Hidup Untung Keluarga Pelukis
Menggantungkan hidup sebagai PNS dan sejenisnya, karyawan, atau profesional, hingga beranak pinak mengikuti alur aktivitas yang lebih tua, mungkin itu biasa. Yang tak biasa adalah jalan hidup yang dipilih Slamet Barada, sebagai pelukis bersama keempat anaknya.
“Keluarga pelukis.” Itulah orang-orang di Kota Surakarta dan sekitarnya kerap menyebut Slamet Barada dan keluarganya. Tentu sebutan itu wajar, sebab Slamet Barada dan keempat anaknya memang hidup dari melukis.
Karya-karya mereka tampil menawan berjejer di jalanan sepeda ontel di pinggiran Jalan Raya Slamet Riyadi Surakarta, akhir Juli lalu, ketika Pemerintah Kota Surakarta punya gawe menggelar Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia.
Dari pameran itu saja, Slamet dan keempat anaknya mengantongi uang tak kurang dari Rp 60 juta hasil empat hari pameran di pinggir jalan. Lima lukisan yang rata-rata berukuran 270x140 sentimeter itu laku terjual Rp 12 juta per buah. Jadi, lumayan bukan? Corat coret di atas kanvas yang berawal dari hobi itu lalu benar-benar menjadi tumpuan hidup dan kehidupan bagi Slamet dan keempat anaknya.
Slamet mengawali karirnya sebagai pelukis pada 1978. Secara otodidak pria kelahiran Yogyakarta 16 Juni 1952 ini kian mahir hingga menemukan ciri khas lukisan beraliran realis namun juga kadang tak bisa menepis gejolak hatinya yang dekat dengan hal-hal yang spiritual.
Karena itulah lukisaan-lukisan karya Slamet tak hanya berupa rona kehidupan desa seperti tukang becak di tengah rindang pepohonan dan anak-anak sedang tampil meniup seruling menyambut hari ulang tahun seseorang di sebuah desa. Namun, lulusan Sekolah Teknik Negeri Surakarta (1972) ini juga piawai melukis bergaya abstrak, bahkan obyek lukisannya menjamah wilayah gaib seperti Ratu Pantai Selatan, Dewi Kencono Wungu, Kumolo Sari (Dewi Angin-angin), Retno Sudo (Kencono Sari). Enam lukisan gaib karya Slamet ditaruh di Cikini, Cilandak dan Pasar Minggu, Jakarta.
Obyek lukisan Slamet beraneka ragam. Ada ikan koi di tengah pancuran air dan kembang teratarai yang sedang merekah. “Lukisan ini melambangkan bahwa biar bisnis ada perkembangan. Ini ditandai dengan bunga teratai yang baru mekar, yang nantinya kuncup-kuncupnya akan tumbuh. Lalu air terjun menandakan bahwa rezeki terus nggrojok, dan batu-batu kecil di tengah telaga dimaksudkan biar rezeki tak berhenti,” ujarnya.
Ada juga Budha Kecil ukuran 200x125 sentimeter yang dijual Rp 15 juta. Berupa sejumlah anak kecil berpakaian ala Budha menjemur diri memandang matahari. Cerita ini menghimpun tentang kebaikan, kesucian dan kerohanian. Lalu, lukisan Ulang Tahun, berupa sejumlah anak sedang asyik menyuling di sebuah acara ulang tahun. Tampak damai, apa adanya dan alami. Lukisan berukuran 160x140 sentimeter ini dijual Rp 6 juta.
Slamet yang telah 30 tahun melukis dan hidup dari lukisannya tersebut menunjukkan bahwa ia adalah salah satu ikon pelukis yang khusyuk. Di Kota Surakarta saja, suami dari Sumini ini harus bersaing dengan 600-an pelukis. Namun, pria yang menikah pada 1978 dan kini telah dikaruniai empat anak ini tetap berjaya.
Melihat keberhasilan ayahnya melukis, keempat anak Slamet-Sumini mengikuti jejak sang “guru besar”. Barada Agung (30), Arifin Barada (26), Yosep Barada (20) dan Mira Sahara (9), sama-sama berprofesi melukis. Mereka belajar kepada ayahnya Slamet Barada, yang kerap disapa guru besar itu. Selain itu, mereka juga mengembangkan diri secara otodidak. Mereka sekhusyuk ayahnya, termasuk Arifin Barada yang juga disibukkan merampungkan skripsinya di jurusan Seni Rupa FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Jadilah, Slamet sekeluarga yang beralamat di Jl Lempuyangan II Barat Balai Desa Kwarasan RT02 RW02 Solo Baru, menggantungkan hidup dari melukis. Selebihnya, hidup untuk melukis!
[...Selengkapnya]
Topeng Narimo Sampai Korea
Ketekunan membuat Narimo mencapai tangga keberhasilan. Karya topengnya pun sempat mampir ke Korea Selatan.
Puluhan topeng berjajar dan bergelantungan di Jatisobo RT 02 RW 06, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Itulah tempat Narimo dan istrinya, Supriyati, menyulap kayu sengon laut dan kayu jati menjadi beragam jenis topeng.
Dari tangan pasangan suami istri itu lahirlah topeng-topeng yang dipergunakan untuk menari. Ada Kelono, Raja Molo, Sekartaji, Panji, Pentul, Tembem, Cakil, Buto Terong, Punakawan dan Durno. Topeng-topeng lainnya yang digunakan untuk asesori interior antara lain ada motif Merak, Bunga, Bulan Sabit dan Badak. Sementara topeng-topeng buat sovenir, gantungan kunci dan bandul kalung lebih beraneka ragam: dari topeng yang bermotif bunga hingga rojo molo.
Narimo, 43 tahun, adalah prototipe orang kampung yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya Kabupaten Klaten, ia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, minat seninya bertambah hingga memutuskan untuk belajar membuat topeng. Kala itu, ia hijrah ke Kota Surakarta, belajar membuat topeng kepada Bambang Suwarno, dosen STSI Solo Bagian Pedalangan.
Sambil terus menerus menggeluti topeng, Narimo tak menyia-nyiakan kesempatan ajakan budayawan Murtijono untuk turut aktif di Taman Budaya Surakarta (TBS). Ia juga bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga tamat pada 1989. Tak heran bila Narimo kian matang dalam berkarya. Lantas, topeng-topeng karya Narimo muncul ke pasaran.
Sejak menikah dengan Supriyati, gadis tamatan SMA Bakti Praja Bekonang-Surakarta, pada 1994, karya topeng Narimo kian mewarnai pasar. Dari Solo, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, hingga ke mancanegara.
Meski Narimo orangnya ntrimo ora neko-neko (menerima apa adanya), ayah dua anak ini tak berarti harus pasrah. Untuk memasarkan karya topengnya, Narimo mengikuti pameran di setiap ada kesempatan. Bahkan, tak hanya di Indonesia, ayah dari Aji Ahmad Muhtarom (11) dan Arfian Panji (3) ini pernah mengikuti pameran di Korea Selatan pada Oktober 2007. Sepekan di sana, 30 topeng motif kelono, gunung sari dan merak besar, yang dibawanya habis terjual.
Pasangan suami istri, Narimo-Supriyati, memang kompak. Keduanya saling melengkapi dalam menempuh kehidupan, termasuk dalam usahanya membuat kerajinan topeng. Selama proses pembuatan topeng dikerjakan berdua: dari menatah kayu menjadi topeng, mengukir, menyungging, mengamplas, mendempul, mencat putih, mengamplas lagi, mengecat warna muka dan ornament. Namun khusus memberikan alis (ornamen di atasnya dicat dengan menggunakan tangan) dikerjakan Narimo.
Dalam sebulan, galeri Panji milik Narimo dan istri mampu memproduksi topeng Rojo Molo 4 biji dengan harga Rp 600 ribu per biji; 8 Hanoman, 4 Garuda Jaksa, dan 15 kelono @Rp 400 ribu-500 ribu; 20 Sekartaji dan Panji @Rp 300 ribu; 30 Tembem dan Pentul @Rp 150 ribu; dan ratusan asesori, gantungan kunci dan bandul kalung @Rp10 ribuan. “Baru-baru ini Pak Walikota Solo memesan 500 buah bandul kalung motif rojo molo,” ujar Supriyati. Mengapa rojo molo? “Sebab semua molo dimakan oleh rojo molo,” tambahnya.
Topeng yang merupakan rupa khusus ukiran kayu telah menjadi bagian hidup keluarga Narimo. Bagi Narimo, membuat topeng tak hanya bisnis semata namun sekaligus turut melanggengkan tradisi.
Walaupun berada di sepanjang gugusan pulau Ibu Pertiwi dan bisa ditemukan pada upacara-upacara pemakaman dan sebagainya, bentuk topeng yang paling gampang dikenal adalah topeng yang dipergunakan pada tarian wayang topeng Jawa dan Bali.
Pengenalan wayang topeng itu disifatkan pada kedatangan Sunan Kalijaga, salah seorang walisongo abad XV seiringan delapan handai taulan lainnya memutus berdomisili di buana Nusantara (pulau Jawa) agar memancarkan agama Islam. Namun beberapa tarian adalah warisan tata adab Hindu-Buddha.
Penari-penari menyelenggarakan cerita wiracarita India seperti misalnya epos Mahabharata atau hikayat-hikayat khas setempat dan topeng dimanfaatkan guna mewakili para tokoh. Topeng-topengnya berpusparagam dari topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos hingga topeng Jawa Timur yang ukirannya sangat berliku-liku.
Jadi, tak sekadar berbisnis, membuat topeng adalah juga memelihara budaya yang adiluhung. Dengan begitu, Narimo dan Supriyati adalah pemelihara budaya yang hidup dari ketekunannya bergelut dengan topeng. Mau berkunjung ke Galeri Panji? Dari Solo, ambil jurusan Sukoharjo. Nah, begitu ketemu Pasar Bekonang, itu pertanda sudah dekat: tinggal beberapa kilometer lagi sampai kedapatan SD Jatisobo. Nah di samping SD itulah Narimo dan istri menyulap kayu sengon laut menjadi topeng-topeng yang menawan.
Kampung Topeng
Bermula dari pertanian, kini sawah menjadi sambilan. Begitulah kehidupan penduduk Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Setelah mengembangkan kerajinan topeng batik kayu sejak pertengahan tahun 1980-an, kini penduduk dusun itu mulai memetik hasilnya. Kerajinan batik kayu dari Bobung tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga sudah mendunia.
Sejak dicanangkan sebagai desa wisata tahun 2000, kegiatan pembuatan kerajinan berbahan baku kayu semakin meningkat. Wisatawan yang mampir ke perajin-perajin yang ada di Bobung dapat melihat dari dekat, bahkan ikut belajar mengerjakan kerajinan kayu yang akan dibeli. Hampir setiap penduduk dusun yang terletak lebih kurang 30 kilometer arah timur Kota Yogyakarta ini mahir membuat kerajinan dari kayu, tak terkecuali anak-anak yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak atau sekolah dasar.
Kerajinan batik kayu di Bobung berawal dari kebutuhan topeng kayu untuk lakon-lakon dalam seni tari Topeng Panji yang berkembang di dusun ini sejak tahun 1960-an. Tari tersebut merupakan pengembangan dari seni pedalangan yang menghadirkan topeng sebagai media berkesenian. Sunan Kalijaga merupakan pencipta topeng dari kayu yang kemudian dikenal sebagai topeng Panji itu, dengan cerita yang diambil dari pakem wayang Gedog.
Selain bentuk topengnya khas, mirip dengan penggambaran tokoh wayang purwa yang matanya tertarik ke atas dengan hidung lancip, motif batik yang mendasari pewarnaan topeng menambah nilai keindahan hasil kerajinan dusun yang letaknya sekitar 1,5 km dari Jalan Raya Wonosari ini. [OI, profil usaha, Tahun III, Edisi 111, 4-10 Agustus 2008]
[...Selengkapnya]
Bisnis Kemilau Putri Malu Dunia
Siapa tak mengenal batu permata? Benda yang berkilauan ini digemari banyak orang: dari preman hingga presiden. Wajar bila bisnis ini sangat menjanjikan.
Selama 30 tahun, Abd Nasir H menggeluti bisnis batu permata. Dari sini, pria separoh baya itu hidup dan menghidupi keluarganya. Tepatnya, di Jl A Yani Km 39,8 RT 01 RW 02 No. 2 Kel Jawa Martapura, Kalimantan Selatan, ia mengendalikan usahanya. Sepanjang berbisnis batu permata sejak 1978, Nasir –begitu ia kerap disapa, tak pernah kekurangan pembeli. Omsetnya tak kurang dari Rp 30 juta per bulan. “Itu dalam keadaan pasar tak ramai,” ujar Nasir. Tentu saja kalau pasar lagi ramai omsetnya bisa berlipat. “Biasanya pada hari-hari menjelang Idul Fitri, Natal dan tahun baru, permintaan berlipat,” tambahnya.
Meski sudah puluhan tahun berusaha di bidang batu permata dengan pelanggan yang sudah terbilang cukup, Nasir tak berpangku tangan mengandalkan penjualan di tokonya yang terletak di Pasar Niaga Baru Blok A No. 11, Martapura, Kalimantan Selatan. Namun ia terus mengembangkan pasarnya dengan mengikuti pameran di berbagai tempat. Kota Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Surakarta-Jawa Tengah, dan berbagai kota lainnya, pernah ia singgahi berjualan di tengah pameran. “Kalau pas lagi beruntung, barang yang saya bawa terjual habis. Bahkan seringkali ada peminat baru yang mengorder,” kata Nasir, yang mengaku membawa barang-barangnya ke dalam pameran senilai tak kurang dari Rp 100 jutaan.
Harga batu permata di tempat Nasir bervariasi. Gelang asesori ada yang berharga Rp 10 ribu, lalu cincin jenis batu kelulud dengan pengikat perak dan suasa (emas muda 33%) yang dikombinasi berharga Rp 325 ribu, sementara cincin emas muda yang dikombinasi dengan berlian bermata satu 0,20 karat berharga Rp 4 jutaan. Bahkan, ada batu permata dengan diameter 2 sentimeter berharga puluhan juta rupiah, serta harga berlian yang mencapai Rp 50-an juta lebih.
Untuk memenuhi kebutuhan bisnis, Nasir juga mengolah sendiri batu-batu permata itu menjadi cincin, gelang, kalung dan asesori dalam berbagai model. Ia melibatkan beberapa pengrajin yang bekerja secara lepas. Ongkos bikin Rp 3 ribu untuk bentukan cincin biasa. Seorang pekerja bisa menyelesaikan 10 cincin per hari. Sementara cincin dengan kombinasi emas, ongkos bikinnya sampai Rp 50 ribu. Seorang pengrajin bisa menyelesaikan 2 biji per hari. Jadi, selain menguntungkan buat diri Nasir, para pengrajin yang tinggal di dekat rumahnya juga menuai hasil: per orang Rp 30 ribu-Rp 100 ribu per hari.
Jenis-jenis batu permata yang dibisniskan Nasir adalah Pirus dan Merah Siam dari Timur Tengah. Kalimaya dari Banten dan Australia. Krista dari Austria. Jamrud dari Rusia dan India. Merah Delima dari Srilanka dan Afrika. Mata Kucing dan Yakut Kuning dari Srilanka. Safir dari Srilanka dan Bima. Rubi dari Afrika. Juga batu akik dari Kalimantan, yang lebih keras dari batu akik Jawa. Selebihnya, “Saya dagang berbagai macam jenis berlian dan asesori yang terbuat dari buah fukaha asal Timur Tengah,” ungkap Nasir.
Wajar, bisnis batu permata atau biasa disebut batu mulia ini sangat menjanjikan. Peminatnya datang dari berbagai kalangan, dari preman hingga presiden. Tentu saja dengan ragam alasan keperluan sang peminat: ada penggemar batu permata yang menikmati kemilau, bentuk, desain, atawa fisik batu permata yang indah itu, serta ada pula penggemar yang hobi mengoleksi batu permata karena berkenaan dengan mitos keberuntungan.
Mengenai mitos batu mulia yang membawa keberuntungan tak pernah hilang sejak zaman Mesir kuno hingga sekarang. Perhatikan saja, mulai dari preman, pelawak, ibu rumah tangga, peragawati, hingga raja dan presiden, mereka menyukai dan memakai batu mulia. Lantas, apa daya tarik batu ini?
Konon, orang yang mengenakan batu mulia akan dikasihi oleh lawan jenis. Ada juga batu yang membuat awet muda, penyembuh penyakit, bahkan ada yang percaya batu jenis tertentu bisa membuat pemakainya kebal senjata. Di luar itu, tentu keindahan dan efek psikologis yang terpancar dari batu mulia membuat orang jatuh cinta.
Secara umum, batu mulia terdiri atas dua kelompok utama, yaitu batu permata mulia (precious stone) dan batu permata setengah mulia (semiprecious stone). Di antara batu permata mulia, hanya intan atau diamond yang ditemukan secara ekonomis dan ditambang sejak abad ke-16, sementara yang lainnya belum maksimal, seperti merah delima (ruby), safir (sapphire) dan zamrud (emerald).
Berbeda dengan batu permata mulia, batu permata setengah mulia ditemukan di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Jenisnya sangat beragam dan keindahannya tidak kalah dengan batu mulia sejenis dari luar negeri seperti opal, kecubung, akik, krisopras, krisokola, dan lain-lain. Karena keindahannya, maka 24 jenis batu mulia asli Indonesia telah diabadikan dalam perangko Republik Indonesia selama 5 tahun berturut-turut, sejak 1997 sampai 2001.
Di dunia ini tidak semua tempat mengandung batu permata. Di Indonesia hanya beberapa tempat yang mengandung batu permata, antara lain di Pulau Kalimantan berupa intan (berlian). Baru-baru ini ditemukan intan 200 karat yang dikenal dengan Intan Putri Malu, di Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalsel pada 1 Januari 2008 yang beritanya sampai menghebohkan negeri Jerman.
Pesona Batu Mulia
Sejak dahulu kala, batu mulia masih dipercaya sebagai lambang zodiak. Salah satunya, batu yang berhubungan dengan bintang kelahiran masih dipakai orang. Lambang zodiak pada batu adalah Aquarius = Kecubung, Pisces = Turquoise, Aries = Intan, Taurus = Zamrud, Gemini = Agate Cancer = Mirah delima, Leo = Sardonix, Virgo = Safir, Libra = Opal, Scorpio = Topaz, Sagitarius = Turquoise, dan Capricorn = Agate.
Selain jenis batu mulia bervariasi, warna batu mulia juga sangat beragam, mulai dari merah, kuning, hijau, biru, atau putih. Kalau dahulu batu mulia hanya terkenal karena digunakan untuk cincin, kini aneka perhiasan seperti gelang, kalung, anting, bros, pin atau tasbih juga dibuat dari batu mulia. Untuk menambah keindahannya, batu mulia tersebut didesain dan digabungkan dengan berlian, emas, dan emas putih.
Di antara berbagai jenis batu mulia, intan berharga paling mahal dan paling tinggi nilainya. Batu ini merupakan batu yang paling keras dan memiliki cahaya paling terang di antara batu mulia lainnya karena mempunyai susunan kristal kubus. Terdapat sembilan unsur kristal yang dimiliki oleh intan. Hal inilah yang menyebabkan pantulan-pantulan sinar yang masuk ke dalam ruang intan tidak dibiaskan ke satu arah, akan tetapi ke sembilan bangun kristal ruang dan membuat kilauan indah! [OI, profil usaha, Tahun III, Edisi 110, 28 Juli-3 Agustus 2008]
[...Selengkapnya]
Miniatur Sepeda Ontel Haji Hasyim
Bisnis miniatur sepeda ontel menggeliat. Pengrajin kuningan pun beralih memproduksi miniatur sepeda ontel dan berbagai miniatur lainnya.
Plat dan besi disulap wujudnya menjadi sepeda ontel. Haji Hasyim Sugeno, seorang pengrajin logam asal Desa Pahlandak, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mempermak plat dan besi yang kadang didapat dari barang loakan itu menjadi sebuah miniatur sepeda yang unik dan antik. Karya seni hasil sentuhan tangan lelaki lulusan STM 1997 itu kini semakin banyak diminati sebagai cinderamata.
Hasil karya Hasyim mirip sepeda biasa dalam ukuran mini. Layaknya sepeda asli, pedal sepeda yang tingginya hanya 40 sentimeter dengan berat sekitar setengah kilogram itu bisa diayunkan, hingga rodanya yang juga memiliki jari-jari halus turut berputar. Agar terkesan mewah, miniatur sepeda itu dilapisi dengan cairan mengkilap berwarna emas atau perak. Hal itulah yang membuat kreasi Hasyim menarik.
Sepeda unik karya Hasyim banyak diminati konsumen baik di dalam maupun dari luar negeri. Sepeda-sepeda supermini itu kini juga bisa diperoleh di kawasan Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Menurut Hasyim, sepeda unik berbahan baku besi tiang pancang itu bahkan telah mampu menembus pasar di negara Eropa.
Dari usahanya membikin miniatur sepeda ontel, Hasyim menangguk omset Rp 40 juta lebih per bulan. Angka ini dihitung dari kuantitas produksi yang mencapai 300 buah per bulan, dengan kisaran harga Rp 90 ribu sampai Rp 300 ribu per buah. Sementara itu, dengan usahanya ini, Hasyim mempekerjakan 15 tenaga kerja dari lingkungan sekitar dengan upah per orang Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per hari kerja.
Sejak 1999, Hasyim memulai usahanya membikin miniatur sepeda ontel, lantas beragam jenis miniatur pun dibikin seperti miniatur becak dan andong. Jenis miniatur sepeda yang apik dan antik ini terdiri dari sepeda perempuan kecil dan besar, sepeda laki-laki kecil dan besar, sepeda mandarin kecil dan besar, dan sepeda keranjang.
Dari mulut ke mulut para pembeli, pasar miniatur sepeda dan berbagai jenis miniatur buatan Hasyim meluas hingga ke berbagai kota di Indonesia. Lebih-lebih ketika Hasyim mulai aktif ikut berpameran di berbagai kota seperti Semarang, Jakarta dan kota-kota lainnya.
Dengan berpameran, ada beberapa pembeli asing yang kemudian membawa hasil karya Hasyim ke luar negeri. Lantas, pasar pun terbuka, apalagi organisasi ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri pun ikut memamerkan miniatur sepeda ontel dan sejenisnya.
Pada Pameran Dagang Poznan (Poznan Fair), yang menjadi the real place for entrepreneurship bagi Polandia, Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Warsawa menyambut kesempatan itu ketika diminta untuk turut bersama KBRI Warsawa berpartisipasi dalam pameran Tour Salon, pada tahun 2007. Kala itu temanya promosi pariwisata Indonesia, sambil promosi barang-barang kerajinan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya di kota Poznan ini selalu diadakan pameran tourism. Pada tahun 2007 dengan tajuk ”Tour Salon 2007”, pameran diselenggarakan mulai tanggal 24 – 27 Oktober. Dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat Polandia tentang potensi pariwisata Indonesia maka KBRI Warsawa turut berpartisipasi dalam pameran tersebut. Pameran ini diikuti sekitar 8000 exhibitor, termasuk 200 peserta pameran dari 38 negara, antara lain Indonesia, India, Costa Rica, Republic of South Africa, Turkey, Brazil, Venezuela, Peru, Syria, Finland, dan lain-lain. Pameran ini juga diliput sekitar 400 jurnalis koran, majalah, TV, radio dan online websites.
DWP KBRI Warsawa pada kesempatan ini membuka mini bazar kerajinan pada 26-27 Oktober untuk turut mempromosikan barang-barang kerajinan khas Indonesia. Sekitar 36 jenis barang kerajinan tangan asal Indonesia dijual dengan produk andalan berupa miniatur sepeda, becak dan andong. Kehadiran mini bazar tersebut mendapat respon positif dari pengunjung. Tak sedikit pengunjung yang singgah sekadar melihat-lihat atau membeli produk kerajinan tersebut. Hingga akhir bazar sekitar 90% barang kerajinan habis terjual. Rata-rata pengunjung menyukai barang kerajinan yang unik dengan harga yang tidak terlalu mahal.
Nah, pasar miniatur sepeda ontel pun kian meluas bukan? Maka, tak salah kalau kemudian Hasyim lebih fokus memproduksi miniatur sepeda ontel yang sebagian besar garapannya berukuran panjang 45 sentimeter, tinggi 28 sentimeter, dan warna hitam bervariasi kecoklatan (ada juga yang berwarna keemasan dan keperakan). “Peluang pasar lebih menarik, hingga saya beralih ke kerajinan miniatur sepeda ontel dan sejenisnya,” ujar Hasyim.
Sebelum menekuni usaha pembuatan miniatur sepeda ontel dan sejenisnya, sejak remaja Hasyim sudah terlibat dalam dunia usaha. Ayahnya adalah pemilik “Permadi Kuningan”, yang memproduksi berbagai asesori interior dan ekterior terbuat dari kuningan. Sejak berdiri pada 1989, Permadi Kuningan terus menggeliat hingga kemudian melorot produksinya pada tahun 1999 karena kesulitan mendapatkan bahan baku.
Karena itu, pewaris Permadi Kuningan, yakni Haji Hasyim Sugeno segera menangkap peluang lain yakni membikin miniatur sepeda ontel pada 1999. Dan, pasar pun menyambutnya dengan banyaknya order!
Nikmatnya Sepeda Ontel
Sepeda ontel yang telah berabad-abad menjadi alat transoportasi itu, memang menyehatkan dan tentu saja tidak menimbulkan polusi. Karena itu, beberapa negara di dunia memberikan tempat khusus bagi beroperasinya sepeda ontel ini. Salah satunya adalah Shenzen-Cina.
Shenzen adalah salah satu kota terbesar di Cina, setelah Beijing dan Shanghai. Luasnya sekitar dua ribu dua puluh kilometer persegi, atau tiga kali lebih luas dibanding kota Jakarta. Dan penduduknya sekitar tujuh juta jiwa.
Sembilan puluh lima persen penduduknya adalah kaum migran yang datang dengan beragam latar belakang budaya. Sehingga membuat Shenzen menjadi kota urban yang moderen dan maju.
Meski begitu, bersepeda sebagai tradisi lama di Cina tak sirna. Kendati transportasi sudah begitu canggih, mengemudikan sepeda di sana aman dan nyaman. Pemerintah kota melarang keras penggunaan sepeda motor di jalan-jalan kota. Sebagai gantinya, adalah sepeda ontel. Benda yang diciptakan berabad-abad lalu itu masih setia menemani penduduk kota Shenzen.
Tetapi, di Indonesia berbeda. Kebiasaan bersepeda yang dulu digemari nyaris sirna. Kota Yogyakarta yang dulunya terkenal dengan orang-orangnya yang setia bersepeda, hingga muncul banyak komunitas penggemar sepeda –kini hilang ditelan zaman, yakni zaman kendaraan bermotor. Apalagi di kota-kota lainnya seperti Jakarta, orang bersepeda semakin terpinggirkan.
Namun demikian, rasa rindu bersepeda sebenarnya masih bergejolak. Ini terbukti dengan banyaknya orang Indonesia yang melampiaskan hasratnya itu dengan mengoleksi miniatur sepeda ontel! [OI, Profil Usaha, Tahun III Edisi 109, 21-27 Juli 2008]
[...Selengkapnya]
Lukisan Pelepah Pisang dari Rembang
Bosan jadi kuli, Tulus Setia membangun usaha sendiri. Delapan tahun berjalan, kehidupan keluarganya pun tercukupi dengan hasil karya lukisnya yang berbahan pelepah pisang.
Bergelut dengan gabus yang dirangkai menjadi aneka leter (tulisan) dan logo yang cantik membuat Tulus Setia memendam cita-cita berhenti dari pekerjaannya itu. Pasalnya, selama tujuh tahun terlibat dalam pembuatan tulisan dan logo di pameran-pameran di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Jakarta Convention Center (JCC), ia hanya menjadi kuli (buruh) bagi orang lain di beberapa stand yang berpameran. Sementara itu dalam benaknya bergejolak, “Kapan saya bisa berpameran sendiri dan bukan menjadi kuli dalam pameran,” kenang Tulus Setia.
Mimpi memiliki usaha sendiri pun tak terbendung. Setelah tujuh tahun jadi kuli di Jakarta, pria asal Rembang, Jawa Tengah, ini memutuskan kembali ke kampung halamannya dengan satu tekad: berkarya dan berusaha sendiri. Pada tahun 2000, kegemaran masa kecilnya dikembangkan, yakni kebiasaan membuat prakarya seukuran bingkai foto 10 R dengan bahan pelepah pisang (Jawa: debog).
Ceritanya, sewaktu Tulus Setia masih duduk di kelas 1 SD, ia terbiasa membantu mengerjakan prakarya kakaknya yang bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru. Saat itu, kakaknya hobi membuat prakarya (pekerjaan rumah dari sekolah) yang berbahan baku pelepah pisang. Perjumpaannya dalam setiap pengerjaan prakarya kakaknya, membuat Tulus membiasakan diri membuat prakarya serupa pada saat ia duduk di kelas 6 SD. Setamat SMA 1991/1992 Tulus merantau ke Jakarta hingga tertambat dalam pekerjaan yang juga berbau seni: membuat leter dan logo dari gabus.
Nah, hobi yang disukai sewaktu kecil itu menjadi ide berkarya Tulus lima belas tahun kemudian. Dengan bahan pelepah pisang, Tulus mengembangkan prakaryanya sewaktu kecil menjadi lukisan yang apik. Pelepah pisang yang sudah dikeringkan itu, ia buat menjadi lukisan: ada wayang, realis dan pemandangan. Lukisan debog bikinan Tulus terdiri dari beberapa ukuran mulai dari 25x30 sentimeter yang dijual dengan harga Rp 150 ribu hingga ukuran 100x120 sentimeter dengan harga jual Rp 2 juta lebih.
Dalam sebulan, suami H Haryanti ini mampu menghasilkan puluhan lukisan ukuran kecil dan sedang serta dua lukisan berukuran besar. Sementara tingkat penjualan rata-rata 1 lukisan berukuran besar dan beberapa ukuran kecil per bulan. “Yah.. cukup lah buat memenuhi kebutuhan anak istri,” ujar ayah dari Bernika Ifada (2) dan Taka Kesawa (1) ini.
Mulanya Tulus tak begitu memerhatikan aspek pasar. Ia berjalan mengalir saja memasarkan hasil karya seninya itu, terutama bergantung pada para pembeli yang datang ke galerinya yang diebri nama Kelaras Art di Jl Gajah Mada No. 6 Banyudono, Rembang. Barulah pada 2003, ia mulai aktif ikut tampil di pameran. Awalnya ikut berpartisipasi dalam pameran Gebyar Rembang yang digelar setiap bulan Junis, lalu berturut-turut hampir setiap tiga bulan sekali ikut pameran di berbagai tempat antara lain di Tuban, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta.
Dari situlah jangkauan pasar lukisan debog karya Tulus kian melebar. Lukisan debog dengan menampilkan aneka cerita wayang seperti keluarga Pandawa, keluarga kerajaan sedang menaiki kereta kencana, hingga yang realis berupa adu jago dengan ditonton banyak orang dari yang duduk-duduk sampai berdiri sambil mengapit sepedanya, semakin menjangkau ke mana-mana. Setidaknya ratusan lukisan karya Tulus telah ikut mewarnai khazanah karya lukis berbahan baku pelepah pisang di negeri Indonesia.
Namun begitu, yang paling menyenangkan buat Tulus adalah bahwa karya-karya seninya itu sudah mulai banyak dinikmati orang. “Dengan semakin meluas pasar lukisan debog ini, maka berarti kian banyak orang menikmati hasil karya saya. Itu menyenangkan,” katanya. Kesetiaan Tulus Setia membuat lukisan debog terus ia pupuk dengan membuat galeri yang berada di salah satu ruang di Hotel Kartini Rembang.
Hotel dengan 7 kamar (total izin adalah 9 kamar) yang baru beroperasi sejak November tahun lalu ini adalah milik Tulus Setia. Keranjingan usaha yang merupakan cita-cita lamanya ketika menjadi kuli itulah yang membuat naluri Tulus terasah hingga terwujudlah hotel mungil bertarif Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu per malam. Dan dengan naluri usahanya pula Tulus mulai pintar menggaet pelanggan. Terbukti sejak beroperasi, tak pernah ada kamar kosong tanpa penginap. “Alhamdulillah, semua kamar selalu terisi,” papar pria yang sedikit banyak selaras bersesuaian dengan nama yang disandangnya: tetap Tulus dan Setia!
Bagi Anda yang kebetulan melakukan perjalanan di sekitar pantura timur, begitu memasuki Kabupaten Rembang tidaklah sulit menemukan Hotel Kartini yang nyaman tetapi berbandrol murah. Tentu saja Anda bisa menikmati kelebihan hotel ini dengan menikmati lukisan debog karya sang pemilik hotel.
Namun, lagi-lagi, alasan Tulus mendirikan hotel juga didasari oleh ketulusan dan kesetiaannya dalam menjiwai rasa-karsa-karya seni debog yang menjadi fokus berkreasi. Dengan memajang karyanya di hotel, tentu akan semakin meluaskan pasar hingga karya Tulus dinikmati lebih banyak orang, bertambah dan bertambah.
Pelepah Pisang Banyak Guna
Siapa tak kenal pelepah pisang. Pelapah bagian tengah dalam, berwarna putih-kuning dengan banyak serat, biasa digunakan oleh para petani sebagai penutup pembenihan padi agar tidak tersengat sinar matahari. Pelepah bagian tengah, berwarna kuning-hijau dengan sedikit serat, biasa digunakan pula oleh para petani untuk keperluan yang sama serta digunakan oleh para nelayan buat alas menaruh ikan dan alas batik cap bagi pembatik. Dan kedua lapisan pelepah pisang bagian dalam, tengah dalam dan tengah itu (dalam bentuk gelondongan), juga biasa digunakan buat alat membajak sawah tradisional.
Sementara pelepah bagian luar, berwarna hijau-ungu dengan banyak serat dan kuat, berguna buat banyak hal. Dari barang kerajinan, bahan baku pelepah pisang paling luar ini bisa mempercantik produk keramik yang menggunakan ornamen pelepah pisang. Pelapah pisang juga bisa dibuat pernik-pernik unik seperti buku menu di restoran-restoran, buku tamu hotel, blocknote, tempat sovenir, keranjang pakaian, asbak, kuda-kudaan, bingkai foto, pot bunga, dompet, tas, sepatu, dan boneka.
Pelepah pisang memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri setelah diproses menjadi barang kerajinan. Baik melalui model penempelan, anyaman maupun untuk ornamen produk kerajinan lainnya. Tekstur dan warna pelepah pisang (cenderung coklat muda setelah dikeringkan) unik dan alami. Produk lain yang dikombinasi dengan pelepah pisang juga terlihat lebih menarik dan memiliki nilai jual tinggi. Debog pancen akeh gunane! [OI, Profil Usaha, Tahun III, Edisi 108, 14-20 Juli 2008]
[...Selengkapnya]
Mebel Akar Jati Diminati Luar Negeri
Hasil kreasi pengrajin akar pohon jati banyak diminati pembeli dari luar negeri. Karena memiliki nilai seni tinggi dan produk yang beragam, para pelanggan justru didominasi oleh para pedagang dari Inggris dan Belanda.
Bisnis mebel dari bahan akar pohon jati di Tulungagung, Jawa Timur, banyak diminati pedagang mancanegara. Ini karena hasil kreasi pengrajin akar jati tersebut memiliki nilai seni tinggi dan produk yang beragam.
Menurut Muhammad Ali (30), pemilik usaha mebel akar jati di Jalan Raya Doplangan Sepur Buntaran, Rejotangan, Tulungagung, usaha mebel dari bahan akar pohon jati yang digelutinya sejak tahun 1992 dengan modal awal Rp10 jutaan, kini meningkat hingga ratusan juta.
Ia mengatakan, sebagian besar pangsa pasarnya datang dari luar negeri. Bahkan, pesanan dari luar negeri dipastikan per bulannya berkisar 20-an kursi dan tempat asesori interior, setara dengan Rp 10 juta. Namun jika dirata-rata omset per bulan mencapai Rp 34 juta, sedangkan musim ramai seperti pada bulan Juli omsetnya bisa meningkat hingga 40 persen.
Muhammad Ali adalah penerus usaha akar jati yang dirintis ayahnya, Purnomo. Awalnya, pada 1992, usaha mebel yang digeluti Purnomo yang telah berjalan bertahun-tahun itu terhenti karena bahan baku dengan harga jual mebel tak lagi sebanding, lalu muncullah ide menggunakan akar pohon jati sebagai bahan baku. Lantas, jadilah semua jenis mebel Pak Purnomo berbahan baku akar pohon jati.
Tak disangka-sangka, “Mebel dari akar pohon jati direspon pasar. Bahkan, pelan-pelan pasarnya meluas serta pedagang dari Inggris dan Belanda menjadi langganan,” kata Muhammad Ali yang sejak lima tahunan lalu meneruskan usaha ayahnya itu.
Dua bulan sekali, pedagang dari Inggris selalu mendatangi bengkel kerja Muhammad Ali berbelanja kursi-kursi berukuran dobel, sebanyak 32-an buah (satu kursi dijual dengan harga Rp 400 ribu) atau satara dengan Rp 14 juta. Sementara pedagang dari Belanda selalu datang enam bulan sekali berbelanja tempat asesori interior seharga Rp 18 jutaan.
Sementara itu, pasar dalam negeri terutama di sekitaran daerah Jawa Timur rata-rata 2 kursi per hari. “Kalau lagi ramai, bisa 15 kursi plus beberapa meja terjual per harinya,” ujar ayah dari Putri Elok Lestari (6). Belum lama ini, sebuah pondok pesantren di Malang membeli 100 kursi dan meja bikinan Muhammad Ali.
Jadi, peminat kayu limbah ini cukup banyak karena kualitas kayunya sangat bagus dan tua, tetapi harganya relatif murah. Selain itu tentu karena nilai seninya sangat tinggi.
Kayu jati memang merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan satu dan kelas keawetan satu. Kayu ini juga sangat tahan terhadap serangan rayap.
Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk membuat mebel. Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak. Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah.
Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas.
Sekalipun relatif mudah diolah, jati terkenal sangat kuat dan awet, serta tidak mudah berubah bentuk oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan juga sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Tukang kayu di Eropa pada abad ke-19 konon meminta upah tambahan jika harus mengolah jati. Ini karena kayu jati sedemikian keras hingga mampu menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Manual kelautan Inggris bahkan menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok yang terbuat dari jati karena dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan.
Pada abad ke-17, tercatat jika masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan akar jati sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami untuk barang anyaman mereka. Di Jawa Timur, masyarakat Pulau Bawean menyeduh daun jati untuk menghasilkan bahan pewarna coklat merah alami. Orang Lamongan memilih menyeduh tumbukan daun mudanya. Sementara itu, orang Pulau Madura mencampurkan tumbukan daun jati dengan asam Jawa. Pada masa itu, pengidap penyakit kolera pun dianjurkan untuk meminum seduhan kayu dan daun jati yang pahit sebagai penawar sakit.
Jati Burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati Jawa. Namun, di Indonesia sendiri, jati Jawa menjadi primadona. Tekstur jati Jawa lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan jati dari daerah lain di negeri ini. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati Jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) sangat terkenal dan diburu oleh para kolektor di luar negeri.
Nah, semua yang ada pada pohon jati selalu berguna dan bermanfaat. Kayu, daun, bahkan akarnya juga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai jenis mebel dengan sentuhan karya seni yang apik. Tengoklah mebeler karya Muhammad Ali dan kawan-kawan yang bernilai seni tinggi itu.
Akar pun Sangat Berarti
Senso (gergaji mesin) menderu-deru. Suara tatar, tatah, beji, pasah, palu, ampelas, seperti musik perkusi terdengar di bengkel kerja Muhammad Ali hampir sepanjang hari. Tepat di tikungan pintu kereta Doplangan Sepur Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, bengkel akar jati milik suami Lilik Isdiawati (26) itu selalu ramai di hari-hari kerja.
Meski dikerjakan sendiri oleh Muhammad Ali, dengan dibantu istrinya, bengkel ini selalu bisa memenuhi permintaan pelanggan. Setiap hari Muhammad Ali bisa menyelesaikan 4 buah kursi atau 6 meja. Sementara pelibatan orang lain dalam bisnis Muhammad Ali adalah dalam hal mencabut akar dari dalam tanah yang diberi upah per akarnya Rp 50 ribu; lalu penggunaan alat transportasi mengantar akar ke bengkel atau mengantar mebel akar jati ke tempat pembeli.
Harga mebeler buatan Muhammad Ali beragam. Kursi Rp 350 ribu (ada juga yang harganya mencapai Rp 1.750 ribu), kursi dobel Rp 500 ribu, kursi malas Rp 750 ribu, meja Rp 400 ribu-Rp 1 juta, dan tempat asesori interior Rp 750 ribu.
Dari mana akar-akar kayu jati yang dipoles Muhammad Ali menjadi mebeler yang apik? Muhammad Ali membelinya ke pemilik perorangan atau Perhutani. Akar jati yang merupakan limbah kayu ini ia beli dengan harga bervariatif tergantung kualitas kayu dan besarannya, dari Rp 100 ribu hingga Rp 400 ribu. “Kalau harganya lebih dari Rp 500 ribu, saya nggak mau beli. Soalnya nanti susah jualnya,” ujar Muhammad Ali yang mengaku mengambil untung dari setiap jenis mebelernya seperti kursi Rp 50 ribu-Rp 75 ribu. [OI, Profil Usaha, Edisi 107 / Tahun III / Tanggal 07 Juli - 13 Juli 2008]
[...Selengkapnya]
Bikin Sopi Rezeki Tak Bertepi
Andai pasar sopi terbuka, mungkin masyarakat Sifnana hidup makmur. Bayangkan, setiap hari sebuah keluarga di Desa yang terletak tak jauh dari Saumlaki itu mampu menghasilkan 16 liter sopi dengan harga Rp 30 ribu per liter.
Menuju Desa penghasil sopi (minuman khas sejenis arak), cuma kira-kira 7 kilometer dari Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Desa Sifnana yang juga disebut sebagai pusat penyulingan sopi itu tak menampakkan masyarakatnya hidup makmur. Dilihat dari fisik bangunan rumah dan tampilan orang-orang yang menghuni desa tersebut tampak sederhana. Tak tergambar ada kemewahan di sana.
Namun, siapa sangka potensi ekonomi desa itu sangat besar. Dengan menyuling sagero (air perasan dari mayang kelapa) menjadi sopi, maka penghasilan sebuah keluarga tak kurang dari Rp 300 ribu per hari. Persisnya, setiap KK mampu memproduksi sopi tak kurang dari 16 liter per hari. Dengan harga per liter Rp 30 ribu, maka penghasilan yang didapat adalah Rp 480 ribu.
Sayangnya, pasar sopi tertutup. Masyarakat Sifnana yang telah berabad-abad membuat sopi itu dilarang memasarkan produknya ke luar rumah. Mereka hanya diperbolehkan menunggu pembeli yang datang. Oleh sebab itu pasar sangat terbatas, dan penghasilan pun terbatas. Hasil penyulingan sopi sebuah keluarga yang 16 liter per hari itu pun tak bisa dihabiskan dalam sehari. “Bisa-bisa sepekan baru habis,” ujar seorang penyuling sopi.
Menurut Bupati MTB BS Temmar, bagi masyarakat sopi adalah sumber pendapatan. Tapi bagi pengkonsumsi sopi adalah penyakit. Dua hal yang berbenturan. Apa jalan keluarnya? Tahun lalu Pemda MTB mengundang tim dari Universitas Sam Ratulangi Manado, karena mereka punya pengalaman mengolah sopi menjadi produk lain. Dan mereka sudah melakukan survei dan penelitian. Sayangnya sopi yang dihasilkan di MTB tidak cukup memadai untuk dikembangkan. Padahal Sulawesi Utara yang mampu memproduksi cukup besar, maka kemungkinan investasi mengolah sopi menjadi produk lain sangat terbuka. “Oleh karena itu dari pada kita ribut-ribut tentang sopi, ya kita kendalikan saja produksinya sambil mencari alternatif usaha lain,” kata BS Temmar.
Masalahnya, menuju alternatif lain itu butuh waktu. Membangkitkan usaha lain dengan meninggalkan sebuah usaha yang sudah berjalan secara turun temurun tidaklah mudah. Apalagi jenis usaha yang harus ditinggalkan tersebut adalah membuat sopi --sebuah usaha yang sebetulnya gampang mendatangkan untung, selain itu tentu karena alasan menjaga tradisi.
Sopi menjadi bagian dari model hubungan sosial masyarakat adat Maluku. Hubungan-hubungan sosial antar sesama itu di tertibkan melalui aturan-aturan adat dengan sanksi-sanksi bagi pelanggar. Jadi dalam aturan-aturan adat itu masyarakat dibina menjaga ikatan persaudaraan dan untuk mencapai partisipasi antar sesama, kerja sama dan saling membantu, menghargai dan saling memberi hormat serta mengindahkan seseorang pada tempatnya, mana yang tua dan mana yang muda. Dimensi kekeluargaan dan kekerabatan itu dengan muatan-muatannya terdiri dari Familia, Ain Ni Ain, Pela atau Teabel, Gandong, Masohi, Badati.
Sopi merupakan lambang persatuan dan kesatuan, sudah digunakan dalam berbagai upacara adat di Maluku sejak zaman dahulu. Kalau dalam upacara bikin-panas-pela, diisi dengan acara khusus, seperti makan patita dengan disajikan khusus makanan daerah, yang semuanya mengingatkan dan membuat hidup kembali persekutuan pela ini. Tiap dilakukan panas-pela itu dimaksudkan mengulang mengangkat peristiwa pertama ke hari ini, yang berarti mengingat dan mempererat ikatan pela itu. Panas pela ini di hadiri oleh kepala adat dari negeri-negeri berpela itu (Raja), tua-tua adat, anggoto-anggota Saniri Negeri, pimpinan agama, tokoh-tokoh seperti kepala mongare dan jujaro, para guru bersama rakyat yang datang dari negeri-negeri berpela itu.
Upacara adat panas pela ini masih dilakukan di Maluku dengan mengulang janji dan sumpah serta minum bersama dari satu gelas minuman sopi (dulunya di gelas itu biasanya dimasukan setetes darah pada sopi) sebagai tanda materai yang kuat pada ikatan pela itu dengan sanksi keras kepada yang melanggar atau merusak hubungan pela ini.
Jadi, mengapa produksi dan pemasaran sopi harus dihambat? Bukankah minuman sopi sebagai warisan leluhur adalah menjadi bagian dari tradisi dan juga mata pencaharian? Karena itu, mungkin jalan keluar itu adalah dengan mengemas sopi sedemikian rupa hingga pantas diekspor ke luar negeri. Kalau pun sopi harus diolah menjadi produk lain, beberapa jenis produk turunan sopi dengan kadar alkohol yang rendah masih tak terlalu mengganngu pengkonsumsi untuk dipasarkan. Begitu pula dengan sopi yang sudah disaring berkali-kali, baunya tak lagi menyengat dan rasanya tak sepanas sopi dengan kadar alkohol tinggi. Bahkan, rasa sopi bisa manis dengan kadar alkohol sangat rendah.
Jadi, masih banyak cara untuk mempertahankan tradisi penyulingan sopi sekaligus membuka pasar secara terbuka. Untuk menjaga agar pengkonsumsi tidak menjadi liar terkena pengaruh alkohol, rasanya pemerintah tidak harus membatasi produksi dan pasar para penyuling sopi.
Mewarisi Tradisi Bikin Sopi
Hari-hari Abraham Sesermudi penuh dengan semangat hidup. Pria beranak dua yang kerap dipanggil Ampi ini menjalani hidup apa adanya. Dengan keyakinan bahwa menyuling sopi adalah menjaga tradisi sekaligus dapat menuai penghasilan dari sana, Ampi sudah mantap memenuhi hari-harinya dengan menyuling sopi. Dan betul, Ampi memenuhi kebutuhan hidup dari membuat sopi. “Menyekolahkan anak, menafkahi istri dan bikin rumah, semua dari penghasilan membuat sopi,” ujar Ampi, jebolan SMA Negeri Saumlaki tahun 2001.
Pria kelahiran Desa Sifnana Kecamatan Tanimbar --menikah pada Februari 2005 ini, bersama kedua orang tuanya bertekad mewarisi kebiasaan nenek moyangnya membikin sopi. Karena itu, tiap hari Ampi memanjat pohon kelapa, mengambil mayang lalu diperas menjadi sagero (air perasan mayang kelapa). Dari kira-kira 48 mayang akan menghasilkan 80 liter sagero. Dari 80 liter sagero itu direbus di belanga selama satu jam, dan setelah itu uapnya akan menerobos melalui bambu yang memanjang (ke atas, lurus, ke bawah, lurus lagi, kira-kira 15 meter) berkelok-kelok hingga kemudian menetes ke botol minuman mineral (tempat menampung tetesan). Uap yang menetes pelan itu adalah sopi. Melalui penyulingan sederhana ini, Ampi mendapatkan 16 liter sopi dalam sekali produksi.
Nah, Ampi dan kedua orang tuanya itu rata-rata mampu menghasilkan dan menjual sopi 16 liter per hari. Tentu saja sang pembeli datang sendiri ke tempat produksi. Jadi, dengan harga jual sopi Rp 30 ribu per liter, pendapatan Ampi cukup tinggi bukan? [Profil Usaha, Opini Indonesia, Tahun III, Edisi 106, 30 Juni-6 Juli 2008]
[...Selengkapnya]
Patung Tumbur dari “Forgotten Islands of Indonesia”
Menyulap kayu hitam menjadi barang kerajinan yang apik. Itulah salah satu usaha masyarakat Desa Tumbur, berupa karya seni pahat. Kebiasaan ini melekat sejak berabad-abad silam.
Seperti nama desa di mana patung itu dibikin, maka nama patung yang dibuat dari kayu hitam (juga kayu salamudi dan kayu besi) hasil pahatan masyarakat Desa Tumbur, Kecamatan Wertamrian, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), pun diberi nama patung tumbur. Usaha pembuatan patung tumbur berlangsung secara turun temurun, dan menggambarkan aktivitas kehidupan manusia purba sejak ribuan tahun silam.
Hal ini tergambar dari aneka motif yang melukiskan kehidupan sebagai nelayan, petani, berburu, berperang dan acara ritual. Karena itu, karya pahatan warga Tumbur tak terbatas pada patung, tetapi ada juga hasil pahatan apik berupa perahu yang ditumpangi oleh beberapa orang yang menggambarkan etos kerja dan solidaritas yang mantap. Selain itu, ada produk asesori berupa kalung berbandulkan patung kecil nan elok.
Namun begitu, nama patung tumbur lebih populer. Mengapa demikian? Jawabannya mungkin karena ragam atawa motifnya lebih banyak. Ada patung tongkat dagu (persembahan), yang menggambarkan seorang kakek mempersembahkan suatu maksud kepada yang dianggap sebagai Tuhan agar mengabulkan kehendaknya.
Motif patung yang berdiri atau duduk sambil memegang tombak dan parang, menggambarkan pertahanan wilayah atau merencanakan perang dengan kampung lain untuk memperluas kekuasaan. Motif patung yang memegang tombak dan kepala manusia, menggambarkan menang perang dan sebagai buktinya membawa kepala manusia yang dibunuh. Motif patung yang sedang berdiri memegang kapak dan sebuah balok di pundak, menggambarkan seorang lelaki tua baru pulang dari hutan sambil membawa hasil usaha berupa sebuah balok.
Lalu, motif patung yang membawa busur, anak panah dan parang di pinggang, menggambarkan mata pencahariannya adalah berburu babi di hutan untuk menghidupi keluarganya. Motif patung keko kalabasa, menggambarkan seorang wanita baru pulang mengambil air dengan menggunakan wadah kalabasa. Motif patung yang sedang duduk silang kaki dan kedua tangannya bertopang dagu, menggambarkan kegembiraan seorang lelaki tua sedang duduk merenungkan nasib hidupnya. Motif patung yang berdiri memegang tombak dan silang salah satu kakinya di tombak, menggambarkan kegembiraan seorang tete tua (panglima perang) yang melampiaskan kepuasannya dengan membuat atraksi karena menang dalam perang.
Berikutnya adalah motif patung yang sedang duduk lipat kakinya dan kaki sebelahnya berdiri sambil memegang tempat minuman, menggambarkan seorang tete tua sementara duduk sambil minum sagero (tuak) di mana cangkirnya terbuat dari ruas bambu atau sasou (tempurung kelapa). Motif keko bakol, menggambarkan aktivitas seorang ibu yang baru pulang dari kebun sambil membawa umbi-umbian dan hasil kebun lainnya yang dimasukkan dalam bakul sebagai bahan makanan bagi keluarganya. Motif patung memegang parang dan kepala manusia, menggambarkan pada zaman dahulu orang yang pergi berperang harus membawa kepala manusia --setelah itu mereka berpesta sambil minum sopi (arak) kemudian kepala manusia tersebut dibawa ke hutan sebagai suatu persembahan kepada arwah leluhur dengan cara meletakkannya di bawah pohon besar.
Itulah sebelas motif patung tumbur yang penuh makna dari sejarah panjang MTB, yang berada di wilayah provinsi Maluku. Sebuah daerah yang memiliki keindahan panorama pulau-pulau dan wilayah lautnya ini, disebut oleh Nico De Jonge dan Toos Van Dijk (1995) “forgotten islands of Indonesia”.
Kabupaten MTB yang dibentuk berdasarkan UU No. 46 tahun 1999 ini memang tersusun atas gugusan pulau-pulau nan elok. Daerah ini memiliki wilayah seluas 125.442,4 Km2 yang terdiri lautan seluas 110.838,4 Km2 (88,37 %) dan daratan seluas 14.584 Km2 (11,63 %). Oleh karena itu filosofi pembangunan di MTB diarahkan dan dibangun dari laut ke darat dengan mendewakan laut dan bertumpu di darat.
Secara geografis, daerah ini berada pada posisi 6°- 8°.30' LS dan 125°.45' - 133°BT yang berbatasan langsung dengan Laut Banda, Laut Timor dan Lautan Arafura, Selat Ombai dan Selat Wetar, serta Laut Arafura. Topografi wilayahnya sangat bervariasi mulai dataran rendah, berbukit dan bergunung.
Keadaan alam nan elok membuat masyarakat MTB mampu menghasilkan karya seni pahatan yang juga elok dengan detail yang sempurna. Lihat saja hasil berbagai jenis kerajinan yang diproduksi di Desa Tumbur dan sekitarnya itu!
Dengan berbekal kapak, gergaji, pahat, pisau dan amplas, masyarakat Tumbur bisa menghidupi diri dan keluarganya dengan menyulap kayu hitam (juga kayu salamudi dan kayu besi) menjadi beragam motif patung, perahu dan asesori lainnya seperti kalung, bandul kunci dan sisir. Rata-rata produksi 1.500 buah per bulan. Setiap orang mampu menghasilkan 1 buah per dua hari. Jadi ada 100-an orang yang terlibat sebagai pengrajin. Kalau dirata-rata harga sebuah patung Rp 100 ribu, maka setiap pengrajin menghasilkan uang Rp 1,5 juta per bulan.
Menengok Patung Tumbur di Desa Tumbur
Melakukan perjalanan menuju Desa Tumbur, tidaklah sulit. Dari Ambon, naiklah pesawat Trigana Air jurusan Saumlaki, kira-kira ditempuh dalam 2 jam. Nah, dari Saumlaki, ibukota Kabupaten MTB itu, kita tinggal menuju lokasi pengrajin patung tumbur yang berjarak 27 kilometer.
Sesampai di Desa Wisata itu, kita bisa menyaksikan proses produksi. Kayu dibuat balok ukuran 12x10x150 cm atau 5x3x150 cm; balok dipotong sesuai panjang patung; lalu menggambar motif yang akan dipahat; memahat sesuai motif; menghaluskan dengan cara melimar, serut dengan pecahan kaca, lantas diamplas. Maka jadilah patung tumbur!
Patung tumbur tentu terdiri dari berbagai ukuran. Tinggi patung kategori 1 adalah ukuran 30 cm, bisa dibuat 29-33 cm. Tinggi patung kategori 2, ukuran 25 cm, bisa dibuat 24-26 cm. Tinggi patung kategori 3, ukuran 20 cm, bisa dibuat 19-21 cm. Tinggi patung kategori 4, ukuran 15 cm, bisa dibuat 14-16 cm. Lalu ukuran 10 cm untuk model-model modifikasi asesori seperti mainan kunci. Harga patung-patung ini berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung pada besar kecilnya ukuran patung.
Patung berukuran 15 cm Rp 15 ribu, 20 cm Rp 20 ribu, 25 cm Rp 25 ribu, 30 cm Rp 30 ribu, 50 cm Rp 50 ribu, 1 meter Rp 250 ribu; serta perahu 30 cm Rp 250 ribu, 40 cm Rp 350 ribu dan perahu panjang 1 meter Rp 500 ribu.
Sambil menikmati pemandangan pulau-pulau beserta lautnya yang indah sekaligus mengunjungi Desa Tumbur adalah pengalaman yang mengasyikkan. Di sana, kita akan mendapati banyak hal: panorama elok di wilayah perbatasan dan bisa berbelanja karya agung masyarakat Tumbur. [Profil Usaha, Opini Indonesia Tahun III Edisi 105, 23 Juni-29 Juni 2008]
[...Selengkapnya]
Menyulap Kaleng Bekas Jadi Burung
Burung kaleng buatan Kusnodin terbang ke mana-mana. Dari Magelang hinggap ke pulau-pulau besar Indonesia, hingga menclok ke mancanegara semacam Jerman, Austria dan Amerika Serikat.
Orang-orang biasa dengan penghasilan biasa-biasa saja: cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan, tampak lebih bersahaja. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan tanpa melupakan lingkungan sosialnya. Maka, sudah sewajarnya jika dari sana lahir sebuah budaya yang santun, guyup rukun, saling menghormati, saling membantu, alias damai, tenteram dan nyaman.
Dari sana pula kebiasaan menjaga lingkungan lestari, jalan-jalan dan sungai yang bersih, terus terawat. Tanpa banyak cakap, sebuah kerja kreatif pun lahir.
Kita sering melihat tempat sampah yang terbuat dari kaleng. Bentuknya seperti tabung. Di bagian atasnya berfungsi sebagai asbak dan di bagian tengahnya dibiarkan bolong berbentuk bundar. Bolongan ini sengaja dirancang untuk mempermudah orang membuang sampah. Tabung sampah berbentuk tabung ini biasa kita temukan di bank, mal dan tempat keramaian lainnya. Waktu kita mengantri di bank, maka kita berbaris memanjang dan dibatasi oleh sebuah pembatas. Pembatas itu juga terdiri dari beberapa tiang yang terbuat dari kaleng, di mana masing-masing tiang itu dihubungkan oleh seutas tali.
Kita juga sering melihat gemerlap lampu panggung? Tepatnya lampu panggung yang terdapat di kanan dan kiri panggung bagian depan. Lampu panggung itu seperti kubah dan disambung dengan sebuah tabung. Kita juga biasa melihat dandang, oven, pencetak roti dan seterusnya. Semuanya terbuat dari kaleng. Kita dapat menyaksikan para pengrajin kaleng tersebut. Usaha home industry yang mengandalkan kerja kreatif ini dapat ditemukan di daerah Magelang, Jawa Tengah.
Salah seorang yang mewujudkan kerja kreatifnya dan memperoleh penghasilan untuk menghidupi diri dan keluarganya, tentu tanpa melupakan kepedulian terhadap lingkungan sosial, adalah Kusnodin. Ia menyulap kaleng bekas menjadi aneka jenis burung (juga ayam jago). Karya-karya Kusnodin ini berkelas dan berkualitas. Buktinya, hasil karyanya menyebar ke mana-mana: di dalam negeri dapat dijumpai di hampir semua pulau-pulau besar Indonesia seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua; sementara para konsumen dari luar negeri seperti Jerman, Austria dan Amerika Serikat, mendapatkan berbagai jenis burung kaleng nan cantik ini melalui pihak ketiga.
Karena bahan baku aneka jenis burung yang dibikin Kusnodin umumnya berasal dari kaleng bekas, itu berarti ia telah menyelamatkan lingkungan dari pengrusakan. Otomatis penduduk yang tinggal di sekitar rumah Kusnodin tak lagi membuang kaleng bekas, melainkan menjualnya ke tempat usaha pria yang memulai menyulap kaleng bekas menjadi aneka jenis burung itu pada 1987.
Pada tahun itu, 1987, Kusnodin memantapkan diri memulai bergelut di dunia kerajinan, terutama kerajinan kaleng. Awalnya, ia memproduksi beragam jenis kerajinan kaleng, namun di tengah perjalanan usahanya ia memilih spesialisasi produksi, yakni menyulap kaleng bekas menjadi aneka jenis burung. Umumnya jenis burung bangau, merak dan garuda dengan beragam ukuran, dari 20 cm sampai 50 cm. Demikian pula dengan harga jual, dari mulai Rp 95.000,- hingga Rp 1.750.000,-
Dengan alat sederhana seperti gunting, palu, tatah, tang, solder, dilengkapi meja kerja serta keperluan finishing, tangan-tangan terampil yang tersebar di sekitar rumah Kusnodin, mampu memproduksi burung kaleng sekitar 3.000-5.000 “ekor” per bulan. Sebagian besar produksi berukuran 20 cm, yang dijual dengan harga Rp 95 ribu per “ekor”. Dengan rata-rata keuntungan per bulan Rp 30 juta.
Sekitar 90 pekerja yang membantu menyulap kaleng bekas menjadi aneka jenis burung itu juga mendapatkan hasil yang lumayan setiap bulannya. Setiap pekerja setidaknya menghasilkan 300 “ekor” burung kaleng per bulan dikali Rp 5.000, maka tak kurang pendapatan rata-rata pekerja di bawah komando Kusnodin adalah Rp 1.500.000,- per bulan. Lumayan bukan?
Guyup, rukun dan menghasilkan. Itulah suasana usaha rumahan Kusnodin yang ia beri nama “Pengrajin Kaleng Karya Baru”. Mungkin betul, aneka jenis burung dari kaleng itu terbilang karya baru dibanding karya dari kaleng lainnya seperti dandang. Lagian, hasil karya tangan-tangan terampil di bawah manajemen Karya Baru ini tak menggunakan kaleng baru, tetapi kaleng bekas yang disulap menjadi barang baru.
Jadi, kalau kita tertarik berusaha sendiri atau bahu membahu membuka usaha semacam home industry, ternyata tak harus memiliki modal uang terlebih dahulu. Namun, yang pasti dan harus dimiliki adalah modal semangat lalu kerja keras. Dengan semangat dan kerja keras, maka keterampilan segera dimiliki dan uang pun segera dipunyai. Kusnodin adalah contoh di mana dengan modal keyakinan dan tekad dapat mendatangkan uang cukup bahkan merembet ke para tetangganya. Maka, bagi pembaca yang ingin mandiri dengan berusaha sendiri, berbuatlah dan terus berbuat!
Borobudur Borongan
Siapa tak mengenal Candi Borobudur? Orang mancanegara pun rata-rata mengenal Candi yang tersohor di dunia itu. Bangunan raksasa dengan arsitektur yang luar biasa hebat itu dibangun oleh nenek moyang bangsa Indonesia tempo dulu. Nah, Candi Borobudur yang tak tertandingi –dari sisi kontruksi, arsitektur, interior-eksterior, bahan bangunan yang dipakai, seni-budaya dan keunikan-kekhasan dan lain-lain-- hingga kini itu, terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Di daerah inilah Kusnodin dan 90 pekerja seni kerajinan kaleng itu lahir dan besar, lalu merengkuh kehidupan dengan cara alamiah: harmoni yang sesungguhnya, dalam pengertian bahwa dinamika kehidupan selalu ada dan terus terjadi tetapi semua perbedaan yang ada pada mereka justru melekatkan solidaritas kemanusiaan.
Mau memuaskan plesiran dengan menikmati aneka kerajinan dan makanan? Magelang adalah gudangnya. Kita bisa menikmati komoditas agro, yakni padi, palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. Di beberapa kawasan home industry, kita bisa mengoleksi berbagai produk kerajinan dengan harga terjangkau: kriya kayu, burung kaleng, pigura kuningan-tembaga, replika kapal yang mengarungi samudera, sapu payung, boneka kapas dan kerajinan kayu kelapa. Sementara kalau kita mau memanjakan lidah atau membawa oleh-oleh panganan buat keluarga yang di rumah, di Magelang ada slondok, ceriping ketela dan rengginan.
Jadi, di Borobudur kita bisa borongan membeli aneka produk kerajinan, makanan khas dan lain-lain yang istimewa. [Profil Usaha, Edisi 104 / Tahun III / Tanggal 16 Juni - 22 Juni 2008]
[...Selengkapnya]
Buruh Mbabar Juga Bikin Batik Cap Duit
Menyiasati keberlanjutan usaha, juragan batik di Pekalongan terus berproduksi. Anjloknya permintaan pasar karena pasar utama di Tanah Abang “diberangus” dan harga bahan baku perbatikan terus menanjak, tak membuat mereka putus asa. Sebab orang-orang yang bermental majikan ini, tiada guna jika harus menyerah menjadi kuli. Setidaknya, mereka tetap menjadi majikan meski status usahanya adalah buruh mbabar (juragan batik yang hanya menerima order produksi batik tanpa mengurusi pemasaran).
Salah seorang juragan batik yang kemudian memilih jadi buruh mbabar adalah Haji Wardi, biasa disapa Kaji Wardi. Sejak pasar Tanah Abang --salah satu pasar utama batik Pekalongan—“terbakar” pada 2003 dan berganti menjadi kompleks pertokoan mahal, kelas juragan seperti Kaji Wardi pelan-pelan mulai mengurangi perannya memasok batik ke Tanah Abang. Alasannya, pertama, permintaan pasar di pusat grosir batik itu melorot tajam sebab para pemilik toko yang rata-rata pribumi itu tak lagi berjualan. Umumnya mereka tak mampu menyewa toko-toko baru pasca kebakaran. Kedua, suasana hubungan bisnis berubah –tak lagi ramah, begitu Tanah Abang didominasi oleh orang-orang baru yang tak dikenal.
Ketika itu, Kaji Wardi baru dua tahun menjadi juragan batik, yang memproduksi dan memasarkan sendiri batiknya. Dengan modal awal Rp 10 juta pada 2001, ia sudah mengumpulkan omset Rp 100 juta pada 2003. Namun, tragedi pasar Tanah Abang membuat Kaji Wardi memilih memproduksi saja tanpa mengurusi pasar. Orang Pekalongan biasa menyebut model juragan ini dengan “Buruh Mbabar” atau “Juragan Buruh”.
Kini, Kaji Wardi mampu memproduksi 1.000 stel per minggu atau 4.000 stel dalam sebulan. Ongkos produksi per stel adalah Rp 22.500,- dengan keuntungan bersih Rp 2.500 per stel. Itu berarti omset yang berputar adalah Rp 90 juta per bulan, dengan keuntungan rata-rata Rp 10 juta per bulan. Omset per tahun mecapai Rp 500 jutaan. “Menjadi buruh mbabar juga bisa eksis seperti juragan beneran yang sukses,” ujar Wardi kepada OpiniIndonesia, Selasa pekan lalu.
Mantan TKI, yang menjadi sopir di Arab Saudi selama empat tahun ini pun tak peduli dengan soal status: buruh mbabar atau juragan beneran. Bagi Kaji Wardi, “Yang penting kita sama-sama bikin batik cap duit!” guraunya.
Namun, maksud dia adalah bahwa rata-rata juragan yang bergerak di jalur “batik cap” sama seperti dirinya, berusaha keras memproduksi batik dengan mutu tinggi dengan pendapatan lumayan: batik cap duit!
Apa pun status kelas sosial juragan, keberadaan buruh mbabar sebenarnya sama-sama ikut serta mengangkat ekonomi rakyat di kampungnya. Seperti Kaji Wardi, setidaknya sekitar 20 orang di Desanya, Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, bekerja dan menggantungkan pendapatan ekonomi dari usaha Kaji Wardi. Mereka bekerja sebagai tukang ngeCap, membatik, nyolet, nglorod, hingga melempit batik. Rata-rata penghasilan mereka juga lumayan, bisa mencapai Rp 1-1,5 juta per bulan.
Kaji Wardi memproduksi batik jenis sutra, paris dan serat nanas. Batik sutra diminati orang-orang kota besar, sedangkan batik paris dan serat nanas umumnya laku di pasaran Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa Timur. Seperti lazimnya batik Pekalongan, batik produksi Kaji Wardi juga tak hanya di dalam negeri, tetapi juga terkenal di mancanegara.
Batik Pekalongan sejak lama diekspor ke sejumlah negara, antara lain Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. Sedemikian terkenalnya batik dari Pekalongan, Jawa Tengah, sehingga jenis batik ini tidak berhenti hanya menjadi hasil kegiatan ekonomi, tetapi juga telah menjadi ikon wisata.
Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil seperti Kaji Wardi, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.
Inilah istimewanya (sakpore), batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik Pekalongan adalah nafas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.
Batik Hokokai, SBY, Hingga Tsunami
Anak-anak sedang bermain di sebuah sekolah dasar di Simbang Kulon, Buaran, Kabupaten Pekalongan. Mereka berseragam pramuka, bersarung batik dan memakai kopiah. Sebuah gambaran yang pas di Pekalongan. Sebab Pekalongan memang gudangnya produksi batik yang indah dan dinamis.
Lantas, bagaimana proses pembuatan batik tersebut? Secara umum proses pembuatan batik melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberian malam (lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain.
Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai selera atau tetap berwarna putih sebelum kemudian diberi malam. Proses pemberian malam dapat menggunakan proses batik tulis dengan canting tangan atau dengan proses cap. Pada bagian kain yang diberi malam maka proses pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup oleh malam (wax resist). Setelah diberi malam, batik dicelup dengan warna. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keinginan, berapa warna yang diinginkan.
Jika proses pewarnaan dan pemberian malam selesai maka malam dilunturkan dengan proses pemanasan. Batik yang telah jadi direbus hingga malam menjadi leleh dan terlepas dari air. Proses perebusan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik, dan menghindari kelunturan. Setelah perebusan selesai, batik direndam air dingin dan dijemur.
Batik Pekalongan adalah batik pesisir yang paling kaya warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya bersifat naturalis. Dibanding dengan batik pesisir lainnya, batik Pekalongan sangat dipengaruhi pendatang keturunan Cina dan Belanda. Motif batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif batik Pekalongan yang paling populer adalah batik Jlamprang.
Keistimewaan batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan zaman. Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama ’batik Jawa Hokokai’, yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik Jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun 1960-an juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, beberapa saat setelah Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden, muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengan kain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer belakangan ini adalah motif Tsunami. Orang Pekalongan memang tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik. [OI, Profil Usaha, Edisi 095, 14-20 April 2008]
[...Selengkapnya]
Arrosa Kid’s Friend Dari Bojonggede Menembus Pasar Luar Negeri
Modal Rp 20 juta telah berlipat ganda. Omset mutakhir usaha ”boneka muslimah” ini beranak pinak menjadi Rp 300 juta. Pasar pun meluas, dari sekitar Bojonggede-Bogor, hingga Malaysia, Abudabi, Amerika Serikat dan Inggris.
Pusing mencari hadiah ulang tahun buat sang anak, justru menginspirasi Umining Dwi Kusminarti berdaya kreatif. Ceritanya, wanita kelahiran 1967 yang akrab disapa Atiek ini berburu hadiah ulang tahun anak perempuannya. Ia memilih hadiah boneka muslimah. Namun, setelah membolak-balik aneka merek boneka di beberapa tempat penjualan, Atiek tak menemukan boneka yang diinginkan.
Atiek pun penasaran. Ia mengontak teman sekampusnya dulu –yang bekerja di Abudabi, bagaimana kalau membuat sendiri boneka santun berbusana muslimah. Teman lamanya itu pun mencari-cari dan mendapatkan Fulla, boneka berbusana muslimah khas Arab yang beredar di Timur Tengah. “Kami ingin memberi alternatif mainan pada anak-anak. Kami ingin mainan itu menempel di benak anak-anak, yakni orang harus berpakaian muslimah sejak kecil,” ujar ibu dari Arsa (16) dan Lia (12).
Niat mulia mendandani boneka sebagai sahabat bermain anak-anak muslimah ini segera diwujudkan dengan membangun usaha. Pada awal tahun 2005, Atiek menelusuri pasar-pasar untuk mengukur kemungkinan pangsa pasar yang tersedia, lantas produksi perdana diluncurkan pada Agustus 2005.
Dengan modal Rp 20 juta, hasil patungan dengan teman-teman yang bekerja di Abudabi, boneka santun berbusana muslimah pun akhirnya hadir di Indonesia. Namun, Atiek memilih tidak membuat boneka sendiri. Ia ingin membeli yang sudah jadi, lalu mendandaninya. Boneka asal Cina, berbahan plastik yang dicetak, jadi pilihannya. Lalu, boneka itu dibalut jilbab dipadu dengan kebaya dan songket, busana khas Indonesia. Untuk wanita karir, boneka berjilbab itu dipadu dengan blazer dan celana panjang.
Untuk merek usaha, Atiek memilih nama Arrosa. Dalam bahasa Arab, Arrosa berarti boneka dan dalam bahasa Basque berarti bunga ros. Nah, boneka Arrosa atawa boneka muslimah yang berciri khas Indonesia itu, awalnya dikirim ke Abudabi untuk konsumen asal Indonesia.
Seiring meningkatnya pangsa pasar di Abudabi, dari 12 boneka hingga berlipat dua, yang dipasarkan ala getok tular (dari mulut ke mulut), celah pangsa pasar di Indonesia pun mengikuti. Selain terpajang di beberapa toko di Depok, Jawa Barat, Arrosa telah merambah ke Carrefour, Alfath Grup Yogyakarta, sampai kota-kota lainnya seperti Medan, Pekanbaru, Balikpapan, Bontang, Tarakan, Palu, dan Gorontalo. Pada tahun 2007, pasar meluas hingga ke Malaysia dan Georgia, Amerika Serikat. Lantas, Februari 2008, Arrosa melayani permintaan pesanan dari Inggris.
Meluasnya pasar, sedikit membuat produksi Arrosa, yang berkantor di rumah Atiek di Bojonggede-Bogor ini, kerepotan. “Tantangan dan hambatan di awalnya adalah sulit mencari penjahit yang mau dan mampu menjahit baju kecil, karena agak rumit dibanding baju manusia,” kata alumni teknik kimia ITB itu.
Kemudian kesulitan itu teratasi setelah mendapatkan beberapa tenaga penjahit di sekitar rumahnya. Malah, bagi 7 penjahit yang kini menjahit baju boneka Arrosa, merasakan keberuntungannya. Sebab, hasilnya lumayan. Untuk 1 baju boneka dihargai Rp 5.000, rata-rata per hari ibu-ibu penjahit menghasilkan 10 baju. Jadi, seorang ibu penjahit yang tetap bisa mengurus anak-anaknya di rumah, bisa mengantongi hasil Rp 50 ribu per hari.
Kalau Anda ingin memiliki sebuah boneka Arrosa, cukup dengan merogoh kocek Rp 50 ribu. Di luar negeri pun harga tetap Rp 50 ribu, hanya saja ditambah ongkos kirim. Lain lagi kalau Anda adalah pedagang yang akan menjualnya kembali, maka harga yang dipatok produsen lebih murah, yakni Rp 42 ribu. Bagaimana kalau mau mengganti baju boneka? Anda tak perlu khawatir, Arrosa menyediakan baju-baju dengan beragam model, dengan harga Rp 25 ribu.
Setelah berjalan dua tahun, omset usaha Atiek mencapai Rp 300 juta, dengan rata-rata produksi per bulan, 300 boneka Arrosa dan 1.000 baju. Begitu datang bulan Ramadhan, produksi selalu melonjak hingga 1.000 boneka per bulan. “Permintaan selalu meningkat tiga kali lipat begitu datang bulan Ramadhan,” kata Atiek kepada opiniIndonesia, Rabu pekan lalu.
Berjalin berkelindan, Arrosa Kid’s Friend tak saja menjadi media pengenalan anak sejak dini terhadap busana muslimah, tetapi juga bisnis ini cukup menguntungkan. Inikah berkah luar dalam?
Barbie, Razanne, Fulla
Kalau Amerika Serikat (AS) memproduksi Barbie, boneka kenes bertubuh langsing, rok mini dan berambut blonde, warga muslim punya Razanne, yang anggun berjilbab.
Barbie mengenakan bikini, Razanne bergaun panjang dan berjilbab. Postur tubuh Razanne juga tak seseksi Barbie, yang bagian dadanya dibuat menonjol. Perbedaan itu sengaja dibuat produsen Razanne, Noor Art Inc. Michigan. Sebab, Razanne memang ditujukan untuk warga muslim AS.
Razanne dibuat untuk mengingatkan gadis-gadis muslim bahwa penampilan fisik bukanlah segalanya. "Apa pun masalahnya adalah apa yang berada di dalam diri Anda, tidak bagaimana penampilan Anda," kata Saadeh yang mendirikan NoorArt In. dengan istri dan beberapa investor lainnya. Perusahaan yang bermarkas di Livonia, Michigan, itu berdiri pada 1997. Perusahaan tersebut memang khusus menjual mainan yang ditujukan untuk anak-anak muslim.
Razanne dibuat dengan mengadopsi bentuk tubuh ABG. Diciptakan tiga versi, berkulit putih dan berambut pirang, berkulit cokelat dan berambut hitam, serta berkulit hitam dan berambut hitam.
Dengan menciptakan Razanne, Sadeeh ingin menampilkan sosok muslimah modern. Karena itu, ada Dr Razanne dan astronot Razanne. Ada pula Razanne gadis muslim pramuka, lengkap dengan rekaman kaset sumpah pramuka muslim.
Razanne, setiap tahun terjual 30 ribu boneka dengan harga bervariasi, mulai USD 9,99 hingga USD 24,99 (sekitar Rp 83 ribu-Rp 209 ribu) untuk satu set boneka.
Saingan Barbie lainnya adalah Fulla. Seperti Razanne, Fulla juga adalah boneka berjilbab. Di balik jilbabnya, Fulla memiliki rambut hitam. Matanya juga hitam dan lebar. Fulla tidak dikelilingi cowok seperti halnya Barbie yang berpacaran dengan Ken. Fulla, si boneka Muslimah itu, menjadi dagangan laris manis di Timur Tengah. Fulla muncul pada 2004 dan mampu menggantikan kelarisan Barbie.
Fulla juga tampil sebagai dokter dan guru. Pakaian Fulla antara lain terdiri dari busana wanita Muslim modern seperti celana jeans dan jilbab berwarna-warni seperti yang banyak dipakai oleh wanita muda di Mesir. Pada 2006, Fulla telah terjual 1,3 juta boneka.
Fulla telah mampir ke Indonesia. Pada 12 April 2007, perusahaan mainan terbesar di Timur Tengah, NewBoy FZ Co, meluncurkan boneka Fulla di Jakarta. Tentu saja, Fulla, yang berkarakter menyenangkan, penyayang, peduli, jujur, luwes, pintar, dan populer di sekolah itu, tampil dengan busana muslim khas Indonesia. [OI, Profil Usaha, Edisi 094, 7-13 April 2008]
[...Selengkapnya]
Alat Pijat Kayu Tetap Diminati
Sekali berarti, terus berproduksi. Demikian pula dengan Moch Yamin & Mitra yang tak berhenti membuat usahanya terus menggelinding. Alat pijat Kediri ini terus menggeliat.
Alat pijat, juga biasa dikenal sebagai alat pijat refleksi, ternyata lumayan laku. Sekali berpameran, tingkat penjualannya bisa menyamai omset sebulan. Tengok saja pengalaman Kabupaten Kediri ketika berpameran di Kaliwates, Jember, Jawa Timur, Agustus tahun lalu. Alat pijat Kediri diminati masyarakat Jember. Dengan harga Rp 7.500 per biji, produk ini terjual 4.600 biji selama empat hari. Berarti angka nominal penjualan adalah Rp 34.500.000.
Pengalaman hampir serupa dialami Moch Yamin & Mitra ketika berpameran di Kabupaten Expo di Jakarta bulan lalu Meski tingkat penjualan lebih rendah tetapi angka nominal penjualannya tak kurang dari omset rata-rata per bulan Rp 12 juta. Penjualan rata-rata per bulan ini dihitung dari produksi rata-rata per hari 50 biji dikali 24 hari dikali rata-rata Rp 10 ribu per biji.Demikian pula harga jual yang dipatok juga berbeda, yakni berkisar antara Rp 10 ribu-Rp 20 ribu.
Menurut Kuspriyanto, dari Moch Yamin & Mitra, yang memberi nama usahanya Ortodhox Art, kalau dilihat barangnya memang kecil tetapi manfaatnya bagi kesehatan sangat besar, maka peminatnya semakin hari bertambah.
Dulu waktu diciptakan pertama kali seorang warga Semen, Kediri, pemasarannya hanya sekitar wilayah Kediri, Nganjuk, Magetan, Madiun, Ponorogo, Trenggalek dan Tulungagung. Tapi sekarang sudah menyebar sampai ke Bali, Kalimantan, hingga kawasan Asia meliputi Thailand, Hongkong, Taiwan, dan Jepang.
Kayu kecil berbentuk segi tiga yang mempunyai diameter sekitar lima senti meter tersebut, guna dan manfaatnya banyak sekali. Jika dipijatkan ke titik-titik tertentu di tangan dan kaki dapat memperlancar peredaran darah, mengoptimalkan fungsi-fungsi syaraf, pencernaan dan organ-organ tubuh vital lainnya.
Jika ingin hidup sehat makanlah, makan yang sehat bebas dari zat-zat kimia, buah-buahan yang banyak mengandung vitamin A,B,C dan D, makanan berserat, minum air putih yang banyak, tidur cukup dan pijatlah titik-titik refleksi di tangan dan kaki secara teratur dan tepat.
Jika ingin memiliki alat pijat produk Moch Yamin & Mitra, bisa beli langsung di bengkelnya, Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol, Kediri, Jawa Timur, atau pesan saja via telepon 0812 331 3379. Harganya cukup murah. Untuk alat pijat berbentuk segi tiga yang berguna memijat refleksi, urut dan kerokan Rp 10 ribu per biji. Demikian pula dengan alat pijat blender kecil untuk sakit migren, sakit kepala dan kerok leher. Sementara harga alat garuk Rp 12.500 per biji, sedangkan blender besar bergigi yang berfungsi memijat karena kesemutan Rp 20 ribu per biji.
Sekali berarti, tak pernah mati. Meski penemu pertama kali alat pijat ini sudah mati sekalipun, karyanya terus diproduksi, terus dinikmati, terus ikut serta menjaga kesehatan anak-anak manusia. Karena itu, di kawasan bengkel Ortodhox Art tak sulit menjumpai beberapa industri rumah tangga yang memproduksi alat pijat ini yang umumnya dibuat dari kayu sono dan jati.
Pisau, tatah, amplas, dan gergaji, sudah cukup sebagai perlengkapan untuk membuat alat pijat ala Kediri. Dengan tangan-tangan cekatan dan piawai memainkan pisau dan tatah, mereka, lima pekerja di Ortodhox Art, mampu menghasilkan 10 alat pijat per hari. Setelah berbentuk sesuai jenis alat pijat, tinggal dikasih pernis untuk memperindah warna kayu asli hingga lebih mengkilap. Jadilah alat pijat yang berguna untuk menjaga kesehatan atau menyembuhkan rasa sakit.
Jenis produksi dari industri rumah tangga di Kediri sangat beragam. Selain alat pijat, ada kain kelambu filtrase, gorden, taplak meja, sarung bantal dan guling, sarung teve, tas sekolah, tempat tisu, mukena sutera, baju muslim bordir, kripik tahu, madu asli, sewor, entong –alat dapur yang terbuat dari tempurung kelapa, dan lain-lain. Jamak diketahui, Kediri juga dikenal sebagai kota tahu.
Dengan budaya masyarakatnya yang memiliki etos kerja tinggi, tak heran jika di Kediri tumbuh karya usaha yang juga terbilang unik seperti alat pijat tadi. Memang tampaknya mudah membuat alat-alat pijat kesehatan karya orang Kediri tersebut. Namun butuh ketekunan dan ketelatenan. Sebab membentuk sebuah alat pijat dengan jenis tertentu dan diameter tertentu yang cocok untuk fungsi pemijatan masing-masing tak hanya butuh kesabaran, tetapi lebih dari itu adalah keahlian. Apalagi media yang dibentuk dengan cara memotong, memahat, mengamplas dan memplitur, adalah kayu sono yang keras dan kayu jati yang lebih keras.
Nah, Moch Yamin & Mitra telah menorehkan kerja kerasnya dalam membuat usaha alat pijat yang berguna bagi kesehatan. Awalnya mereka tak membayangkan bagaimana pasar bakal menyambutnya dengan hangat. Namun, pelan tapi pasti, pasar tumbuh secara getok tular, dari mulut ke mulut para pemakai alat pijat bercerita tentang pengalamannya menggunakan alat pijat dari kayu itu, dan pasar pun menyebar, menjangkau luar negeri.[Profil Usaha » Edisi 103 / Tahun II / Tanggal 9 Juni - 15 Juni 2008]
[...Selengkapnya]
Pensil Gaul Sampai Negeri Kanguru
Alat tulis bernama pensil, semakin tampil cantik saja. Sulistiyanto menjadikan pensil telanjang atawa polos tampil layaknya model: berkepala dan berwajah sesuai karakternya, dengan memakai gaun yang trendi. Hasil kreasi pemuda Magelang ini dinamai pensil gaul.
Pada mulanya pensil terbuat dari grafit murni. Cara menuliskan alat tulis ini dilakukan dengan menggoreskan grafit tersebut ke atas media. Namun grafit murni cenderung mudah patah, terlalu lembut, memberikan efek kotor saat media bergesekan dengan tangan, dan mengotori tangan saat dipegang, hingga kemudian diciptakan campuran grafit dengan tanah liat agar komposisinya lebih keras. Selanjutnya komposisi campuran ini dibalut dengan kertas atau kayu.
Penggunaan timbal dan grafit dimulai sejak zaman Yunani. Keduanya memberikan efek goresan abu-abu, walaupun grafit sedikit lebih hitam. Grafit sangat jarang dipakai hingga kemudian pada tahun 1564 ditemukan kandungan grafit murni dalam jumlah besar di Borrowdale, sebuah lembah di Lake District, Inggris bagian utara. Meskipun kelihatan seperti batu bara, mineral tersebut tidak dapat terbakar, dan meninggalkan bekas berwarna hitam mengkilap, serta mudah dihapus di atas permukaan yang bisa ditulisi.
Pada masa itu istilah grafit masih disalah-artikan dengan timah, timah hitam, dan plumbago, artinya seperti timah, mengingat sifatnya yang hampir sama. Karena itu istilah lead pencil (pensil timah) masih digunakan sampai sekarang. Karena teksturnya berminyak, bongkahan dibungkus dengan kulit domba atau potongan kecil timah berbentuk tongkat dibebat dengan tali. Tidak seorang pun tahu siapa yang mula-mula mempunyai ide untuk memasukkan timah hitam ke dalam wadah kayu, tetapi pada tahun 1560-an, pensil yang primitif sudah sampai di benua Eropa.
Tak lama kemudian, timah hitam ditambang dan diekspor untuk memenuhi permintaan para seniman. Dan pada abad ke-17 bisa dikatakan timah hitam telah digunakan di mana-mana. Pada waktu yang sama, para pembuat pensil bereksperimen dengan timah hitam untuk menghasilkan alat tulis yang lebih baik. Karena murni serta mudah diekstrak, timah hitam dari Borrowdale menjadi incaran pencuri dan pedagang gelap. Untuk mengatasinya, parlemen Inggris mengeluarkan undang-undang pada tahun 1752 yang menetapkan bahwa pencuri timah hitam bisa dipenjarakan atau di buang ke suatu koloni narapidana.
Namun pada tahun 1779, seorang ahli kimia Carl W Scheele meneliti dan menyimpulkan bahwa grafit memiliki sifat kimiawi yang jauh berbeda dengan timbal. Grafit adalah komposisi molekul karbon murni yang lunak. Akhirnya pada tahun 1789, ahli geologi Jerman, Abraham G Werner memberikan nama grafit, yang berasal dari perkataan Yunani graphein, yang berarti menulis.
Selama bertahun-tahun, grafit Inggris memonopoli industri pembuatan pensil karena cukup murni untuk digunakan tanpa perlu diproses lagi. Karena grafit Eropa kurang bermutu, pabrik-pabrik pensil di sana bereksperimen dengan berbagai cara untuk memperbaiki isi pensil. Insinyur Prancis Nicolas-Jacques Conté mencampur bubuk grafit dengan tanah liat, membentuk campuran itu menjadi batang-batang, dan membakarnya dalam perapian. Dengan mengubah-ubah perbandingan grafit terhadap tanah liat, ia bisa membuat isi pensil yang menghasilkan berbagai gradasi warna hitam --proses yang digunakan sampai sekarang.
Nah, dari jenis pensil yang menorehkan warna hitam, Sulistiyanto membuatnya tampil lebih menawan. Selain pensil-pensil itu dilengkapi kepala sesuai karakternya --seperti tampak wajah-wajah wayang dalam berbagai jenis tokoh wayang dan model boneka.
Bagi penggemar karya seni, tampilan pensil gaul buatan Sulistiyanto layak dinikmati. Dipajang di ruang tamu, kamar kerja, kantor, dan juga kamar anak-anak, terasa lebih indah. Selain itu, pensil gaul juga bisa digunakan untuk menulis sebagaimana pensil lainnya.
Jika pensil gaul yang dibeli adalah berbentuk wayang, maka karakter wayang itu setidaknya mengingatkan kita pada tokoh-tokoh pewayangan tersebut seperti semar, gareng, petruk dan lain-lain. Begitu pula dengan pensil gaul berbentuk aneka boneka (termasuk bandul kunci) kesukaan anak-anak, yang bisa jadi menginspirasi mereka untuk berimajinasi dan berkreasi. Sedangkan pembatas buku yang berbentuk keris, akan menemani kita untuk tidak bosan (sambil mengingat daya magis benda keramat itu) dalam membaca buku.
Hasil karya Sulistiyanto dan delapan orang kawannya ini cukup membawa keuntungan lumayan. Rata-rata Rp 5 juta per bulan. Produksinya mencapai 4.000 batang untuk pensil kayu dan pensil bambu per bulan. Sedangkan untuk pensil batik dan pembatas buku sekitar 2.000 batang per bulan. Harga pensil gaul bervariasi, dari Rp 2.000 sampai Rp 20.000 per batang. Sebuah harga yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat: dari kalangan miskin, apalagi orang-orang kaya. Produksi pensil gaul umumnya berdasarkan pesanan. Biasanya buat sovenir. Pasar produk ini terbilang potensial, selain diminati pembeli lokal juga diminati pembeli dari luar negeri seperti Australia. Menyerbu pasar dari Magelang-Jawa Tengah sampai ke negeri Kanguru?
Kriya Rik Rok
Dari kawasan yang berdekatan dengan Candi Borobudur, tepatnya Jalan Umbul Tirto No. 1 Tingal, Wanurejo, Magelang, Jawa Tengah, sebuah kerja kreatif dilakukan oleh anak-anak muda ndeso. Ndeso bukan berarti kampungan, tetapi ndeso karena praktek guyup rukun yang masih berurat berakar pada jiwa mereka untuk sama-sama maju. Tak saling menjegal, namun saling mendukung.
Jadilah workshop Rik Rok seperti suara katak yang rampak membagi peran: tak saling beradu, tetapi berpadu membuat nyanyian merdu. Rik rok.. rik rok.. rik rok.. Dan karya kreatif muncul dari sana: pensil kayu, pensil batik, pensil bambu, pembatas buku, bandul kunci, dengan berbagai balutan gaun yang menawan dan karakter masing-masing.
Dalam membentuk sebuah karakter, agar wajah-wajah pensil gaul tampak sesuai dengan karakter aslinya, Sulistiyanto dan kawan-kawan menggunakan nyamplung (biji-bijian) yang kemudian dibentuk kepala dan wajah. Hasilnya, mirip replika berbagai wayang dan boneka dalam sebuah bandul kunci. Demikian juga dengan pensil-pensil gaul dan pembatas buku yang dibuat amat mirip dengan karakter aslinya.
Ingin berbelanja dan sekaligus belajar berkarya kriya pensil gaul? Datanglah ke Workshop Rik Rok. Dari terminal bus atau stasiun kereta api Yogyakarta, anda bisa naik bus jurusan Magelang, tak sampai 45 menit turun di kawasan Borobudur. Cukup tanya sekali, orang-orang di sekitaran situ pasti menunjukkan di mana lokasi Workshop Rik Rok itu berada.[Profil Usaha » Edisi 102 / Tahun II / Tanggal 2 Juni - 8 Juni 2008]
[...Selengkapnya]
Memahat Kulit Kerbau Jadi “Tak Bodoh”
Di tangan JB Soemarwoto, kulit kerbau bisa menjadi aneka hiasan dinding yang memperindah interior rumah. Dari wayang kulit hingga karya serupa lukisan yang indah: segala jenis wayang, kereta kencana, balapan kuda, hasto broto, yesus, dan ayat kursi. Sebuah karya yang beragam dan mencerahkan.
“Bodo koyo kebo” (bodoh seperti kerbau). Itulah perumpaan yang kerap muncul dalam sindiran Jawa. Kebo (kerbau) sering diidentikan dengan kebodohan, sebab kerbau tak pernah protes saat dicongok hidungnya meski merasa kesakitan. Singkatnya, kerbau tak mau mencoba berontak untuk merdeka! Karena itu, kerbau menjadi perlambang “perilaku bodoh”. Nah, di tangan JB Soemarwoto, pemilik sanggar Kartoyo, yang beralamat di Jalan Sutoyo, Madegondo, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, ini, kulit kerbau menjadi “pintar”.
Kulit kerbau dijadikan media kreasi berupa lukisan dan pahatan yang dibentuk menjadi berbagai macam produk interior. Kecuali wayang kulit, beberapa jenis karya Soemarwoto akan semakin indah dengan dibingkai oleh frame yang selaras. Misalnya karya pahatan yang seelok lukisan, seperti hasto broto, yesus, dan ayat kursi, kian sempurna dengan dilapisi frame yang seirama.
Karya besutan Soemarwoto ini membawa pencerahan bagi para penikmatnya. Misalnya wayang kulit, yang mengandung filosofi hidup dan kehidupan, kaya akan ajaran dan pergulatan. Kerajinan ukir kulit terutama wayang kulit, biasa disebut sebagai kerajinan yang memadukan seni dan sejarah wayang kulit. Kenapa? Karena untuk membuat wayang kulit memang harus melalui proses belajar tidak sebentar, membutuhkan keuletan, kemauan belajar yang tinggi dan rasa memiliki kecintaan akan seluk beluk pewayangan.
Ada pula pahatan yang membentuk lukisan yesus, yang membawa kasih sayang; ayat kursi yang mengurai keagungan Tuhan; dan hasto broto, yang mengajarkan delapan sifat kepemimpinan.
Delapan sifat kepemimpinan hasto broto adalah pertama, suryo (matahari). Sifatnya menyinari, memberikan penerangan dan menghidupi. Kedua, condro (bulan). Sesuatu yang indah, baik dan memberikan penerangan saat gelap. Ketiga, kartiko (bintang). Petunjuk arah, kiblat dan panutan. Keempat, dahono (api). Memberikan semangat. Kelima, bantolo (bumi). Menumbuhkembangkan. Keenam, tirto (air). Luwes. Ketujuh, samirono (angin atau udara). Merakyat. Kedelapan, akoso (mendung). Tak pantang memberitahu, bahkan marah untuk tujuan kebaikan.
Jadi, disamping berkarya untuk menopang hidup, Soemarwoto juga ingin karya-karyanya itu memberikan nilai tambah buat penikmatnya. Karena itu, “Saya memilih memahat sesuatu yang menjadi bermakna, bahkan buat pegangan hidup,” ujar pria yang telah menua ini, dalam usinya yang menginjak 58 tahun.
Pria kelahiran Sukoharjo, 21 Agustus 1950, yang telah dikarunia empat orang anak ini, bersama puluhan pekerjanya menyamak sendiri kulit kerbau yang akan dibikin wayang atau diukir. Caranya, kulit kerbau dikerok di bagian bulu dan daging. Tebal tipis kulit sesuai yang dikehendaki, namun umumnya 0,5-1 mili. Maka terlihatlah kulit kerbau yang transparan. Lalu, direndam air, dibentangkan di tempat teduh sampai kering, kira-kira membutuhkan waktu dua hari. Kalau musim hujan, masa pengeringan kulit bisa membutuhkan waktu lima hari.
Setelah kulit transparan itu kering, diangkat, dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki. Lalu, siapkan pola, ditaruh di bawah kulit, dan pekerjaan berikutnya adalah menggambar di atas kulit kerbau itu sesuai dengan pola. Selanjutnya, proses pemahatan, sungging (pewarnaan). Jadilah ukiran indah yang kemudian dilapisi bingkai yang serasi. Untuk membikin wayang kulit prosesnya sama, hanya saja perlu ditambah tangkai untuk tangan kaki wayang yang dibuat dari tanduk kerbau.
Untuk membikin wayang kulit dan ukiran berbagai jenis karya Soemarwoto, ia menggunakan 25 macam pahat kulit, alas tandu’an, tindih besi dan gandem (palu kayu).
Tahun 1980 Soemarwoto mulai merintis usahanya. Dalam setahun order bejibun hingga jumlah karyawan mencapai 50 orang. Namun, perang Teluk, krisis ekonomi dan bom Bali, membuat usaha Soemarwoto terus menurun, hingga jumlah karyawan tak lebih dari 10 orang.
Namun begitu, Soemarwoto tetap menjalani usahanya yang berbasis seni itu. Dengan 10 orang pekerja, ia masih mampu menghasilkan 150-200 pieces per bulan. Kalau dirata-rata harga per pieces Rp 350 ribu, maka omset per bulan tak kurang dari Rp 50 juta.
Masih tergolong lumayan keuntungan usaha ini, yakni Rp 50 juta dikurangi bahan baku Rp 25 juta, dikurangi lagi Rp 8 juta untuk gaji 10 karyawan, serta air-listrik dan lain-lain taruhlah Rp 7 juta; maka keuntungan bersih Rp 10 juta.
Seperti produk-produk kerajinan lainnya di Jawa, pasar wayang kulit dan berbagai jenis ukiran besutan Soemarwoto juga umumnya menjangkau luar negeri. Beberapa pembeli dari Jepang, Taiwan, Amerika Serikat, Australia, dan Portugal, pernah datang ke sanggar Kartoyo milik Soemarwoto. Selain itu, ada pasar dalam negeri seperti Jakarta dan Bali, baik karena pameran atau pedagang sendiri yang datang berbelanja ke sanggar.[Profil Usaha » Edisi 101 / Tahun II / Tanggal 26 Mei - 1 Juni 2008]
[...Selengkapnya]
Mendulang Uang Bikin Rebana
Ketika bulan rabiul awal (juga rajab) tiba, maka suara rebana menggema di mana-mana, terutama di daerah-daerah sepanjang pantai utara Jawa: dari Karawang hingga Banyuwangi. Penjualan alat musik khas yang digemari masyarakat muslim itu pun laris manis.
Rebana atawa terbang adalah alat musik tradisional yang banyak dipakai untuk musik irama padang pasir. Pada musik gambus, kasidah dan hadroh adalah jenis kesenian yang kerap menggunakan rebana. Di Kampung Tanubayan, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ribuan rebana dihasilkan dan dijual.
Alat musik ini dibuat dari bahan kayu mangga, mahoni, kayu pohon nangka, trembesi atau kayu munggur. Sedangkan bahan dasar lain yang digunakan adalah kulit kambing dan kulit kerbau. Semua bahan tersebut mudah dijumpai di Kabupaten Demak. Pemasaran hasil produk ini menjangkau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, hingga Hongkong. Setiap pengrajin pada umumnya memiliki omset penjualan sekitar 20 hingga 30 set rebana per tahun. Harga per set alat musik ini mencapai Rp 2.700.000.
Potensi pengembangan produksi ini ditunjang kultur budaya Demak yang Islami. Kesenian rebana yang tersebar di mana-mana (di hampir semua daerah berpenduduk muslim), memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika masyarakat muslim. Lebih-lebih Demak, sebagai kota santri yang mewarisi perjuangan para wali memiliki khasanah kebudayaan yang lengkap, termasuk rabana. Apalagi alat musik ini telah ada sejak masa Kanjeng Sunan Kalijaga, dan berperan dalam syiar Islam.
Rebana lazim digunakan untuk acara keagamaan seperti Mauludan, menyambut Bulan Rajab, sunatan, pernikahan, dan lain-lain. Di banyak daerah seperti Kediri, Semarang dan Brebes, kesenian yang menggunakan alat rebana sering difestivalkan: dari memainkan rebana hingga kreasi musik rebana. Berdasar hal itu, alat musik rebana tetap laku dijual, sehingga para pembuat rebana tidak takut kehilangan pembeli.
Mas’ud (65) yang sudah memiliki beberapa cucu, sejak muda beraktivitas membuat rebana. Profesi ini ia jalani begitu saja sepulang dari Malang, Jawa Timur. Saat itu, 1960-an, ia baru saja tamat nyantri di sebuah pesantren di kota apel tersebut.
Seperti biasa, seorang anak yang baru saja menamatkan pembelajaran kitab-kitab kuning tertentu (untuk ukuran tata bahasa berarti telah menguasai jurmiyah, amriti, bahkan alfiyah), maka akan diberi tanggungjawab oleh orang tuanya memangku masjid, musholla atau pesantren. Nah, demikian pula dengan Mas’ud. Sebuah musholla yang diasuh ayahnya diberikan tanggungjawabnya kepadanya. Mas’ud pun mengimami musholla tersebut sekaligus mengajar kitab kepada para santri di tempat kelahirannya itu, Demak.
Sejak itu pula Mas’ud memantapkan profesinya sebagai tukang bikin rebana. Profesinya itu diikuti pula oleh anaknya, Sugianto. Duet bapak dan anak itu dalam perkembangannya harus berpisah manajemen dengan membuat bengkel kerja sendiri-sendiri. Tujuannya ya biar sang anak itu mandiri. “Apalagi dia sudah punya istri,” ujar Mas’ud. Dan dari usaha membuat rebana itulah Mas’ud bisa memiliki rumah, demikian pula dengan Sugianto.
Kini, di saat usianya berkepala enam, Mas’ud masih rajin membuat berbagai jenis rebana. Ia masih sanggup memasang list penjalin, ngebor dan ngencengin kempling, menatah besi bundar, belanja kulit kambing dan papan kayu, serta memasarkannya. Namun, untuk memasarkan produknya ia tak beranjak ke mana-mana alias tetap di rumah. Para pembeli datang ke bengkelnya di rumah. “Mereka umumnya tahu dari pembeli sebelumnya yang merasa puas dengan terbang bikinan saya,” tutur Mas’ud.
Urusan pasar memang tak terlalu merepotkan buat Mas’ud. Pria yang sudah puluhan tahun menekuni usaha pembuatan rebana ini sudah cukup dikenal. Sebagai pemimpin musholla dan pernah nyantri di luar kota, Malang, maka pasar pun mengikutinya. Banyak pembeli datang dari komunitas masjid, sekolah Islam, dan pesantren dari berbagai kota. Pola pemasaran getok tular (dari mulut ke mulut) ini yang membuat Mas’ud tak pernah lowong pembeli. “Selalu ada pembeli meski hanya dua set sebulan,” ungkapnya.
Lain lagi kalau bulan rabiul awal dan rajab tiba. Di bulan maulid Nabi Muhammad dan isra’ mi’raj Rasulullah itu, masa laris manis datang. Di bulan yang ramai pentas rebana itu, kebutuhan akan produksi rebana meningkat. “Rata-rata empat sampai enam set terjual,” terang Mas’ud.
Bagi Mas’ud dan para pengrajin rebana lainnya di Demak, menangguk untung rata-rata Rp 2 juta per bulan sudah lebih dari cukup. Dengan pendapatan segitu, sudah cukup buat memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan menyekolahkan atau memondokkan anak di pesantren. Bahkan dengan berkarya membuat rebana, beberapa dari mereka mampu menunaikan ibadah haji. Namun, lebih dari itu, dengan membikin rebana, itu berarti telah ikut menjaga tradisi yang diwariskan oleh Waliyullah Kanjeng Sunan Kalijaga, seorang pendakwah Islam tempo dulu yang memelopori pendirian masjid Demak yang tersohor itu. Melanggengkan tradisi mendapatkan berkah para wali?[Profil Usaha » Edisi 99 / Tahun II / Tanggal 12 Mei - 18 Mei 2008]
[...Selengkapnya]
Minerva Menerpa Madura
Kerja keras mampu mengalahkan brand yang telah populer. Zealsun, Loncin dan Minerva pun ngibrit di jalan-jalan Pulau Madura, khususnya Pamekasan, Sampang dan Sumenep.
Itulah kisah yang dilakoni Faisal Affan Syamlan dalam membangun usahanya mendirikan dealer motor Cina (mocin). Dalam waktu 6 bulan, sepeda motor Zealsun yang dijualnya laku 500 unit. Sejak berdiri Desember 2006 hingga April 2008, dealer Dirgahayu Motor yang terletak di Jalan Dirgahayu, Pamekasan, Pulau Madura, itu pun penjualannya menembus angka 1.000 unit untuk berbagai merek mocin.
Itu berarti, Faisal menangguk untung lumayan besar. Dalam kurun waktu 16 bulan, ia mengantongi laba tak kurang dari Rp 1 milyar. Hitung-hitungannya sederhana, keuntungan bersih per unit sepeda motor yang terjual adalah Rp 1 juta dikali 1.000 unit, maka ketemulah angka Rp 1 milyar. “Keuntungan bersih kira-kira Rp 1 juta lah per unit,” kata Faisal.
Ketika memulai membuka dealer, Faisal merogoh modal Rp 120 juta untuk membeli sejumlah motor Zealsun. Dari situ modal berkembang, sebab ia mampu menjual 500 unit motor Zealsun dari Desember 2006 sampai Mei 2007. Pada Agustus 2007, sesuai dengan keinginan pabrik Faisal berganti menjual motor Loncin, laku kira-kira 250 unit dalam waktu 4 bulan. Nah, ketika Loncin berganti merek menjadi Minerva, dan Faisal mulai menjualnya pada Desember 2007, pangsa pasar tetap bertahan: dalam waktu 4 bulan, penjualannya stabil di kisaran angka 250 unit.
Faisal memprediksi, bergantinya Loncin menjadi Minerva bakal mendongkrak pasar. Soalnya, kehadiran Minerva yang merupakan sepeda motor asal Cina dengan teknologi Jerman itu semakin handal. Minerva juga tampil dengan desain dan stripping yang tak kalah menarik dengan sepeda motor yang ada di pasaran. “Untuk stripping, kualitas, dan harga, Minerva tetap bersaing,” ujarnya.
Minerva bisa menjadi solusi bagi masyarakat untuk memiliki kendaraan dengan harga yang lebih murah dibanding produk lain, namun berkualitas. Terbukti, pabrikan Minerva Motor mendapat sertifikat ISO 9001 CCS sebagai kualitas produk yang telah diakui kehandalannya. Minerva memiliki beberapa tipe seperti Supra Zet XT, New Supra Z (CW), New Vaganza, Sparta Mini 90 cc, Sparta 150 cc, Trail, New Super Z, Super Z MX, dan R-150.
Soal harga, jauh lebih murah dari kompetitor lain. Dimulai dengan harga tunai hanya tujuh jutaan hingga belasan juta rupiah. Sedangkan untuk pembelian secara kredit dimulai dengan uang muka Rp 1 jutaan dan angsuran Rp 300 ribuan per bulan. Minerva R-150 bermesin 150cc dengan harga pasaran Rp 13,8 juta, tentu sangat terjangkau.
Untuk varian inovasinya yang terbaru, R-150 dengan tampilan sporty, tersedia pilihan warna keren anak muda, antara lain warna kuning menyala. Spesifikasi model ini antara lain rem depan cakram hidrolik, suspensi depan dengan mekanisme teleskopik upside down dan suspensi monoshock, yang menjamin kenyamanan penggunanya.
Wajah Faisal tampak berbinar ketika Opini Indonesia menjumpai pria berbadan besar itu di salah satu showroomnya yang kini telah bercabang empat di Pamekasan. Ia optimis Minerva akan mendapat sambutan lebih baik dibanding ketika motor produk Cina ini belum menggandeng Jerman. Harapan Faisal tak berlebihan. Selain mocin ini tambah berkualitas, desainnya juga tak kalah menarik dengan kompetitor yang telah lebih dulu menguasai pasar Indonesia.
Di luar itu, Faisal juga berharap 15 orang karyawannya tak menganggur gara-gara penjualan sepi. Maklum, mendapat gaji Rp 500 ribu di Pamekasan sudah lumayan, kira-kira sesuai UMR (upah minimum regional) setempat. Dan Faisal menggaji Rp 500 per bulan untuk setiap orang karyawannya sesuai dengan kemampuan. “Kalau angka penjualan meningkat, tentu saya kasih bonus kepada mereka,” ucapnya.
Lantas, bagaimana strategi Faisal menembus pasar Pulau Madura, khususnya Pamekasan, Sampang dan Sumenep? Menurut pemilik dealer mocin di kota Gerbang Salam ini, jaringan menjadi kunci menembus pasar. “Saya memakai jaringan lintas sektoral untuk meraih celah pasar. Tanpa itu, berat merebut hati konsumen,” jelas Faisal.
Jaringan yang dimaksud adalah komunitas warga atau mengerahkan seseorang yang dikenal masyarakat tertentu untuk berpromosi. Misalnya, untuk menjaring pasar di Kampung Arab, maka orang yang menjadi bagian dari kampung itulah yang berpromosi menawarkan mocin ke kampung tersebut. Begitu pula model bidikan di kampung-kampung lainnya. Dari situlah promosi dari mulut ke mulut menyebar ke seantero Pamekasan, Sampang dan Sumenep. Belakangan, hati konsumen benar-benar terpikat! apalagi kualitas mocin yang dijual Faisal kian handal.
Kalau Anda sempat mengunjungi showroom milik pria keturunan Arab ini, Anda akan menyaksikan pemandangan berbeda dibanding showroom-showroom lainnya. Di sini Anda bakal terkesima melihat puluhan orang yang makan bersama begitu datang waktu siang, kira-kira habis Dzuhur. Mereka adalah kawan-kawan Faisal yang secara langsung atau tidak langsung ikut memberkahi si empunya dealer: marketing dari mulut ke mulut yang menebarkan berita mocin yang kian licin.[Profil Usaha » Edisi 98 / Tahun II / Tanggal 5 Mei - 11 Mei 2008]
[...Selengkapnya]