipatok juga berbeda, yakni berkisar antara Rp 10 ribu-Rp 20 ribu.

Menurut Kuspriyanto, dari Moch Yamin & Mitra, yang memberi nama usahanya Ortodhox Art, kalau dilihat barangnya memang kecil tetapi manfaatnya bagi kesehatan sangat besar, maka peminatnya semakin hari bertambah.

Dulu waktu diciptakan pertama kali seorang warga Semen, Kediri, pemasarannya hanya sekitar wilayah Kediri, Nganjuk, Magetan, Madiun, Ponorogo, Trenggalek dan Tulungagung. Tapi sekarang sudah menyebar sampai ke Bali, Kalimantan, hingga kawasan Asia meliputi Thailand, Hongkong, Taiwan, dan Jepang.

Kayu kecil berbentuk segi tiga yang mempunyai diameter sekitar lima senti meter tersebut, guna dan manfaatnya banyak sekali. Jika dipijatkan ke titik-titik tertentu di tangan dan kaki dapat memperlancar peredaran darah, mengoptimalkan fungsi-fungsi syaraf, pencernaan dan organ-organ tubuh vital lainnya.

Jika ingin hidup sehat makanlah, makan yang sehat bebas dari zat-zat kimia, buah-buahan yang banyak mengandung vitamin A,B,C dan D, makanan berserat, minum air putih yang banyak, tidur cukup dan pijatlah titik-titik refleksi di tangan dan kaki secara teratur dan tepat.

Jika ingin memiliki alat pijat produk Moch Yamin & Mitra, bisa beli langsung di bengkelnya, Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol, Kediri, Jawa Timur, atau pesan saja via telepon 0812 331 3379. Harganya cukup murah. Untuk alat pijat berbentuk segi tiga yang berguna memijat refleksi, urut dan kerokan Rp 10 ribu per biji. Demikian pula dengan alat pijat blender kecil untuk sakit migren, sakit kepala dan kerok leher. Sementara harga alat garuk Rp 12.500 per biji, sedangkan blender besar bergigi yang berfungsi memijat karena kesemutan Rp 20 ribu per biji.

Sekali berarti, tak pernah mati. Meski penemu pertama kali alat pijat ini sudah mati sekalipun, karyanya terus diproduksi, terus dinikmati, terus ikut serta menjaga kesehatan anak-anak manusia. Karena itu, di kawasan bengkel Ortodhox Art tak sulit menjumpai beberapa industri rumah tangga yang memproduksi alat pijat ini yang umumnya dibuat dari kayu sono dan jati.

Pisau, tatah, amplas, dan gergaji, sudah cukup sebagai perlengkapan untuk membuat alat pijat ala Kediri. Dengan tangan-tangan cekatan dan piawai memainkan pisau dan tatah, mereka, lima pekerja di Ortodhox Art, mampu menghasilkan 10 alat pijat per hari. Setelah berbentuk sesuai jenis alat pijat, tinggal dikasih pernis untuk memperindah warna kayu asli hingga lebih mengkilap. Jadilah alat pijat yang berguna untuk menjaga kesehatan atau menyembuhkan rasa sakit.

Jenis produksi dari industri rumah tangga di Kediri sangat beragam. Selain alat pijat, ada kain kelambu filtrase, gorden, taplak meja, sarung bantal dan guling, sarung teve, tas sekolah, tempat tisu, mukena sutera, baju muslim bordir, kripik tahu, madu asli, sewor, entong –alat dapur yang terbuat dari tempurung kelapa, dan lain-lain. Jamak diketahui, Kediri juga dikenal sebagai kota tahu.

Dengan budaya masyarakatnya yang memiliki etos kerja tinggi, tak heran jika di Kediri tumbuh karya usaha yang juga terbilang unik seperti alat pijat tadi. Memang tampaknya mudah membuat alat-alat pijat kesehatan karya orang Kediri tersebut. Namun butuh ketekunan dan ketelatenan. Sebab membentuk sebuah alat pijat dengan jenis tertentu dan diameter tertentu yang cocok untuk fungsi pemijatan masing-masing tak hanya butuh kesabaran, tetapi lebih dari itu adalah keahlian. Apalagi media yang dibentuk dengan cara memotong, memahat, mengamplas dan memplitur, adalah kayu sono yang keras dan kayu jati yang lebih keras.

Nah, Moch Yamin & Mitra telah menorehkan kerja kerasnya dalam membuat usaha alat pijat yang berguna bagi kesehatan. Awalnya mereka tak membayangkan bagaimana pasar bakal menyambutnya dengan hangat. Namun, pelan tapi pasti, pasar tumbuh secara getok tular, dari mulut ke mulut para pemakai alat pijat bercerita tentang pengalamannya menggunakan alat pijat dari kayu itu, dan pasar pun menyebar, menjangkau luar negeri.[Profil Usaha » Edisi 103 / Tahun II / Tanggal 9 Juni - 15 Juni 2008]

[...Selengkapnya]

Label: