Showing posts with label OASE. Show all posts
Showing posts with label OASE. Show all posts

Serba Pulau Nan Indah

Kalau anda mau melancong dengan memuaskan mata memandang hamparan laut luas, dikelilingi hijau pohon yang membentang di ketinggian bukit-bukit, maka datanglah ke Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Dari bibir pantai, anda bisa menikmati keindahan alam itu!

Embusan angin segera menerpa wajah begitu memasuki Pantai Bolihutuo. Gulungan ombak yang berkejaran, terlihat memutih, dan menghias samudera yang membiru. Hamparan pasir putih yang menyelimuti kawasan sekitarnya, serta rindangnya puluhan pohon pinus menambah indahnya suasana.

Pantai Bolihutuo, biasa disebut Pantai Boalemo Indah, adalah pantai berpasir putih dengan suasana rindang. Pohon-pohon pinus besar membuat teduh pinggiran pantai yang sesekali dikunjungi turis manca negara ini. Lokasi wisata pantai Boalemo Indah terletak di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Desa Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, 32 kilometer dari Tilamuta, ibukota Kabupaten, atau 30 menit menggunakan angkutan umum.

Tempat ini seperti layaknya surga yang dapat memberikan kenyamanan dengan tingkat keamanan yang memadai. Suasana Bolihutuo begitu memanjakan hidup dan memberikan nuansa romantis tersendiri bagi pasangan muda, dengan pemandangan laut lepas --gulungan ombak yang berkejaran terlihat memutih, menghias samudera yang membiru-- dan pasir putih nan menawan. Keindahan pantai ini ibarat mutiara kepariwisataan yang terhampar di pesisir Teluk Tomini.

Penasaran akan ragam wisata di daerah yang baru menjadi Kabupaten pada 1999 ini, tamasya pun bisa dilanjutkan. Pergilah ke pulau berpasir putih yang berada di tengah laut, dengan jarak tempuh 5 kilometer dari ibukota Kabupaten atau 10 menit menggunakan angkutan umum.

Saat menuju ke sana, bisa mampir dulu ke rumah makan di kawasan pelabuhan Tilamuta, tempat pelelangan ikan yang berada di seberang gugusan pulau berpasir putih tersebut. Debur ombak pantai Tilamuta yang terhubung dengan perairan Teluk Tomini, menjadi musik indah mengiringi lidah merasakan kelezatan ikan baronang bakar sambil menyaksikan perahu-perahu nelayan yang hendak pergi melaut. Sesampai di pulau pasir putih, kita nikmati kerlap kerlip pasir putih sekaligus berjemur di bawah sinar matahari.

Pulau lainnya yang cukup unik adalah Pulau Lahumbo atau Pulau Paniki. Keunikan pulau ini adalah terdapatnya ratusan ribu kelelawar, yang menjadikan pulau itu nampak hitam di kejauhan. Masih ada lagi tempat yang menarik untuk dikunjungi adalah Taman Laut Pulau Bitila. Taman Laut ini memiliki keindahan terumbu karang dan beragam biota laut. Menurut penelitian para ahli pariwisata, keindahan Taman Laut Pulau Bitila dua kali lebih indah daripada keindahan Taman Laut Bunaken.

Jadi, tak usah menunggu to? Apalagi bagi orang-orang yang sesekali pergi ke Gorontalo. Orang bilang, jangan mengaku pernah ke provinsi Gorontalo kalau tak singgah di Boalemo. Soalnya, banyak keunggulan Gorontalo ada di sana. Sebutlah, Gorontalo sebagai provinsi Agropolitan, ya unggulannya, yakni jagung, bertumpu pada Kabupaten Boalemo. Begitu pula dengan wisata, keindahan alam yang berpotensi menarik wisatawan, berada di Boalemo. Bagi para pelancong, Boalemo adalah tempat wisata yang tak cukup hanya sekali dikunjungi!

Mau melancong ke Boalemo? Dari Bandara Jalaluddin Provinsi Gorontalo, anda cukup menghabiskan waktu dengan menggunakan angkutan umum sekitar 2 jam, untuk sampai di Tilamuta, ibukota Kabupaten Boalemo. Selanjutnya, anda cukup naik bentor (becak motor) ke mana pun anda bepergian.

Nah, kalau anda datang lagi tahun depan, barangkali suasana gugusan pulau berpasir putih yang berada di tengah laut, yakni di perairan Desa Lamu, Kecamatan Tilamuta, di sana sudah menjadi kawasan khusus bagi turis asing. Mungkin pemandangan kosong di hamparan pasir putih itu akan berubah seperti Bali: banyak bule berjemur di bawah terik matahari yang hangat. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 3, 16-22 Maret 2009]


[...Selengkapnya]

Label:

Surga Kepulauan Nan Memesona

Gugusan pulau-pulau membentang luas di semua wilayah kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tentu saja laut mengitari pulau-pulau yang indah itu berikut kekayaannya yang luar biasa. Sayangnya, hampir separuh warga yang mendiami “surga kepulauan” ini masih miskin.

Pesona laut di wilayah Maluku Tenggara Barat (MTB) begitu mempesona. Ia juga menawarkan beragam suasana, kadang berupa hentakan gelombang ganas yang menakutkan dan kadang pula tampak anggun dan menenteramkan. Sementara di dalam laut yang bening membiru itu terdapat segala jenis spesies ikan dan kekayaan tiada tara.

Wilayah MTB adalah bagian dari pusat keragaman hayati laut di dunia (epicenter of the world marine biodiversity). Ini memungkinkan karena letaknya sangat strategis di antara dua samudera (Hindia dan Pasifik). Secara geografis posisi ini kemudian membentuk suatu bio-ekoregion yang berada di dalam suatu jaringan segitiga terumbu karang (coral triangle) bersama kawasan laut lainnya di dunia. Posisi laut banda yang berhubungan langsung dengan laut pulau yang ada di wilayah MTB sangat menguntungkan karena menjamin tingkat kesuburan perairan yang terus menerus dan merupakan barier terhadap ancaman habitat laut oleh perubahan klimat yang ekstrim (naiknya suhu permukaan air laut karena elNino).

Luas wilayah MTB 125.442 kilometer, terdiri dari bentangan laut seluas 110.838,4 km dan daratan 14,584 km atau 88,37% adalah wilayah laut. Penduduknya tinggal di 88 pulau dari 133 pulau yang ada. Wilayah laut mengandung sejumlah sumber daya yang dapat dimanfaatkan langsung maupun tidak langsung. Sumber daya yang terdiri dari sumber daya yang terbarukan (hayati) tetapi juga yang tidak terbarukan (non-hayati) seperti ombak, angin, mineral, dan berbagai jasa kelautan yang dapat dikembangkan.
Wilayah laut MTB juga adalah bagian daerah hunian dan hampir 10 kali lipat jumlah jenis terumbu karang yang ada di laut Karibia (atlantik). Selain itu, MTB merupakan bagian dari perairan Indonesia Timur yang menyimpan hampir 0,25% jumlah jenis (species) ikan dunia. Kekayaan ini tersebar di empat gugusan kepulauan yang ada sehingga diharapkan dapat berperan sebagai sentra produksi unggul.

MTB menjadi alur migrasi (migration corridors) sejumlah hewan laut berukuran besar seperti ikan paus, lumba-lumba, hiu, pari, duyung, dan berbagai jenis ikan permukaan (pelagic) yang besar seperti ikan layar dan tuna. Hal ini memungkinkan karena laut dalam disertai dengan teluk sempit antar pulau yang kemudian menjadikan perairan ini sebagai tempat ideal untuk mencari makan (feeding), berkembang biak (breeding), menyusui (calving), dan bersarang (nesting).

Meski demikian, potensi kekayaan ini belum dapat dimanfaatkan secara baik dan maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Ini tergambar dari angka keluarga miskin dan penduduk miskin yang masih tinggi, yakni 43,55% dan 46,23%. Keluarga miskin dan penduduk miskin tersebar pada semua kecamatan di MTB.

Bupati MTB Bitzael Sylvester Temmar mengakui hal itu. Karena itu, pihaknya sudah menyiapkan model pembangunan perikanan-kelautan, yakni dengan mengindentifikasi potensi laut dan pesisir, rehabilitasi lingkungan laut, pengaturan tata ruang dan wilayah pesisir, eksploitasi sumber daya laut, dan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya nelayan. “Langkah ini menjadi bagian dari blue print membangun MTB ke depan,” ujar Temmar di ibukota MTB, Saumlaki.

Warga yang mendiami surga kepulauan ini juga berharap agar MTB benar-benar menjadi surga kepulauan bagi semua orang. “Potensi ekonomi tinggi, tapi perlu pengelolaan yang lebih baik. Dari kekayaan laut saja sudah cukup membebaskan warga sini dari kemiskinan, apalagi jika potensi wisata bahari juga diragap,” ujar warga Saumlaki, Evert Makupiola. Shodiqin/ Maluku Tenggara Barat [Polemik, Tahun I, Edisi 2, 9-15 Maret 2009]


[...Selengkapnya]

Label:

Pesona Bintan Tak Menjulang?

Pulau Bintan memang memesona, namun keindahan dan kekayaan kabupaten yang terletak di provinsi Kepulauan Riau itu tak begitu populer. Pulau gurindam itu baru populer ketika kabar korupsi lahan bernilai milyaran menyebar.

“Kain kerudung bersulam benang, dipakai berandam terlihat santun. Selamat berkunjung ke Pulau Bintan, kota gurindam negeri pantun,” begitulah ucap bupati kabupaten Bintan Ansar Ahmad kepada peserta Journalist Writing Competition COREMAP (Coral Reef Rehabilitation And Management Program) II, akhir tahun lalu.

Namun begitu, Ansar tak hanya ingin menunjukkan bahwa daerah yang dipimpinnya adalah surga pantun. “Bintan memiliki banyak potensi ekonomi yang bisa dikembangkan,” katanya.

Karena itu, Ansar tak mau repot-repot menjawab pertanyaan soal kasus pelepasan kawasan hutan lindung Pulau Bintan yang melibatkan Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan Azirwan. “Soal itu sudah menjadi urusan KPK,” ujarnya. Menurutnya, lebih baik bertindak membangun Bintan agar dapat bersaing dengan kabupaten-kabupaten yang lebih maju.

Lantas, bupati Ansar Ahmad pun mempersilakan rombongan jurnalis dan tim COREMAP menyusuri Pulau Mapur, yang kaya terumbu karang.

Pulau Mapur, Surga Terumbu Karang
Di pagi buta, kami meninggalkan hotel tempat kami menginap di Kota Tanjung Pinang menuju Pulau Mapur. Pertama-tama perjalanan darat selama sejam ke Desa Kijang, lalu dilanjutkan dengan menyewa kapal 2 PK menembus gelombang laut selama sekitar dua jam: dan sampailah kami di Pulau nan indah bernama Mapur.

Pulau Mapur terletak di bagian timur laut Kepulauan Bintan Timur, tepat berada pada garis lintang utara 010002181 dan bujur timur 1040795541. Pulau Mapur masuk ke dalam wilayah Desa Mapur, terletak sekitar 28 mil dari Tanjung Pinang dan 12 mil dari Desa Kijang. Desa Mapur terdiri dari sebelas pulau yang mencakup area daratan 44 km2 dan perairan 198,5 km2. Namun hanya dua pulau yang berpenghuni yakni Pulau Mapur dan Pulau Merapat.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memasukkan Pulau Mapur dalam kategori berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai daerah wisata. Keindahan dasar laut Pulau Mapur dan sektor perikanan tangkap potensial menarik minat para wisatawan.

Di Desa Mapur kami singgah di sebuah rumah penduduk serta menyambangi beberapa rumah penduduk lainnya yang menjorok ke pantai. Sebuah kawasan yang indah! Sepanjang mata memandang rasanya tak ada ganjalan yang bikin penat: kondisi daratan dan lautan yang menjadi bagian dari wilayah Mapur begitu memesona.

Hutan dan lahan pertanian yang menghampar dengan kekayaan tambang bauxite memberi harapan hidup sejahtera masyarakat jika pengelolaan sumber daya alam tersebut berjalan normal dan tertata dengan baik. Namun seperti yang terjadi pada hutan, tak berbeda dengan tempat lain, telah mengalami kerusakan. “Kerusakan hutan diakibatkan oleh masih berlangsungnya penebangan liar oleh pengusaha dari luar yang didukung oleh sebagian kecil penduduk desa dan aparat keamanan,” tulis buku Coremap II Journalist Writing Competition 2008 Kabupaten Bintan.

Sementara sumber daya wilayah perairan juga amat kaya. Ada hutan mangrove, terumbu karang dan berbagai jenis ikan seperti kerapu, selar, sotong, cumi, kepiting. Namun, menurut tim Coremap II, sumber daya perairan yang sangat penting adalah terumbu karang. Ekosistem ini terdapat di sekeliling pulau.

Pesona terumbu karang yang menghampar luas, masih dilengkapi dengan indahnya pantai. Wajar jika wisatawan dari Singapura dan Malaysia kerap menikmati surga terumbu karang Pulau Mapur. “Sangatlah menyenangkan. Menyelam dengan memandangi keelokan beragam jenis terumbu karang yang dikitari ikan-ikan warna-warni,” ujar seorang turis. Nah, sambutlah keunggulan potensi alam Pulau Bintan! (Shodiqin/ Pulau Bintan) [Polemik, Tahun I, Edisi 1, 2-8 Maret 2009]
[...Selengkapnya]

Label: