Biru Langit di Ranah Sampel
Warna biru langit cukup menonjol di ranah sampel. Warna Partai Demokrat itu lebih gemuk dibanding warna partai-partai lainnya yang disurvei beberapa lembaga survei. Pertanyaannya apakah pilihan ribuan masyarakat (dalam survei) terhadap partainya SBY tersebut akan benar-benar menjadi nyata pada pemilu 9 April 2009: dalam hal ini, Partai Demokrat memenangi pemilu legislatif?
Menonjolnya warna biru langit di ranah survei boleh jadi cukup representatif menunjukkan bahwa Partai Demokrat bakal memenangi pemilu legislatif. Survei bersama
Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Puskapol UI, Februari silam menghasilkan: pemilih yang memilih Partai Demokrat berjumlah 21,52%; mengungguli PDIP 15,51%, Partai Golkar 14,72%, PKS 4,07% dan Partai Gerindra 2,62%.
Selain itu, menurut hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN), partai “biru langit” ini menjadi pilihan mahasiswa. Partai Demokrat tetap menempati urutan pertama dengan angka 32,97%; menyusul PKS 14,12%; Partai Gerindra 12,73%; PDIP 8,57%; dan Partai Golkar 6,57%. Elektabilitas Partai Demokrat berkibar. Meroketnya perolehan partai berlogo tiga berlian di kalangan mahasiswa tidak lepas dari pengaruh tokoh figur partai masing-masing. Pulihnya popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendongkrak elektabilitas partai bernomor 31 tersebut.
Menurut survei LSN yang dilakukan pada 5-15 Maret 2009 di 33 provinsi, tingkat keterpilihan capres Partai Demokrat SBY kian jauh mengungguli capres PDIP Megawati Soekarnoputri.
Survei yang melibatkan 1.230 responden yang diambil secara acak bertingkat (multistage random sampling) itu melakukan pengumpulan data dengan teknik wawancara tatap muka menggunakan kuesioner: margin error 2,8% dan tingkat kepercayaan mencapai 95%. Responden ditanyai siapa presiden yang akan dipilih jika pilpres diadakan saat ini. Sebanyak 41,1% publik mengaku akan memilih SBY, sementara Megawati hanya mendapatkan simpati sebesar 15,3%. Tingkat elektabilitas SBY naik dibanding survei LSN pada Desember 2008 lalu yang sebesar 32%, sedangkan elektabilitas Megawati sejak survei bulan September tahun lalu selalu stagnan di kisaran 15-20%.
Naiknya tingkat elektabilitas Partai Demokrat cenderung mengikuti trend SBY, sang Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Ketika popularitas SBY menurun pada kisaran bulan Mei hingga November 2008 akibat naiknya harga BBM: premium Rp 6.000 per liter dari sebelumnya Rp 4.500 per liter dan solar Rp 5.500 per liter dari sebelumnya Rp 4.300 per liter; elektabilitas terhadap Partai Demokrat juga tampak menurun.
Begitu pula, pada saat popularitas SBY terus menanjak sejak harga BBM turun pada medio Desember 2008, elektabilitas Partai Demokrat turut menanjak. Harga premium diturunkan sebesar Rp 500 menjadi Rp 5.000 per liter. Sebelumnya, di awal bulan Desember, premium telah mengalami penurunan harga dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500. Harga solar juga diturunkan menjadi Rp 4.800, atau turun Rp 700 dari harga semula.
Saktinya jurus harga BBM membuat SBY tak akan menaikkan harga BBM, setidaknya sampai pemilu legislatif. Meskipun kali ini, harga minyak dunia kembali naik, menurut perhitungan pemerintah saat ini harga minyak dunia menyentuh level US$ 43-45 per barel, namun harga BBM dalam negeri tetap dijaga: tidak naik!
Andai pemerintah mengikuti logika ketika menaikkan harga BBM pada Mei 2008 dikarenakan melonjaknya harga minyak dunia, tetapi mengapa sekarang ini hal yang sama tidak dilakukan? Dalam logika politik tentu kebijakan pemerintah menjaga harga BBM dalam negeri berkaitan dengan “kepentingan” menjaga popularitas dan elektabilitas SBY –yang berpengaruh pada meningkatnya tingkat keterpilihan Partai Demokrat.
Rumus ini terbilang manjur di ranah sampel. Para pemilih yang jumlahnya seribuan itu menjadi potret dari 160 jutaan pemilih di Indonesia . Taruhlah suara sah pada pemilu 9 April 2009 adalah 160 juta orang: itu berarti Partai Demokrat harus mampu menangguk suara 34 juta lebih. Sebuah lonjakan yang dahsyat andai itu terjadi. Sebab pada pemilu legislatif 2004, Partai Demokrat hanya memeroleh suara 8.455.225 (7,45%). Jadi, mungkinkah perolehan suara Partai Demokrat mampu melonjak hampir tiga atau empat kali lipat pada 2009? Saya kira kondisi riil pemilih tidak persis seperti tergambar dalam hasil-hasil survei. Boleh jadi perolehan suara Partai Demokrat akan naik, tetapi tak sedahsyat hasil-hasil survei: dari 7,45% (2004) menjadi 15% (2009) saja sudah teramat istimewa! [Polemik, Tahun I, Edisi 5, 6-12 April 2009]
[...Selengkapnya]
Meneropong Calon Pendamping Mega
Meski masih sulit meneropong siapa calon pendamping Mega, namun jumlah kandidat cawapres yang menjadi incaran PDIP kian mengerucut. JK, Sultan, Akbar, Prabowo, atau Hidayat Nur Wahid?
Pemilu legislatif kian dekat, pertemuan antar tokoh partai politik pun kian ramai. Jusuf Kalla menyambangi PKS (Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring) dan PDIP (Megawati Soekarnoputri); Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Mega; Partai Demokrat berkunjung ke Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasional; dan Mega pun datang ke acara rutin Partai Persatuan Pembangunan yang dibidani Suryadarma Ali.
Lantas, siapakah yang bakal menjadi pendamping Mega? Nyaris tak ada peluang tentu, kalau kita menyebut ketua umum PKB Muhaimin Iskandar dan ketua umum PAN Sutrisno Bachir. Kedua tokoh ini diprediksi lebih mungkin menjadi pendamping Susilo Bambang Yudhoyono.
Andai kesepakatan Mega-JK untuk “membangun pemerintahan yang kuat”, tak sekadar berhenti sebagai kongkow-kongkow politik, maka jika PDIP memenangi pemilu legislatif maka yang menjadi pendamping Mega adalah JK. Sebab kesepakatan yang diteken di rumah Jalan Imam Bonjol Nomor 66 itu tidak ujuk-ujuk terjadi. Pendahuluannya telah dimulai sejak dua tahun lalu di Tokyo. Kala itu Surya Paloh dan Taufiq Kiemas bertemu dan lalu menggagas Koalisi Kebangsaan, di mana Partai Golkar dan PDIP sebagai pilar utama. Waktu itu, Taufiq Kiemas sudah terang menyatakan jika Golkar menjadi nomor satu dalam pemilu legislatif, maka calon PDIP cukup duduk di kursi RI-2. Begitu pula sebaliknya.
Lagi-lagi, andai itu terjadi maka rajutan koalisi Golkar-PDIP amatlah menarik. Secara kalkulatif, Golkar dan PDIP adalah partai besar. Kelebihan kedua partai ini
dibandingkan dengan partai lainya adalah memiliki jaringan infrastruktur yang
kuat dan tersebar secara merata. Merek politik Golkar-PDIP juga lebih mengakar. Menyatunya Golkar-PDIP akan memberikan rasa kepercayaan diri yang tinggi bagi keduanya untuk memenangi pemilu. Koalisi Golkar-PDIP lebih memberikan jaminan untuk mengantongi tiket pencapresan.
Masalahnya, ide koalisi Golkar-PDIP tampaknya bakal terbentur pada persoalan yang rumit: terutama menyangkut penentuan posisi capres-cawapres. Negosiasi format
capres-cawapres akan alot, sebab baik Golkar maupun PDIP sama-sama mematok posisi capres. Bab pendahuluan yang dibincangkan Taufiq-Surya Paloh akan bergantung pada dinamika politik internal kedua partai tersebut.
Pada akhirnya kalau JK menolak mendampingi Mega, nama Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi incaran berikutnya. Namun, selain modal Sultan tak sebesar JK –yang berarti akan menyulitkan Mega meraih tiket pencapresan, wakil ketua Dewan Penasehat Partai Golkar ini juga masih mengincar kursi presiden. Orang berikutnya adalah Akbar Tandung, yang modal dukungannya dari Golkar nyaris sama dengan Sultan. Bedanya, Akbar tampaknya akan menerima posisi cawapres.
Sementara Prabowo Subianto, yang partainya akan sangat mungkin mampu melengkapi kekurangan suara PDIP (katakanlah PDIP mampu meraup 20% dan Gerindra 5% suara) untuk mendapatkan tiket pencapresan, namun mantan Danjen Kopassus itu masih getol menyuarakan memilih posisi capres.
Walhasil, andai JK, Sultan, dan Prabowo, menolak mendampingi Mega, maka tinggal dua nama yang ditengarai bersedia menjadi cawapres: Akbar Tanjung dan Hidayat Nur Wahid.
Mengusung Akbar Tanjung sebagai cawapresnya Mega, masih merepotkan PDIP karena harus berkoalisi dengan partai lain, setidaknya sekelas PPP namun tokohnya tak hirau dengan urusan cawapres. Sementara kalau PDIP berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera dengan menduetkan Mega-Hidayat, pihak Mega tak perlu repot-repot mencari partai lain untuk menguatkan memperoleh tiket pencapresan. Dengan hitung-hitungan sedikit mengurangi perolehan suara dan kursi pada 2004, kedua partai ini sudah mampu meraih tiket pencapresan. Rasanya PDIP-PKS tak sulit memperoleh 25% suara dan 112 kursi DPR RI pada pemilu legislatif 2009.
Namun, pastinya tunggu pemilu legislatif 9 April 2009 usai. Dan, cawapres pendamping Mega pun akan muncul: mungkin nama orang yang pada mulanya gembar-gembor capres, atau orang yang memang sejak awal bersedia menjadi cawapres. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 4, 23-29 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Bisnis “Napoleon” pun Terhenti
Ikan napoleon termasuk satwa langka. Indonesia melarang ikan lezat ini diperdagangkan. Dan, bisnis pun terhenti!
Seekor ikan napoleon singgah di perairan dekat Kampung Nendiang, Desa Mapur, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan. “Saya baru saja menyerok ikan ini yang sedang berada di dekat rumah,” ujar seorang nelayan yang biasa dipanggil Udin.
Siang yang cerah menceriakan Udin karena napoleon datang memberi rizki lumayan. Tanpa harus pergi menangkapnya di sela-sela terumbu karang, sesekali jenis ikan ini memang datang ke kampung nelayan yang berada di tepi pantai tersebut. “Seekor napoleon seberat 5 ons ini bisa dijual seharga Rp300 ribu,” katanya. Harga ini setara dengan harga 30 kilogram ikan selar yang didapat dari seharian melaut.
Entah mengapa ikan napoleon bisa bergerak hingga ke pinggiran pantai dekat kampung nelayan. Mungkin karena jarak antara Kampung Nendiang –pusat Desa Mapur, yang berada di Pulau Mapur-- dengan kawasan terumbu karang di pulau tersebut sangat dekat, kira-kira kurang dari satu mil. Dan, ikan ini memang biasa berenang sendiri mencari makan di daerah dekat karang, karena makanannya yang berupa beberapa jenis sea urchin, molusca dan crustacean memang banyak berada pada daerah sekitar karang.
Ikan napoleon (cheilunus undulatus) adalah salah satu ikan karang besar yang hidup pada daerah tropis. Kehidupan hewan ini umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter.
Di alam bebas, ikan napoleon dikenal sangat hati-hati terhadap ikan-ikan lainnya. Tapi kalau di taman laut, napoleon menjadi jinak dan dapat disentuh oleh penyelam. Umumnya, ikan ini hidup sendiri-sendiri. Hanya kadang-kadang saja tampak berenang berpasangan, biasanya berkelompok hingga empat ekor.
Pada siang hari ikan napoleon menjelajahi kampung halamannya di area terumbu karang yang indah. Pada malam hari beristirahat di dalam gua terumbu karang atau di bawah langkan karang.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sepanjang hari mereka secara tenang tapi pasti melahap ikan-ikan kecil, kerang-kerangan, bintang laut, teripang, atau cacing laut. Tulang-tulang dekat kerongkongannya (pharyngeal bones) bertindak sebagai geligi kedua yang memecahkan, menggiling, dan membantu dalam pemrosesan makanan. Masa hidup ikan napoleon yang bisa mencapai ukuran panjang 2 meter itu belum banyak diketahui orang. Namun, ikan ini dipercaya bisa hidup sampai 50 tahun dengan bobot mencapai 180 kilogram.
Ikan yang kurang popular di Indonesia ini digemari warga Hongkong. Napoleon menjadi makanan bergengsi, hingga para taoke harus belanja ke negeri kepulauan ini. Di kalangan pecinta makanan ikan laut di Hongkong, ikan ini benar-benar sajian favorit. Kabarnya, dagingnya sangat lezat dan lembut. Di sana, ikan pun menjadi simbol status sosial dan ekonomi bagi penyantapnya. Menu ikan yang di Hongkong disebut sio moy ini biasanya dihidangkan pada acara atau peringatan khusus, seperti pesta ulang tahun kelahiran atau perkawinan.
Permintaan tertinggi terjadi pada Hari Ibu. Barangkali itu bentuk penghargaan yang tinggi pada kaum ibu. Sajian ikan ini pun sering pula hadir saat ada jamuan makan dengan relasi bisnis. Harga napoleon mencapai US$ 100 per kilogram.
Sayangnya, para pencari ikan napoleon kerap menggunakan cara-cara terlarang, misalnya menyemprotkan potasium sianida ke tempat-tempat napoleon bersembunyi, atau membongkar terumbu karang tempat si napoleon ngumpet.
Buntutnya, para pecinta terumbu karang dan penghuninya teriak kencang. Pemerintah negara-negara yang wilayahnya menjadi habitat ikan napoleon segera menerapkan larangan penangkapan ikan napoleon. Indonesia dan Filipina, dua negara pemasok utama ikan napoleon ke Hongkong, menempatkan ikan napoleon sebagai satwa yang haram diperdagangkan.
Penangkapan diizinkan Menteri Pertanian untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pembudidayaannya. Nelayan tradisional juga diizinkan menangkap menggunakan alat dan tata cara yang tidak merusak sumber daya alam. (SK Menteri Pertanian No. 375/Kpts/IK.250/5/95). Sementara SK Menteri Perdagangan No. 94/Kp/V/95 disebutkan larangan mengekspor ikan napoleon dalam keadaan hidup atau mati, bagian-bagiannya, maupun barang-barang yang terbuat dari ikan tersebut.
Entah negara lain yang diam-diam memasok ikan napoleon ke Hongkong. Di antaranya Australia, Cina, Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Thailand, dan Vietnam. Shodiqin
Kerajaan “Napoleon” di Indonesia
Ikan napoleon hidup di wilayah perairan terumbu karang Indo-Pasifik (Asia Tenggara dan Pasifik) dengan kedalamam 2-60 meter. Tempat favorit mereka adalah gua, celah, atau laguna di perairan terumbu karang. Bisa dimengerti, kebiasaan hidup di laut yang bersih, indah dan nyaman, menjadikannya stres bila dipaksa hidup di rantau orang. Tak terkecuali yang baru menetas.
Siklus hidup bangsa ikan napoleon tergolong unik. Ada dua tipe, yakni yang terlahir sebagai jantan dan tetap sebagai jantan sejati sampai akhir hayat, dan ikan napoleon yang memulai hidup sebagai betina dan dalam masa kehidupan berikutnya berubah fungsi sebagai jantan. Perubahan menjadi jantan biasanya terjadi setelah berumur 5-10 tahun atau berbobot badan kurang dari 10-15 kilogram.
Jenis ikan napoleon termasuk satwa langka. Kalau terumbu karang rusak, ikan napoleon bisa kehilangan tempak tinggal dan dikhawatirkan punah. Padahal, ikan ini sulit dikembangbiakkan di luar habitatnya. Kalau cuma untuk hidup, bisa saja di miniatur laut seperti yang ada di Sea World Indonesia: di sana ada beberapa ekor ikan napoleon. Namun, penelitian Loka Budidaya Air Payau Situbondo menyebutkan, peluang ikan ini bisa beranak pinak di kolam percobaan sangat kecil. Meski telah berhasil dipijahkan, tingkat survival ratenya hanya 2-3%.
Di perairan Indonesia, kita dapat menemukan kerajaan “napoleon” hidup di sekitar daerah Irian (raja empat), perairan Sulawesi Tenggara (kabupaten Buton, perairan Wakatobi), perairan Sulawesi Utara (Bunaken), perairan Nusa Tenggara (Sikka), perairan Sulawesi Selatan (Takabonerate), perairan Maluku, Kepulaun Riau, dan lain-lain. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 4, 23-29 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Serba Pulau Nan Indah
Kalau anda mau melancong dengan memuaskan mata memandang hamparan laut luas, dikelilingi hijau pohon yang membentang di ketinggian bukit-bukit, maka datanglah ke Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Dari bibir pantai, anda bisa menikmati keindahan alam itu!
Embusan angin segera menerpa wajah begitu memasuki Pantai Bolihutuo. Gulungan ombak yang berkejaran, terlihat memutih, dan menghias samudera yang membiru. Hamparan pasir putih yang menyelimuti kawasan sekitarnya, serta rindangnya puluhan pohon pinus menambah indahnya suasana.
Pantai Bolihutuo, biasa disebut Pantai Boalemo Indah, adalah pantai berpasir putih dengan suasana rindang. Pohon-pohon pinus besar membuat teduh pinggiran pantai yang sesekali dikunjungi turis manca negara ini. Lokasi wisata pantai Boalemo Indah terletak di Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Desa Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, 32 kilometer dari Tilamuta, ibukota Kabupaten, atau 30 menit menggunakan angkutan umum.
Tempat ini seperti layaknya surga yang dapat memberikan kenyamanan dengan tingkat keamanan yang memadai. Suasana Bolihutuo begitu memanjakan hidup dan memberikan nuansa romantis tersendiri bagi pasangan muda, dengan pemandangan laut lepas --gulungan ombak yang berkejaran terlihat memutih, menghias samudera yang membiru-- dan pasir putih nan menawan. Keindahan pantai ini ibarat mutiara kepariwisataan yang terhampar di pesisir Teluk Tomini.
Penasaran akan ragam wisata di daerah yang baru menjadi Kabupaten pada 1999 ini, tamasya pun bisa dilanjutkan. Pergilah ke pulau berpasir putih yang berada di tengah laut, dengan jarak tempuh 5 kilometer dari ibukota Kabupaten atau 10 menit menggunakan angkutan umum.
Saat menuju ke sana, bisa mampir dulu ke rumah makan di kawasan pelabuhan Tilamuta, tempat pelelangan ikan yang berada di seberang gugusan pulau berpasir putih tersebut. Debur ombak pantai Tilamuta yang terhubung dengan perairan Teluk Tomini, menjadi musik indah mengiringi lidah merasakan kelezatan ikan baronang bakar sambil menyaksikan perahu-perahu nelayan yang hendak pergi melaut. Sesampai di pulau pasir putih, kita nikmati kerlap kerlip pasir putih sekaligus berjemur di bawah sinar matahari.
Pulau lainnya yang cukup unik adalah Pulau Lahumbo atau Pulau Paniki. Keunikan pulau ini adalah terdapatnya ratusan ribu kelelawar, yang menjadikan pulau itu nampak hitam di kejauhan. Masih ada lagi tempat yang menarik untuk dikunjungi adalah Taman Laut Pulau Bitila. Taman Laut ini memiliki keindahan terumbu karang dan beragam biota laut. Menurut penelitian para ahli pariwisata, keindahan Taman Laut Pulau Bitila dua kali lebih indah daripada keindahan Taman Laut Bunaken.
Jadi, tak usah menunggu to? Apalagi bagi orang-orang yang sesekali pergi ke Gorontalo. Orang bilang, jangan mengaku pernah ke provinsi Gorontalo kalau tak singgah di Boalemo. Soalnya, banyak keunggulan Gorontalo ada di sana. Sebutlah, Gorontalo sebagai provinsi Agropolitan, ya unggulannya, yakni jagung, bertumpu pada Kabupaten Boalemo. Begitu pula dengan wisata, keindahan alam yang berpotensi menarik wisatawan, berada di Boalemo. Bagi para pelancong, Boalemo adalah tempat wisata yang tak cukup hanya sekali dikunjungi!
Mau melancong ke Boalemo? Dari Bandara Jalaluddin Provinsi Gorontalo, anda cukup menghabiskan waktu dengan menggunakan angkutan umum sekitar 2 jam, untuk sampai di Tilamuta, ibukota Kabupaten Boalemo. Selanjutnya, anda cukup naik bentor (becak motor) ke mana pun anda bepergian.
Nah, kalau anda datang lagi tahun depan, barangkali suasana gugusan pulau berpasir putih yang berada di tengah laut, yakni di perairan Desa Lamu, Kecamatan Tilamuta, di sana sudah menjadi kawasan khusus bagi turis asing. Mungkin pemandangan kosong di hamparan pasir putih itu akan berubah seperti Bali: banyak bule berjemur di bawah terik matahari yang hangat. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 3, 16-22 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Sepi Cawapres
Suwung atawa sepi. Begitulah barangkali kita menjuluki pasar cawapres yang belum moncer. Puluhan tokoh yang populer di negeri ini berkoar berebut capres. Tulisan ini barangkali dapat menggugah hasrat beberapa tokoh nasional itu yang hanya diidamkan menjadi cawapres.
Tingkat popularitas dan elektabilitas calon presiden (capres) nyaris tetap, tak berubah. Di urutan pertama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), disusul Megawati Soekarnoputri dan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Andai ada capres alternatif yang bisa sedikit mengganggu ketiga kandidat capres tersebut adalah Rizal Ramli.
Nama Prabowo Subianto, Wiranto, Jusuf Kalla dan Yusril Ihza Mahendra tergolong tak pantas maju capres. Keempat kandidat capres yang “diusung” oleh partainya masing-masing itu, lebih pantas di posisi calon wakil presiden (cawapres).
Prabowo Subianto berada di posisi paling atas, menempati tingkat kepantasan menjadi wakil presiden 2009-2014, dengan angka 54,9%; disusul Sultan 53,3%, Wiranto 50,6%, Jusuf Kalla 45,1%, Hidayat Nur Wahid 44,3% dan Yusril Ihza Mahendra 37, 9%. (Hasil survei LSN, Oktober 2008).
Jika merujuk pada hasil survei empat lembaga: CSIS, LP3ES, LIPI dan Puskapol UI, yang baru dirilis pekan lalu, maka di luar nama SBY dan Mega, hanya pantas berada di posisi cawapres.
Coba simak, hasil survei empat lembaga tersebut menyatakan, Partai Demokrat menempati urutan teratas dengan 21,5%; PDIP 15,21%; Partai Golkar 14,27%; PPP 4,15 persen; PKS 4,07%; PKB 3,25%; PAN 2,91% dan Gerindra 2,62%. Sementara capres: SBY masih menjadi capres terkuat dengan 46%, diikuti Megawati 17%, Sultan 4,7%, Prabowo Subianto 4,6%, Wiranto 3,6%, Amien Rais 2,2%, Hidayat Nur Wahid 2,1%, dan Jusuf Kalla 1,9%.
Jusuf Kalla yang menyatakan maju capres karena partainya besar, berada pada posisi ketiga dari hasil survei, pun harus mawas diri bahwa secara personal dia berada pada urutan buntut dari delapan tokoh nasional yang disurvei empat lembaga tersebut. Angka 1,9% sangat mengkhawatirkan andai JK benar-benar nekad maju capres.
Lantas, siapa nama cawapres yang bakal diunggulkan para capres? Prabowo, Sultan, JK, Hidayat Nur Wahid, atau Akbar Tandjung? Tampaknya Mega membuka kesempatan lebih luas, meski pilihan akan lebih dekat kepada Prabowo, Sultan, atau JK. Prabowo dan JK punya modal, sedangkan Sultan memiliki popularitas dan elektabilitas lebih tinggi jika dipasangkan dengan Mega.
Sementara buat SBY --andai JK benar-benar menolak menjadi cawapresnya-- kemungkinan memilih kembali pasangan dari Partai Golkar tipis. Kalau begitu, Sultan dan Akbar Tandjung juga tak akan dipilih SBY. Sedangkan Prabowo kurang memungkinkan dipasangkan dengan SBY karena sama-sama berlatar belakang militer.
Dari kelima nama cawapres yang disebut tadi, Hidayat Nur Wahid bisa menjadi pilihan satu-satunya cawapres SBY dari kalangan partai. Namun, manuver zigzag JK ke beberapa partai, termasuk PKS, bisa menghentikan kemungkinan pemasangan SBY-Hidayat. Karena itu, peluang cawapres non partai terbuka buat SBY: nama yang pernah muncul adalah Sri Mulyani Indrawati.
Namun begitu, bursa kandidat cawapres masih sepi. Semua tokoh yang berpeluang memimpin negeri subur tapi tak makmur ini belum tertarik melirik cawapres. Capres lebih menantang buat mereka, hingga bermimpi menjadi presiden lebih baik daripada menjadi wakil presiden dalam kenyataan.
Mungkin mereka perlu belajar “ngelmu kasunyatan”: ilmu kenyataan, yang tidak hanya mengajarkan legowo, tapi juga mengajarkan bagaimana kita cerdas melihat apa yang terjadi di sekitar kita dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup. Ngelmu kasunyatan juga mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu banyak berkoar, sombong, mengumbar janji, dan asal nekad! Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 3, 16-22 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Rumput Laut Komoditi Unggul
Rumput laut adalah komoditas strategis: sebagai sumber pangan sekaligus energi. Pasar dunia menanti pasokan lebih banyak dari Indonesia.
Indonesia memiliki luas area potensial untuk budidaya rumput laut seluas 1.110.900 hektar. Namun lahan yang digunakan budidaya rumput laut hanya 222.180 hektar atau sekitar 20 persen. Padahal pangsa pasar sangat terbuka dan menguntungkan.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menyadari terbukanya peluang memasok rumput laut ke pasar dunia, karena itu DKP menargetkan volume ekspor rumput laut tahun ini naik dari tahun sebelumnya. Volume ekspor rumput laut naik 12,5 persen atau 12,59 juta ton pada 2008. Saat ini, Indonesia menjadi penghasil rumput laut terbesar dengan produksi mencapai 87,75 juta ton atau senilai US$ 50,11 juta dolar AS di tahun 2007.
Indonesia mengekspor rumput laut dalam bentuk bahan baku ke Cina, Korea, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat. Oleh sebab itulah, pemerintah berharap ekspor tidak lagi dalam bentuk bahan baku, tapi minimal dalam bentuk chip (ekstrak). “Hal ini bisa tercapai melalui pembentukan kluster rumput laut di Indonesia,” kata Martani Huseini, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP, Senin pekan lalu.
Ekspor rumput laut menyumbang 36 persen dari total ekspor perikanan yang mencapai Rp 30 trilyun. Dengan kontribusi yang besar, DKP pun mengembangkan kluster rumput laut, mulai budidaya sampai industri pengolahan.
Komisi Rumput Laut Indonesia (KRLI) menyambut baik rencana pemerintah mengembangkan kluster. Sistem kluster diharapkan bisa mengontrol: mulai dari bibit, pengeringan, sampai pemasaran. “Sistem kluster juga bisa mendorong daerah mempunyai merek rumput laut yang dihasilkan dan harganya lebih mahal,” ujar Ketua KRLI W Farid.
Harga dalam bentuk bahan baku Rp 5.000/kg, namun jika diolah harga naik berkali lipat. Sebagai contoh, harga dalam bentuk chip atau ekstrak rumput laut US$ 3,1 atau sekitar Rp 29.140/kg. Jika diolah menjadi tepung karaginan, harga rumput laut bisa mencapai US$ 10 atau sekitar Rp 94.000/kg.
Jenis rumput laut yang diminati pasar adalah jenis euchema spinosum, euchema cottonii dan gracilaria sp. Selain sebagai bahan pangan, obat dan kosmetik, berdasarkan hasil penelitian rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, yaitu sebagai bahan biofuel.
Keberadaan rumput laut sebagai sumber alternatif energi merupakan hal baru yang harus didukung dan dikembangkan. “Selain sebagai sumber pangan keberadaan rumput laut sebagai sumber energi dan industri kosmetik harus terus dipromosikan,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi pada pembukaan Seaweed International Business Forum and Exhibition Kedua di Makassar, Sulawesi Selatan, Oktober tahun lalu.
Rumput laut memiliki beberapa keunggulan, antara lain peluang ekspor terbuka luas, harga relatif stabil, dan belum ada kuota perdagangan bagi rumput laut. Disamping itu, teknologi pembudidayaannya sederhana, siklus pembudidayaannya relatif singkat, kebutuhan modal relatif kecil, dan rumput laut adalah komoditas yang tak tergantikan, karena tidak ada produk sintetisnya. Usaha pembudidayaan rumput laut adalah padat karya, sehingga mampu menyerap tenaga kerja. Sedangkan kegunaannya luas, dan dekat sekali dengan kehidupan manusia.
Mengkonsumsi rumput laut dapat mencegah kanker. Sebab, rumput laut mengandung serat, selenium dan seng yang tinggi sehingga dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat mendorong timbulnya kanker. Penelitian yang dilakukan terhadap penderita kanker di Amerika Serikat menunjukkan bahwa wanita yang melakukan diet ketat dengan mengkonsumsi serat tinggi dan mengurangi asupan lemak dari daging dan susu mempunyai level estrogen yang rendah.
Penelitian Harvard School of Public Health Amerika Serikat membuktikan, pola konsumsi wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut dalam menu makannya, menyebabkan wanita premenopause di Jepang mempunyai peluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita Amerika Serikat.
Secara kimia rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium. Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat. Shodiqin
Lezat, Menyehatkan, Produksi Melimpah
Mengkonsumsi rumput laut amat menyehatkan. Jadi, bagi Anda yang ingin tampil cantik, muda, sekaligus sehat? Solusinya adalah mengkonsumsi rumput laut dengan berbagai produk olahannya.
Bagi masyarakat, rumput laut biasa dikonsumsi sebagai bahan makanan bergizi. Bagi pengusaha bidang kesehatan, rumput laut telah digunakan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dan suplemen makanan serta difortifikasi ke produk pangan untuk meningkatkan nilai jual produk tersebut. Jenis rumput laut yang digunakan untuk pembuatan obat adalah alga coklat, khususnya sargasum dan turbinaria. Pengolahan rumput laut jenis ini menghasilkan ekstrak berupa senyawa natrium alginat. Senyawa alginat dimanfaatkan dalam pembuatan obat antibakteri, anti tumor, penurunan darah tinggi dan mengatasi gangguan kelenjar.
Karena itu, memperbanyak budidaya rumput laut menjadi penting. Produksi rumput laut secara nasional mencapai 910.636 ton (2005), 1.079.850 (2006), dan 1.900.000 ton sasaran pada tahun 2009.
Budidaya rumput laut tersebar di semua lautan di Indonesia. Siswa-siswi SLTP dan SMK Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, telah bertahun-tahun membudidayakan rumput laut. Begitu pula masyarakat pesisir di Jawa Tengah seperti Pekalongan, Pemalang, dan Cilacap. Di Jawa Timur, masyarakat Situbondo dan pulau Madura juga membudidayakan rumput laut. Hal yang sama dilakukan masyarakat pesisir Cirebon dan Kepulauan Seribu. Di pulau-pulau lainnya, masyarakat pesisir Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua, juga membudidayakan rumput laut.
Jadi, tinggal bagaimana pemerintah memfasilitasi agar rumput laut menjadi komoditi utama. Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi berjanji akan mengembangkan kebun bibit di sejumlah daerah, diantaranya Bali, NTB, NTT, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Maluku, dan Papua. Sudah berhasilkah? Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 3, 16-22 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Berebut Tiket Capres
Semua kandidat capres 2009 masih menunggu hasil pileg April mendatang. Namun, prediksi perolehan kursi dan suara pileg tampaknya bahwa semua kandidat yang mau bertarung di pilpres harus berkoalisi.
Pasca kesiapan Jusuf Kalla (JK) menjadi calon presiden (capres) Partai Golkar, peta kandidat yang bakal mendapat tiket nyapres berubah. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bakal dihantui problem ticketing. Jika SBY tak menemukan partai koalisi yang mampu mengantar sebagai capres, maka ia akan tamat sebelum bertanding. PKS yang tadinya condong ke SBY, kini mulai melirik JK begitu posisi cawapres akan diberikan kepada Hidayat Nur Wahid: atawa PKS sedang menjajaki saja dan bisa tiba-tiba berpaling ke partai lain.
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih limbung bergantung pada arah angin politik yang akan menguntungkannya. Sementara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diragukan mampu memperoleh suara signifikan sehingga tak cukup berperan mendorong SBY nyapres. Apalagi Partai Bulan Bintang (PBB), diragukan mampu melengkapi perolehan suara pemilu legislatif (pileg) menjadi 25% jika Partai Demokrat, PKB dan PBB berkoalisi mengusung SBY. Sama saja dengan kemungkinan perolehan kursi yang harus mencapai 20%.
Posisi JK untuk nyapres juga belum aman. Ketua Umum Partai Golkar ini masih harus berhadapan dengan gerilya Sultan Hamengku Buwono X. Keberadaan Sultan sebagai raja Yogyakarta yang akan memimpin Indonesia merupakan nilai plus tersendiri, sebab Sultan mau memimpin negeri ini tanpa pamrih “kekuasaan”: harta, tahta, wanita. Sedangkan JK adalah saudagar yang selama menjadi menteri dan wapres dipandang kerap memerankan dirinya sebagai sang pedagang. Kalau orang-orang Golkar membuka mata, maka JK akan terhalang nyapres oleh kerakusannya sendiri. Kekuatan JK ada pada HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Connection. Meskipun menurut pengalaman, para aktivis HMI itu tak dapat sepenuhnya dipercaya. Loyalitas mereka bisa tiba-tiba goyah oleh iming-iming kepentingan politik dari kubu lain yang lebih menarik. Tengok saja ketika Akbar Tandjung terjungkal dari pusaran kekuasaan Partai Beringin. Boleh di bilang, si Abang yang piawai memimpin Golkar kala itu tiba-tiba “mati kutu” tak ada yang membantu: ke mana para aktivis HMI? Nah, dalam konteks rebutan capres Golkar menunjukkan bahwa posisi JK juga belum aman, begitu pun dengan Sultan.
Secara riil politik, Megawati Soekarnoputri juga masih menunggu hasil pemilu legislatif; apakah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperoleh suara seperti pada pemilu 2004 hampir 20% sehingga tak sulit maju nyapres hanya dengan menggandeng partai kecil. Masalahnya, apakah PDIP mampu mempertahankan suara sementara partai-partai baru yang lahir dari “rahim PDIP” juga akan menggerogoti suara PDIP.
Jadi, masing-masing kandidat capres masih risau untuk merebut tiket capres. Siapa yang bakal menjadi kandidat presiden 2009? Apalagi, alat ukur untuk memprediksi kemungkinan perolehan suara partai politik dan juga perolehan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan berbagai indikatornya, kian sulit didapatkan dari lembaga-lembaga survei. Pangkal soalnya, lembaga-lembaga survei yang selama ini sudah dikenal masyarakat justru menghasilkan perolehan suara partai politik yang berbeda-beda. Yang unggul dari survei Lembaga Survei Indonesia adalah Partai Demokrat; yang unggul dari survei Lingkaran Survei Indonesia adalah PDIP; dan yang unggul dari survei Indo Barometer adalah Partai Golkar.
Nah, tambah rumit bukan? Karena itu, sabarlah menunggu hasil perolehan suara partai politik pasca pileg. Dari sinilah koalisi pencapresan baru dapat ditentukan: siapa berpasangan dengan siapa dan dengan kepentingan apa. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 2, 9-15 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Surga Kepulauan Nan Memesona
Gugusan pulau-pulau membentang luas di semua wilayah kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tentu saja laut mengitari pulau-pulau yang indah itu berikut kekayaannya yang luar biasa. Sayangnya, hampir separuh warga yang mendiami “surga kepulauan” ini masih miskin.
Pesona laut di wilayah Maluku Tenggara Barat (MTB) begitu mempesona. Ia juga menawarkan beragam suasana, kadang berupa hentakan gelombang ganas yang menakutkan dan kadang pula tampak anggun dan menenteramkan. Sementara di dalam laut yang bening membiru itu terdapat segala jenis spesies ikan dan kekayaan tiada tara.
Wilayah MTB adalah bagian dari pusat keragaman hayati laut di dunia (epicenter of the world marine biodiversity). Ini memungkinkan karena letaknya sangat strategis di antara dua samudera (Hindia dan Pasifik). Secara geografis posisi ini kemudian membentuk suatu bio-ekoregion yang berada di dalam suatu jaringan segitiga terumbu karang (coral triangle) bersama kawasan laut lainnya di dunia. Posisi laut banda yang berhubungan langsung dengan laut pulau yang ada di wilayah MTB sangat menguntungkan karena menjamin tingkat kesuburan perairan yang terus menerus dan merupakan barier terhadap ancaman habitat laut oleh perubahan klimat yang ekstrim (naiknya suhu permukaan air laut karena elNino).
Luas wilayah MTB 125.442 kilometer, terdiri dari bentangan laut seluas 110.838,4 km dan daratan 14,584 km atau 88,37% adalah wilayah laut. Penduduknya tinggal di 88 pulau dari 133 pulau yang ada. Wilayah laut mengandung sejumlah sumber daya yang dapat dimanfaatkan langsung maupun tidak langsung. Sumber daya yang terdiri dari sumber daya yang terbarukan (hayati) tetapi juga yang tidak terbarukan (non-hayati) seperti ombak, angin, mineral, dan berbagai jasa kelautan yang dapat dikembangkan.
Wilayah laut MTB juga adalah bagian daerah hunian dan hampir 10 kali lipat jumlah jenis terumbu karang yang ada di laut Karibia (atlantik). Selain itu, MTB merupakan bagian dari perairan Indonesia Timur yang menyimpan hampir 0,25% jumlah jenis (species) ikan dunia. Kekayaan ini tersebar di empat gugusan kepulauan yang ada sehingga diharapkan dapat berperan sebagai sentra produksi unggul.
MTB menjadi alur migrasi (migration corridors) sejumlah hewan laut berukuran besar seperti ikan paus, lumba-lumba, hiu, pari, duyung, dan berbagai jenis ikan permukaan (pelagic) yang besar seperti ikan layar dan tuna. Hal ini memungkinkan karena laut dalam disertai dengan teluk sempit antar pulau yang kemudian menjadikan perairan ini sebagai tempat ideal untuk mencari makan (feeding), berkembang biak (breeding), menyusui (calving), dan bersarang (nesting).
Meski demikian, potensi kekayaan ini belum dapat dimanfaatkan secara baik dan maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Ini tergambar dari angka keluarga miskin dan penduduk miskin yang masih tinggi, yakni 43,55% dan 46,23%. Keluarga miskin dan penduduk miskin tersebar pada semua kecamatan di MTB.
Bupati MTB Bitzael Sylvester Temmar mengakui hal itu. Karena itu, pihaknya sudah menyiapkan model pembangunan perikanan-kelautan, yakni dengan mengindentifikasi potensi laut dan pesisir, rehabilitasi lingkungan laut, pengaturan tata ruang dan wilayah pesisir, eksploitasi sumber daya laut, dan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya nelayan. “Langkah ini menjadi bagian dari blue print membangun MTB ke depan,” ujar Temmar di ibukota MTB, Saumlaki.
Warga yang mendiami surga kepulauan ini juga berharap agar MTB benar-benar menjadi surga kepulauan bagi semua orang. “Potensi ekonomi tinggi, tapi perlu pengelolaan yang lebih baik. Dari kekayaan laut saja sudah cukup membebaskan warga sini dari kemiskinan, apalagi jika potensi wisata bahari juga diragap,” ujar warga Saumlaki, Evert Makupiola. Shodiqin/ Maluku Tenggara Barat [Polemik, Tahun I, Edisi 2, 9-15 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Polemik PKS Populerkan Jaipongan
Isu “pelarangan” jaipongan berbuah polemik. Namun, dari situ nama kesenian khas Sunda ini justru terkerek, moncer!
Siapa sangka Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang notabene tak begitu akrab dengan tari jaipongan, malah mengangkat nama kesenian yang berbasis pada ketuk tilu itu. Gara-garanya, muncul isu “pelarangan” jaipongan dari petinggi Jawa Barat, Gubernur Ahmad Heryawan. Kader PKS ini pun menjadi sasaran kritik, hingga kemudian ancaman menarik dukungan kepada PKS untuk Pemilu 2009 merebak.
Drama “pelarangan” pun selesai setelah para seniman Jawa Barat duduk bareng dengan Gubernur. “Polemik jaipongan sudah selesai,” kata Ahmad Heryawan akhir Februari lalu. Hal senada dikatakan pencipta jaipongan Gugum Gumbira. “Kita dengan bapak gubernur sudah clear. Tidak ada himbauan, tidak ada larangan dari bapak gubernur,” ujarnya.
Selama isu itu bergulir, nama tari jaipongan membahana. Isu “pelarangan” jaipongan yang kemudian memunculkan polemik berkepanjangan di ruang-ruang media massa dan kelompok kesenian jaipongan, seolah justru menjadi wahana efektif mengangkat nama seni jaipongan yang telah meredup.
Seni jaipongan meredup karena di lingkungan seniman sendiri muncul gejala redup sebagai indikasi sakitnya budaya tradisi. Di sisi lain, pemerintah daerah tidak berpihak penuh mendorong seni jaipongan. Sementara itu, seni jaipongan kerap dibuat ngadat akibat stigma subyektif yang dilemparkan pihak-pihak yang mengalami gegar budaya.
Faktor lain yang meliputi goyang, geol, dan gitek (3G) dalam olah gerak jaipongan acap digunakan sebagai alat atau tuduhan untuk memperlambat akselerasi seni tradisi ini. Malah, ada pihak yang secara subyektif melabelkan 3G sebagai manifestasi erotisme terhadap penari jaipongan.
Berbagai stigma dan kurangnya pemihakan membuat langkah jaipongan semakin meredup. Jaipongan terasingkan oleh pejabat daerahnya sendiri sehingga geregetnya kian pudar. Terbukti, pentas-pentas jaipongan di tengah masyarakat, acara pemerintahan, acara hotel, dan kegiatan di sekolah, semakin jarang dilakukan.
Beruntung, masih ada festival jaipongan yang digelar. BTM Art Festival yang diadakan di Bandung Trade Mal (BTM), Jalan Kiaracondong, Kota Bandung, 15-21 Februari lalu, diikuti 200 peserta dari Bandung Raya, Purwakarta, Subang, Karawang, Bogor, Sukabumi, dan berbagai daerah di Jawa Barat. Festival jaipongan untuk semua usia itu setidaknya mampu mengangkat kembali semarak jaipongan yang sedang redup.
Panggung Jaipongan di Kolong Jembatan
Jaipongan terus hidup berkat jasa para seniman tulen, yang justru berpenghasilan pas-pasan sekadar untuk hidup. Tapi bagi mereka, hidup tanpa jaipongan serasa kering, tak bermakna.
Tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak dinamis ini lebih banyak bergerak di kawasan yang terpinggirkan. Tangan, bahu, dan pinggul yang selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah para penari perempuan yang menebar senyum dan kerlingan mata, hanya dapat disaksikan pada saat grup jaipongan keliling menghampiri rumah kita dan atau di panggung jaipongan di kawasan kumuh.
Mereka para seniman beneran rela hidup seadanya dan seirit mungkin. Bagi para penjaja tari jaipongan, mereka berkeliling Jakarta dengan menumpang angkot atau bus umum. Bekal minum dibawa dari kontrakan, dan makan di warung murah semacam warteg (warung Tegal).
Sedangkan para pelestari jaipongan yang gampang dijumpai adalah grup yang manggung di Jatinegara. Di kolong jembatan bypass Jatinegara, Jakarta Timur, penonton menikmati goyangan para penari jaipongan. Di sana, denyut kehidupan malam terasa oleh musik yang membahana dari perangkat pengeras suara, mengiringi goyangan pinggul tujuh penari berkebaya di atas panggung kayu. Orang-orang yang lewat banyak yang berhenti menatap aksi di atas panggung berukuran 3 meter x 3 meter.
Mirip gemerlapnya para penari di gedung pertunjukan, penari jaipongan di panggung kios itu tampil dengan riasan tebal, bulu mata palsu, pulas mata kelap-kelip, serta lipstik merah manyala. Juga, sanggul besar, kebaya, dan kain jarik ketat.
Itulah para seniman jaipongan yang hidup dengan sepenuh hati berjaipongan. Meski rata-rata pendapatannya kecil, Rp 20 ribu per orang setiap manggung, namun semangat untuk terus menghidupkan seni jaipongan tak pernah mati! Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 1, 2-8 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Jaipongan Tanpa Gitek, Geol, Goyang?
Ketika isu pelarangan jaipongan berembus kencang, istilah gitek, geol, goyang, juga mencuat populer. Mungkinkah jaipongan tanpa 3G?
Sebagian pelaku seni di Jawa Barat menyoal wacana pengurangan unsur 3G (gitek, geol, goyang) dalam jaipongan. Koreografer muda, Datam Ali Topan, menyatakan bahwa esensi dan nilai seni tari jaipongan meliputi unsur 3G tersebut. Seni tari jaipongan tidak bisa disamakan dengan seni tari tradisional Sunda lainnya, seperti tari klasik.
“Jika seni tari jaipongan dikurangi unsur 3G-nya, lama kelamaan maka seni tari ini akan hilang. Padahal seni tari jaipongan merupakan salah satu ikon seni Jawa Barat dan selama ini turut membawa nama harum Jawa Barat,” ujar Topan awal Februari lalu di Bandung.
Hal senada disampaikan staf pengajar STSI Bandung Mas Nanu Muda, yang menyoroti bahwa telah terjadi kemunduran andai unsur 3G dalam seni jaipongan dihaluskan. “Kalau ada instruksi semacam itu, berarti telah terjadi pemasungan kreativitas seniman, khususnya seniman tari jaipongan,” katanya.
Benarkah penghalusan 3G memasung kreativitas? Pencipa jaipongan Gugum Gumbira menepis anggapan tersebut. Kalau persoalan halus, mungkin mereka sebagai apresiator meningkatkan nilai-nilai yang tidak terlalu vulgar. Jadi yang dikatakan oleh yang meributkan 3G, sebenarnya tanpa itu pun sejuta gerak masih bisa menggambarkan apa saja. Tidak masalah dan sangat gampang memperhalus gerakan dalam bahasa tubuh atau gesture.
“Saya berkarya sudah halus dari awal. Kemungkinan sekarang ada pengadopsian oleh murid-murid saya, atau siapa saja yang bisa jaipongan. Terus mereka mengeksploitasi gerakan apa saja seperti gerakan erotis, itu tanggung jawab mereka. Kalau cuma menghaluskan, menambah lebih bagus kenapa nggak, saya setuju saja. Kalau selama ini tidak dianggap vulgar, saya setuju aja untuk dihaluskan,” kata Gugum.
Pencipta jaipongan ini lalu menjelaskan bahwa komentar Mas Nanu kurang benar. Menurut Gugum, Mas Nanu bukan ahli jaipongan. Jadi kalau dia bertahan bahwa kalau tidak ada 3G itu bukan jaipongan, itu salah. “Jaipongan itu berjuta-juta gerak, bukan hanya tiga gerak. Tapi kalau dia sudah mengarah pada suatu erotis yang sangat mengeksploitasi sensual of.., itu mungkin di Jawa Barat kurang kena, nggak tau kalau di luar negeri,” jelasnya.
Dalam jaipongan, gerak pantat berputar, tidak goyang. “Jadi mungkin ada komunitas yang keterlaluan, goyangnya terlalu erotik. Ya, saya setuju kalau memang itu diperhalus, kenapa nggak? Semua koreografer yang namanya punya ilmu apa pun bisa. Jadi kalau terlalu mengeksploitasi gerak goyang yang sangat erotis, saya juga kurang setuju,” jelas Gugum lagi.
Jadi, kata sang maestro, jaipongan dengan mengurangi gitek, geol dan goyang, bukanlah suatu hal yang terlarang. Ada sejuta kreativitas yang bisa membuat jaipongan tidak memunculkan gerakan erotis. Jaipongan yang Gugum ciptakan, sejak awal sudah sopan dan tidak menonjolkan gerakan erotis.
Jaipongan hasil karya Gugum adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari sebuah kreativitas. Perhatian Gugum terhadap kesenian rakyat menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan gerak tari tradisi yang ada pada kliningan, bajidoran atau ketuk tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan ragam gerak mincid dari beberapa kesenian tersebut membuat inspirasi sang maestro mengembangkan kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.
Kemunculan tarian Gugum pada awalnya disebut ketuk tilu perkembangan. Karya pertama Gugum ini masih kental dengan warna ibing ketuk tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya. Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong”, keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dan, dari tarian itu muncul beberapa nama penari jaipongan yang tersohor seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi.
Sejuta gerak tak bertepi, namun berjaipongan tak kudu mengumbar gitek, geol dan goyang. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 1, 2-8 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Mau Berjaipong? Ingat.. PKS!
Tiba-tiba PKS menjadi magnit. Setiap orang yang melibatkan diri dalam ranah kesenian jaipongan, tersedot ikut membicarakan PKS. Ada hubungan apakah antara PKS dan jaipongan?
Kabar terbitnya larangan jaipongan membuat marah sebagian seniman Jawa Barat. Sang tertuduh, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang disebut-sebut bakal mengeluarkan larangan jaipongan diseret ke pergunjingan politik bahwa gubernur baru pilihan langsung rakyat itu adalah kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tak urung, PKS menjadi bulan-bulanan pergunjingan sebagai partai yang anti kesenian jaipongan. Apalagi, konon, Presiden PKS Tifatul Sembiring mengomentari bahwa jaipongan mengandung unsur tarian erotis dan lahir di tempat maksiat.
Koordinator Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat (KPJJB) Gondo, meminta Tifatul Sembiring mengklarifikasi ucapan tersebut serta meminta maaf kepada para seniman jaipongan. Di atas panggung pemilihan “Putri Jaipongan”, sekitar 20 penari jaipongan cilik dan seniman juga menuntut hal yang sama. Sementara itu, pupuhu Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat Mas Nanu Muda menyatakan, tarian jaipongan bukanlah kesenian yang negatif serta menyuguhkan gerakan erotis. “Saya tegaskan, seniman jaipongan bukan generasi yang mengembangkan seni yang miring seperti kata Sembiring.”
Tanggapan yang bernada mengancam datang dari Subang. Ketua Dewan Kesenian Subang (DKS) Wawan Renggo mengatakan, pernyataan Tifatul Sembiring itu sudah menyakiti masyarakat seni tradisional. “Bisa jadi kami akan melakukan boikot terhadap PKS,” ujarnya.
Penyulut masalah yang membuat PKS dipergunjingkan adalah Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Wawan Ridwan. Ia mengaku mendapat amanat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk menyampaikan agar penari jaipongan menutup ketiak dan mengurangi goyangan. Wawan menyampaikan pesan pada acara Serah Terima Jabatan dari dirinya kepada Herdiwan Iing sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Sementara itu, Herdiwan Iing –pengganti Wawan, mengaku tidak mendengar langsung amanat dari gubernur tersebut. “Saya juga tidak mendapat instruksi langsung dari gubernur,” kata Herdiwan, awal Februari lalu.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan tidak pernah mengatakan sepatah kata pun untuk mengecilkan atau menghilangkan dan melarang pentas seni budaya Sunda, tari jaipong di Jawa Barat. Ia menduga isu ini berkembang karena ulah oknum pejabat di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. “Saya heran dan bertanya siapa yang membuat isu tersebut. Saya malah berharap kepada Kadisparbud, untuk benar-benar melestarikan kesenian jaipongan. Seni tari jaipongan terkenal hingga ke mancanegara. Saya berharap gerakan dan cara berpakaiannya tidak terpengaruh oleh budaya asing sehingga tarian ini benar-benar mencerminkan budaya Sunda,” kata Heryawan kepada pers di Bandung.
Menurut kabar angin yang berkembang, Gubernur Jawa Barat mengimbau unsur goyang, gitek, dan geol (3G) di dalam seni tari jaipong dikurangi. Padahal faktanya, “Tidak ada pernyataan resmi dari saya tentang imbauan itu. Jadi Kadisparbudlah yang harus lakukan klarifikasi. Karena yang saya tahu dari staf saya, isunya muncul dari kantor Disparbud Jabar,” tambahnya.
Kini, isu PKS anti kesenian tradisional, khususnya jaipongan, nyaris tak bergulir lagi. Menurut pencipta jaipongan Gugum Gumbira, dengan bapak gubernur sudah clear. Tidak ada himbauan, tidak ada larangan dari bapak gubernur. Hanya meminta coba suatu penghalusan-penghalusan tertentu yang lebih gampang dan mudah dikerjakan. “Tapi yang penting bagi kami, tidak ada himbauan yang mendesak apalagi tidak ada larangan. Beliau tidak menyebutkan dan tidak menyentuh kata-kata jaipongan. Jadi ini diributkan oleh pihak lain yang memang mencari keributan mungkin. Jadi gitu, jadi kita tidak dengan partai tapi dengan bapak gubernur dan itu sudah clear,” ujarnya usai kelompok seniman Jawa Barat bertemu gubernur, pertengahan Februari lalu.
Jadi, soal jaipongan, tak ada masalah dengan PKS. Hikmahnya mungkin kalau kita mau berjaipong, ingatlah PKS! (Shodiqin)
Kongkow Bareng Jadi Clear
Ribut-ribut soal isu pelarangan jaipong di Jawa Barat selesai sudah. Seniman Jawa Barat sepakat bahwa polemik seputar jaipongan sudah selesai. Seniman puas dengan penjelasan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, pada pertemuan para sesepuh dan tokoh seniman Jawa Barat yang berkumpul dan bersilaturrahim dengan Gubernur di Padepokan Jugala Jalan Kopo 15 Bandung, yang juga kediaman Gugum Gumbira, Senin (9/2) malam.
Dalam kesempatan itu, hadir pula Ketua DPRD Jabar HAM Ruslan, Kadisparbud Jabar Herdiwan, Ketua DPD Golkar Jabar Uu Rukmana, dan tokoh masyarakat Jabar Tjetje Hidayat I Padmadinata.
Acara silaturrahim yang berlangsung akrab. Dalam tanya jawab antara seniman dan Gubernur, terungkap bahwa para seniman dan budayawan menginginkan terciptanya harmonisasi dan kerja sama antara Pemprov dengan seniman dan budayawan yang asli, bukan seniman ataupun budayawan "jelmaan", yang tingkah dan pernyataannya kerap meresahkan masyarakat.
Kehadiran Gubernur di rumah Gugum itu, atas undangan para seniman untuk mendapatkan kejelasan dan mendengarkan langsung seputar kontroversi pemberitaan sejumlah media cetak dan elektronik perihal tari jaipongan. Ahmad Heryawan menegaskan bahwa dia tidak merasa ada komunikasi dan wawancara apa pun dengan wartawan. Hal yang sebenarnya yang terungkap pada arahan pejabat eselon II di lingkungan Provinsi Jawa Barat adalah menekankan agar jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar memajukan seni budaya daerah melalui pendekatan industri budaya.
Berkenaan dengan masalah pakaian, kita memiliki komitmen untuk menjaga moral anak bangsa, salah satunya mengenai pakaian. “Kalau menari mengenakan pakaian kebaya lengan panjang apa salah, saya pernah melihat Kang Gugum menari dan Tati Saleh mengenakan kebaya. Di sini saya tidak menyebutkan nama tarian satu pun," ujar Heryawan. Ia juga bercerita bahwa ketika dirinya masih duduk di SD pernah menari jaipongan. “Tidak ada rasa kebencian apa pun terhadap kesenian. Tapi sebagai gubernur, ini merupakan sebuah tanggung jawab moral saya untuk mengingatkan kepada semua pihak bahwa harus ada harmonisasi antara seni dan moralitas,” tambahnya. (Shodiqin) [Polemik, Tahun I, Edisi 1, 2-8 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Menambang “Emas” di Hutan Bakau
Penunggu mangrove itu bernama kepiting bakau. Pada mulanya ia dianggap sebagai pengganggu, kini kehadirannya diburu.
Capit kepiting berwarna kehitaman itu kerap membuat pematang tambak bocor. Para petambak pun marah dan menempatkan kepiting bakau sebagai hama yang mengganggu pertambakan mereka. Namun, setelah mereka tahu bahwa kepiting bakau merupakan komoditas perikanan pantai yang memiliki nilai ekonomi tinggi, keberadaan si “hitam” yang lezat itu banyak diburu.
Menurut catatan Departemen Kelautan dan Perikanan, permintaan kepiting bakau maupun rajungan dari pengusaha restoran sea food Amerika Serikat mencapai 450 ton per bulan. Belum lagi permintaan dari negara-negara lain seperti Cina, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa. Total permintaan kepiting tak kurang dari 1.900 ton per bulan.
Kepiting bakau diekspor dalam bentuk segar-hidup, beku maupun dalam kaleng. Di luar negeri, kepiting menjadi menu bergengsi di restoran. Pada musim-musim tertentu harga kepiting melonjak karena permintaan meningkat tajam pada perayaan imlek dan lain-lain. Harga kepiting hidup di tingkat pedagang pengumpul dapat mencapai Rp100.000 ribu per kg yang pada hari biasa hanya Rp40.000 untuk grade CB (betina besar berisi/bertelur, ukuran >200 g/ekor) dan Rp30.000 untuk LB (jantan besar berisi, ukuran >500g- 1.000g/ekor). Kepiting lunak/soka harganya dua kali lipat lebih tinggi. Sementara di luar negeri, harga kepiting bakau grade CB dapat mencapai U$8.40-U$9.70 per kg sedangkan LB dihargai U$6.10-U$9.00 per kg. Ukuran >1.000g (super crab) harganya mencapai U$10.5 per kg.
Mengapa kepiting diminati pasar dunia? Ternyata daging kepiting yang lezat itu menyehatkan. Daging kepiting mengandung nutrisi penting bagi kehidupan dan kesehatan.
Meski mengandung kolesterol, kepiting bakau ini rendah kandungan lemak jenuh: sumber Niacin, Folate, dan Potassium yang baik, dan merupakan sumber protein, Vitamin B12, Phosphorous, Zinc, Copper, dan Selenium yang sangat baik. Selenium diyakini berperan dalam mencegah kanker dan perusakan kromosom, serta meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus dan bakteri.
Fisheries Research and Development Corporation di Australia melaporkan bahwa dalam 100 gram daging kepiting bakau mengandung 22 mg Omega-3 (EPA), 58 mg Omega-3 (DHA), dan 15 mg Omega-6 (AA) yang penting buat pertumbuhan dan kecerdasan anak.
Pada rajungan, kandungan asam lemaknya lebih tinggi lagi. Dalam 100 gram daging rajungan mengandung 137 mg Omega-3 (EPA), 90 mg Omega-3 (DHA), dan 86 mg Omega-6 (AA). Untuk kepiting lunak/soka, nilai nutrisinya sangat tinggi, terutama kandungan chitosan dan karotenoid: terdapat pada kulit, yang semuanya dapat dimakan.
Tak ada yang dibuang dari kepiting, sebab kulit kepiting pun dapat diuangkan. Pasar luar negeri menerima kulit kepiting dalam bentuk kering sebagai sumber chitin, chitosan dan karotenoid. Industri-industri di sana memanfaatkannya sebagai bahan baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut memegang peran sebagai anti virus dan anti bakteri, serta digunakan sebagai obat untuk meringankan dan mengobati luka bakar. Manfaat lain, kulit kepiting dapat digunakan sebagai bahan pengawet makanan yang murah dan aman.
Sayangnya, permintaan pasar yang tinggi tak sebanding dengan populasi kepiting bakau. Ekspor yang terus meningkat: 12.381 ton (2000) dan 22.726 ton (2007), belum dapat dikatakan mampu memenuhi permintaan yang terus membesar. Apa solusinya? Menurut Kepala Risert Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan Indroyono Soesilo Sudarman, “Dengan budidaya, ketersediaan kepiting dapat berkesinambungan sehingga permintaan luar negeri dapat dijamin.” Jadi, mari membudidayakan kepiting di mangrove (hutan bakau) yang masih luas. Dengan begitu, kita dapat menambang “emas” di hutan bakau! Shodiqin
Pontang Panting Demi Kepiting
Tak jauh dari Batu 24, kira-kira sepanjang 5 kilometer melewati hamparan pohon kelapa, terdapat hutan bakau seluas 20 hektar milik Sukardi (42). Untuk memasuki hutan bakau yang berada di pinggir laut di kecamatan Gunung Kijang itu, Anda harus menumpang perahu yang disediakan oleh sang pemilik mangrove tersebut. Dan dalam hitungan menit, Anda akan sampai di rerimbunan mangrove yang menawarkan irama cipak cipuk dari suara air laut yang ombaknya menerpa setiap pohon-pohon bakau.
Di situlah Sukardi dibantu kedua anaknya, Muhajir (18) dan Muhandri (11) membudidayakan kepiting bakau. Hampir sepenuh waktu, Sukardi menghabiskan kegiatannya bersama kepiting-kepiting yang ia pelihara, kecuali pada saat mengantar Muhandri bersekolah di salah satu Sekolah Dasar yang berada di daratan di Desa Gunung Kijang.
Sukardi memulai membudidayakan kepiting bakau pada Maret 2008, dengan total biaya Rp 80 juta. Uang itu digunakan untuk membeli perlengkapan membuat petak berukuran 12X12 meter sebanyak tiga buah dan kotak 15X5 dua buah, rumah papan berukuran kecil dan jalan dengan papan yang memanjang menuju lokasi pembudidayaan kepiting bakau.
Petak yang dibuat berkotak-kotak tersebut dibuat dari batang-batang kayu lonjoran yang tahan air. Di dalam setiap petak setinggi dua setengah meter diisi bibit kepiting bakau sebanyak 400 ekor. “Saat itu satu kilogram bibit berisi 10 ekor harganya Rp 20 ribu,” katanya.
Selama enam kurun enam bulan, kepiting bakau milik Sukardi sudah tumbuh membesar hingga rata-rata beratnya mencapai 6 ons per ekor dengan harga per kilogram Rp 80 ribu. “Hanya sedikit saja jumlah kepiting bakau ini yang beratnya 3-5 ons. Yang ini dijual laku Rp 60 ribu per kilogram,” ujarnya.
Pria dua anak ini mengerti betul bagaimana memelihara kepiting bakau, sehingga bibit yang mati, tak hidup sampai masa panen cuma 17 ekor per kotak. Dari 2.000 ekor kepiting yang dibudidayakan ini, yang mati hanya 85 ekor. Jadi, Sukardi memanen sebanyak 1.915 ekor atau sekitar 9.00 kilogram, bernilai nominal sekitar Rp 70 juta. Kalau setengahnya dikurangi untuk biaya operasional dan kebutuhan keluarga, maka hampir separuh modal Sukardi sudah balik. “Dalam hitungan saya, dalam dua kali panen sudah untung bersih lah kira-kira Rp 30 juta,” kata Sukardi, yang ditinggal ayahnya, Nartim, karena meninggal, sewaktu remaja.
Kini Sukardi sudah dua kali memanen hasil budidaya kepiting bakau. “Untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak sangatlah cukup,” jelas Sukardi, masih mengurus ibunya yang berusia 84 tahun. Jadi, pontang panting Sukardi, dari darat ke mangrove dan sebaliknya, membawa berkah rezeki cukup melimpah.
Anda tertarik bagaimana cara membudidayakan kepiting bakau? Sukardi akan senang hati berbagi: silakan dating ke Kampung Galang Batang, Desa Gunung Kijang, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. Jarak tempuh kira-kira cuma 29 kilometer dari Kota Tanjungpinang. Shodiqin [Polemik, Tahun I, Edisi 2, 9-15 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Gejolak Capres Beringin
Unjuk kekuatan bahwa Golkar adalah partai besar tak bisa ditunda lagi. Meski sebenarnya segala sesuatu menyangkut pemilihan umum (legislatif) tak menentu berapa perolehan suara yang bakal didapat, namun memunculkan tekad partai bergambar beringin harus majukan capres adalah sebuah keberanian.
Berani karena Partai Golkar memang besar jika dilihat dari perolehan suara pemilu legislatif pada 2004, yakni 24 juta suara (21%). Dengan begitu, capres dari Golkar sudah dapat memenuhi syarat minimal maju capres, yakni terpenuhinya 25 persen perolehan suara nasional atau 20 persen kursi DPR.
Masalahnya kondisi kepartaian di Indonesia telah berkembang, terutama dengan munculnya partai-partai baru yang didirikan oleh bekas pengurus teras partai beringin. Sebut saja Partai Gerindra dan Partai Hanura yang debutnya kian moncer di ranah publik. Dari dua partai ini saja, Golkar bisa kehilangan suara yang jumlahnya cukup mengganggu. Coba hitung kalau dari 10 juta anggota Partai Gerindra menghasilkan angka riil 3% suara saja dari pemilih Golkar yang berpindah pilihan dan Partai Hanura mampu mengorganisir beberapa persen dari suara yang ditangguk Wiranto-Wahid pada Pilpres 2004 yakni 26.286.788 (22,154%), taruhlah 3% saja yang datang dari pemilih Golkar, maka setidaknya suara Golkar tergerogoti sejumlah 6%.
Jika ini terjadi, artinya perolehan suara Golkar tergerogoti sampai 6%. Berarti, Golkar memerlukan koalisi dengan partai lain agar dapat mengusung capres. Peluang ini mulai dijajaki dengan kunjungan JK ke DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pantun berbalas pantun dan saling puji antara JK-Tifatul Sembiring-Hidayat Nur Wahid meluncur di acara silaturrahmi itu. Isyarat menggandengkan JK-Hidayat pun menyembul.
Seberapa jauh isyarat ini akan menjadi nyata? Jawabnya tak sekadar berhenti pada soal ketersediaan PKS berkoalisi dengan Golkar. Tetapi juga, apakah pada akhirnya Golkar akan mengusung JK sebagai capres. Soalnya, gejolak beringin mengusung capres sendiri itu pun masih penuh dinamika: persaingan antar faksi di dalam tubuh Golkar belum mengerucut untuk bersatu mengusung nama calon. Nama JK muncul lebih karena dia mewacanakan Golkar mau mengajukan capres, dan bukan berarti orang yang dimaksud adalah JK. Nama Sultan lebih populer di tengah masyarakat, dan itu berarti Golkar akan rugi jika mengabaikan kekuatan Sultan. Mengacu pendapat Sukardi Rinakit, Sultan lah yang mampu menyatukan Golkar.
Golkar berani mengusung capres karena partai ini memang memiliki kader yang layak diusung menjadi capres. Ada JK, Akbar Tandjung, Surya Paloh, dan Sultan. Lantas, siapa nama yang bakal diusung? JK masih punya peluang karena dia berpengalaman memimpin pemerintahan sebagai Wakil Presiden, sementara Akbar Tandjung dan Surya Paloh belum tampak menonjol. Namun, pada dasarnya semua kandidat berpeluang menjadi capres. Hanya saja, menurut beberapa survei peluang JK dan Sultan lebih besar.
Lalu, apakah gejolak capres beringin adalah gejolak JK untuk maju capres? Jika jawabannya iya, maka JK harus berani mengambil langkah cepat sejak sekarang. Karena dia yang pegang kendali puncak di Golkar, tak sulit rasanya mengendalikan partai beringin agar nama yang muncul diusung Golkar adalah JK. Sebaliknya, andai hasrat mencapreskan JK datang dari desakan orang-orang beringin yang berpetualang politik, maka hati-hatilah JK. Sebab pasangan SBY-JK masih lebih unggul dari pasangan mana pun. Jadi, andai JK memaksakan diri maju capres, bisa jadi tak hanya JK yang gigit jari tapi juga Golkar. (shodiqin) [Polemik, Tahun I, Edisi 1, 2-8 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Pesona Bintan Tak Menjulang?
Pulau Bintan memang memesona, namun keindahan dan kekayaan kabupaten yang terletak di provinsi Kepulauan Riau itu tak begitu populer. Pulau gurindam itu baru populer ketika kabar korupsi lahan bernilai milyaran menyebar.
“Kain kerudung bersulam benang, dipakai berandam terlihat santun. Selamat berkunjung ke Pulau Bintan, kota gurindam negeri pantun,” begitulah ucap bupati kabupaten Bintan Ansar Ahmad kepada peserta Journalist Writing Competition COREMAP (Coral Reef Rehabilitation And Management Program) II, akhir tahun lalu.
Namun begitu, Ansar tak hanya ingin menunjukkan bahwa daerah yang dipimpinnya adalah surga pantun. “Bintan memiliki banyak potensi ekonomi yang bisa dikembangkan,” katanya.
Karena itu, Ansar tak mau repot-repot menjawab pertanyaan soal kasus pelepasan kawasan hutan lindung Pulau Bintan yang melibatkan Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan Azirwan. “Soal itu sudah menjadi urusan KPK,” ujarnya. Menurutnya, lebih baik bertindak membangun Bintan agar dapat bersaing dengan kabupaten-kabupaten yang lebih maju.
Lantas, bupati Ansar Ahmad pun mempersilakan rombongan jurnalis dan tim COREMAP menyusuri Pulau Mapur, yang kaya terumbu karang.
Pulau Mapur, Surga Terumbu Karang
Di pagi buta, kami meninggalkan hotel tempat kami menginap di Kota Tanjung Pinang menuju Pulau Mapur. Pertama-tama perjalanan darat selama sejam ke Desa Kijang, lalu dilanjutkan dengan menyewa kapal 2 PK menembus gelombang laut selama sekitar dua jam: dan sampailah kami di Pulau nan indah bernama Mapur.
Pulau Mapur terletak di bagian timur laut Kepulauan Bintan Timur, tepat berada pada garis lintang utara 010002181 dan bujur timur 1040795541. Pulau Mapur masuk ke dalam wilayah Desa Mapur, terletak sekitar 28 mil dari Tanjung Pinang dan 12 mil dari Desa Kijang. Desa Mapur terdiri dari sebelas pulau yang mencakup area daratan 44 km2 dan perairan 198,5 km2. Namun hanya dua pulau yang berpenghuni yakni Pulau Mapur dan Pulau Merapat.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau memasukkan Pulau Mapur dalam kategori berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai daerah wisata. Keindahan dasar laut Pulau Mapur dan sektor perikanan tangkap potensial menarik minat para wisatawan.
Di Desa Mapur kami singgah di sebuah rumah penduduk serta menyambangi beberapa rumah penduduk lainnya yang menjorok ke pantai. Sebuah kawasan yang indah! Sepanjang mata memandang rasanya tak ada ganjalan yang bikin penat: kondisi daratan dan lautan yang menjadi bagian dari wilayah Mapur begitu memesona.
Hutan dan lahan pertanian yang menghampar dengan kekayaan tambang bauxite memberi harapan hidup sejahtera masyarakat jika pengelolaan sumber daya alam tersebut berjalan normal dan tertata dengan baik. Namun seperti yang terjadi pada hutan, tak berbeda dengan tempat lain, telah mengalami kerusakan. “Kerusakan hutan diakibatkan oleh masih berlangsungnya penebangan liar oleh pengusaha dari luar yang didukung oleh sebagian kecil penduduk desa dan aparat keamanan,” tulis buku Coremap II Journalist Writing Competition 2008 Kabupaten Bintan.
Sementara sumber daya wilayah perairan juga amat kaya. Ada hutan mangrove, terumbu karang dan berbagai jenis ikan seperti kerapu, selar, sotong, cumi, kepiting. Namun, menurut tim Coremap II, sumber daya perairan yang sangat penting adalah terumbu karang. Ekosistem ini terdapat di sekeliling pulau.
Pesona terumbu karang yang menghampar luas, masih dilengkapi dengan indahnya pantai. Wajar jika wisatawan dari Singapura dan Malaysia kerap menikmati surga terumbu karang Pulau Mapur. “Sangatlah menyenangkan. Menyelam dengan memandangi keelokan beragam jenis terumbu karang yang dikitari ikan-ikan warna-warni,” ujar seorang turis. Nah, sambutlah keunggulan potensi alam Pulau Bintan! (Shodiqin/ Pulau Bintan) [Polemik, Tahun I, Edisi 1, 2-8 Maret 2009]
[...Selengkapnya]
Hidup Untung Keluarga Pelukis
Menggantungkan hidup sebagai PNS dan sejenisnya, karyawan, atau profesional, hingga beranak pinak mengikuti alur aktivitas yang lebih tua, mungkin itu biasa. Yang tak biasa adalah jalan hidup yang dipilih Slamet Barada, sebagai pelukis bersama keempat anaknya.
“Keluarga pelukis.” Itulah orang-orang di Kota Surakarta dan sekitarnya kerap menyebut Slamet Barada dan keluarganya. Tentu sebutan itu wajar, sebab Slamet Barada dan keempat anaknya memang hidup dari melukis.
Karya-karya mereka tampil menawan berjejer di jalanan sepeda ontel di pinggiran Jalan Raya Slamet Riyadi Surakarta, akhir Juli lalu, ketika Pemerintah Kota Surakarta punya gawe menggelar Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia.
Dari pameran itu saja, Slamet dan keempat anaknya mengantongi uang tak kurang dari Rp 60 juta hasil empat hari pameran di pinggir jalan. Lima lukisan yang rata-rata berukuran 270x140 sentimeter itu laku terjual Rp 12 juta per buah. Jadi, lumayan bukan? Corat coret di atas kanvas yang berawal dari hobi itu lalu benar-benar menjadi tumpuan hidup dan kehidupan bagi Slamet dan keempat anaknya.
Slamet mengawali karirnya sebagai pelukis pada 1978. Secara otodidak pria kelahiran Yogyakarta 16 Juni 1952 ini kian mahir hingga menemukan ciri khas lukisan beraliran realis namun juga kadang tak bisa menepis gejolak hatinya yang dekat dengan hal-hal yang spiritual.
Karena itulah lukisaan-lukisan karya Slamet tak hanya berupa rona kehidupan desa seperti tukang becak di tengah rindang pepohonan dan anak-anak sedang tampil meniup seruling menyambut hari ulang tahun seseorang di sebuah desa. Namun, lulusan Sekolah Teknik Negeri Surakarta (1972) ini juga piawai melukis bergaya abstrak, bahkan obyek lukisannya menjamah wilayah gaib seperti Ratu Pantai Selatan, Dewi Kencono Wungu, Kumolo Sari (Dewi Angin-angin), Retno Sudo (Kencono Sari). Enam lukisan gaib karya Slamet ditaruh di Cikini, Cilandak dan Pasar Minggu, Jakarta.
Obyek lukisan Slamet beraneka ragam. Ada ikan koi di tengah pancuran air dan kembang teratarai yang sedang merekah. “Lukisan ini melambangkan bahwa biar bisnis ada perkembangan. Ini ditandai dengan bunga teratai yang baru mekar, yang nantinya kuncup-kuncupnya akan tumbuh. Lalu air terjun menandakan bahwa rezeki terus nggrojok, dan batu-batu kecil di tengah telaga dimaksudkan biar rezeki tak berhenti,” ujarnya.
Ada juga Budha Kecil ukuran 200x125 sentimeter yang dijual Rp 15 juta. Berupa sejumlah anak kecil berpakaian ala Budha menjemur diri memandang matahari. Cerita ini menghimpun tentang kebaikan, kesucian dan kerohanian. Lalu, lukisan Ulang Tahun, berupa sejumlah anak sedang asyik menyuling di sebuah acara ulang tahun. Tampak damai, apa adanya dan alami. Lukisan berukuran 160x140 sentimeter ini dijual Rp 6 juta.
Slamet yang telah 30 tahun melukis dan hidup dari lukisannya tersebut menunjukkan bahwa ia adalah salah satu ikon pelukis yang khusyuk. Di Kota Surakarta saja, suami dari Sumini ini harus bersaing dengan 600-an pelukis. Namun, pria yang menikah pada 1978 dan kini telah dikaruniai empat anak ini tetap berjaya.
Melihat keberhasilan ayahnya melukis, keempat anak Slamet-Sumini mengikuti jejak sang “guru besar”. Barada Agung (30), Arifin Barada (26), Yosep Barada (20) dan Mira Sahara (9), sama-sama berprofesi melukis. Mereka belajar kepada ayahnya Slamet Barada, yang kerap disapa guru besar itu. Selain itu, mereka juga mengembangkan diri secara otodidak. Mereka sekhusyuk ayahnya, termasuk Arifin Barada yang juga disibukkan merampungkan skripsinya di jurusan Seni Rupa FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Jadilah, Slamet sekeluarga yang beralamat di Jl Lempuyangan II Barat Balai Desa Kwarasan RT02 RW02 Solo Baru, menggantungkan hidup dari melukis. Selebihnya, hidup untuk melukis!
[...Selengkapnya]
Topeng Narimo Sampai Korea
Ketekunan membuat Narimo mencapai tangga keberhasilan. Karya topengnya pun sempat mampir ke Korea Selatan.
Puluhan topeng berjajar dan bergelantungan di Jatisobo RT 02 RW 06, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Itulah tempat Narimo dan istrinya, Supriyati, menyulap kayu sengon laut dan kayu jati menjadi beragam jenis topeng.
Dari tangan pasangan suami istri itu lahirlah topeng-topeng yang dipergunakan untuk menari. Ada Kelono, Raja Molo, Sekartaji, Panji, Pentul, Tembem, Cakil, Buto Terong, Punakawan dan Durno. Topeng-topeng lainnya yang digunakan untuk asesori interior antara lain ada motif Merak, Bunga, Bulan Sabit dan Badak. Sementara topeng-topeng buat sovenir, gantungan kunci dan bandul kalung lebih beraneka ragam: dari topeng yang bermotif bunga hingga rojo molo.
Narimo, 43 tahun, adalah prototipe orang kampung yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya Kabupaten Klaten, ia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, minat seninya bertambah hingga memutuskan untuk belajar membuat topeng. Kala itu, ia hijrah ke Kota Surakarta, belajar membuat topeng kepada Bambang Suwarno, dosen STSI Solo Bagian Pedalangan.
Sambil terus menerus menggeluti topeng, Narimo tak menyia-nyiakan kesempatan ajakan budayawan Murtijono untuk turut aktif di Taman Budaya Surakarta (TBS). Ia juga bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga tamat pada 1989. Tak heran bila Narimo kian matang dalam berkarya. Lantas, topeng-topeng karya Narimo muncul ke pasaran.
Sejak menikah dengan Supriyati, gadis tamatan SMA Bakti Praja Bekonang-Surakarta, pada 1994, karya topeng Narimo kian mewarnai pasar. Dari Solo, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, hingga ke mancanegara.
Meski Narimo orangnya ntrimo ora neko-neko (menerima apa adanya), ayah dua anak ini tak berarti harus pasrah. Untuk memasarkan karya topengnya, Narimo mengikuti pameran di setiap ada kesempatan. Bahkan, tak hanya di Indonesia, ayah dari Aji Ahmad Muhtarom (11) dan Arfian Panji (3) ini pernah mengikuti pameran di Korea Selatan pada Oktober 2007. Sepekan di sana, 30 topeng motif kelono, gunung sari dan merak besar, yang dibawanya habis terjual.
Pasangan suami istri, Narimo-Supriyati, memang kompak. Keduanya saling melengkapi dalam menempuh kehidupan, termasuk dalam usahanya membuat kerajinan topeng. Selama proses pembuatan topeng dikerjakan berdua: dari menatah kayu menjadi topeng, mengukir, menyungging, mengamplas, mendempul, mencat putih, mengamplas lagi, mengecat warna muka dan ornament. Namun khusus memberikan alis (ornamen di atasnya dicat dengan menggunakan tangan) dikerjakan Narimo.
Dalam sebulan, galeri Panji milik Narimo dan istri mampu memproduksi topeng Rojo Molo 4 biji dengan harga Rp 600 ribu per biji; 8 Hanoman, 4 Garuda Jaksa, dan 15 kelono @Rp 400 ribu-500 ribu; 20 Sekartaji dan Panji @Rp 300 ribu; 30 Tembem dan Pentul @Rp 150 ribu; dan ratusan asesori, gantungan kunci dan bandul kalung @Rp10 ribuan. “Baru-baru ini Pak Walikota Solo memesan 500 buah bandul kalung motif rojo molo,” ujar Supriyati. Mengapa rojo molo? “Sebab semua molo dimakan oleh rojo molo,” tambahnya.
Topeng yang merupakan rupa khusus ukiran kayu telah menjadi bagian hidup keluarga Narimo. Bagi Narimo, membuat topeng tak hanya bisnis semata namun sekaligus turut melanggengkan tradisi.
Walaupun berada di sepanjang gugusan pulau Ibu Pertiwi dan bisa ditemukan pada upacara-upacara pemakaman dan sebagainya, bentuk topeng yang paling gampang dikenal adalah topeng yang dipergunakan pada tarian wayang topeng Jawa dan Bali.
Pengenalan wayang topeng itu disifatkan pada kedatangan Sunan Kalijaga, salah seorang walisongo abad XV seiringan delapan handai taulan lainnya memutus berdomisili di buana Nusantara (pulau Jawa) agar memancarkan agama Islam. Namun beberapa tarian adalah warisan tata adab Hindu-Buddha.
Penari-penari menyelenggarakan cerita wiracarita India seperti misalnya epos Mahabharata atau hikayat-hikayat khas setempat dan topeng dimanfaatkan guna mewakili para tokoh. Topeng-topengnya berpusparagam dari topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos hingga topeng Jawa Timur yang ukirannya sangat berliku-liku.
Jadi, tak sekadar berbisnis, membuat topeng adalah juga memelihara budaya yang adiluhung. Dengan begitu, Narimo dan Supriyati adalah pemelihara budaya yang hidup dari ketekunannya bergelut dengan topeng. Mau berkunjung ke Galeri Panji? Dari Solo, ambil jurusan Sukoharjo. Nah, begitu ketemu Pasar Bekonang, itu pertanda sudah dekat: tinggal beberapa kilometer lagi sampai kedapatan SD Jatisobo. Nah di samping SD itulah Narimo dan istri menyulap kayu sengon laut menjadi topeng-topeng yang menawan.
Kampung Topeng
Bermula dari pertanian, kini sawah menjadi sambilan. Begitulah kehidupan penduduk Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Setelah mengembangkan kerajinan topeng batik kayu sejak pertengahan tahun 1980-an, kini penduduk dusun itu mulai memetik hasilnya. Kerajinan batik kayu dari Bobung tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga sudah mendunia.
Sejak dicanangkan sebagai desa wisata tahun 2000, kegiatan pembuatan kerajinan berbahan baku kayu semakin meningkat. Wisatawan yang mampir ke perajin-perajin yang ada di Bobung dapat melihat dari dekat, bahkan ikut belajar mengerjakan kerajinan kayu yang akan dibeli. Hampir setiap penduduk dusun yang terletak lebih kurang 30 kilometer arah timur Kota Yogyakarta ini mahir membuat kerajinan dari kayu, tak terkecuali anak-anak yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak atau sekolah dasar.
Kerajinan batik kayu di Bobung berawal dari kebutuhan topeng kayu untuk lakon-lakon dalam seni tari Topeng Panji yang berkembang di dusun ini sejak tahun 1960-an. Tari tersebut merupakan pengembangan dari seni pedalangan yang menghadirkan topeng sebagai media berkesenian. Sunan Kalijaga merupakan pencipta topeng dari kayu yang kemudian dikenal sebagai topeng Panji itu, dengan cerita yang diambil dari pakem wayang Gedog.
Selain bentuk topengnya khas, mirip dengan penggambaran tokoh wayang purwa yang matanya tertarik ke atas dengan hidung lancip, motif batik yang mendasari pewarnaan topeng menambah nilai keindahan hasil kerajinan dusun yang letaknya sekitar 1,5 km dari Jalan Raya Wonosari ini. [OI, profil usaha, Tahun III, Edisi 111, 4-10 Agustus 2008]
[...Selengkapnya]
Menuju Zaman Kalasuba
Zaman carut marut. Tata hukum, tata kenegaraan, dan tata pembangunan amburadul, lantas melahirkan kalatida dan kalabendu. Kalatida adalah zaman ketika akal sehat diremehkan, perbedaan benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tidak adil, tak digubris. Kalabendu adalah zaman yang mantap stabilitasnya, tetapi alat stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan didewakan.
Coba simak peristiwa demi peristiwa korupsi (juga kolusi dan nepotisme) yang melilit negara Indonesia ini, tak kunjung berhenti. Yang terjadi justru, cenderung menyeruak ke segala ranah kepentingan: dari kepentingan memperkaya diri (keluarga dan kerabat), menyumbang partai politik, hingga bisnis! Karena itu praktik korupsi kerap berjalin berkelindan dengan pelibatan orang secara berjamaah, serta menjangkau ke lintas profesi dan kelembagaan.
Lihat saja kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), yang melibatkan banyak orang, profesi dan lembaga. Begitu pula dengan korupsi menyangkut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan kasus-kasus korupsi lainnya. Kisah kasus korupsi ini juga pernah melanda Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung. Namun yang masih hangat adalah kejahatan korupsi yang membuka borok lembaga legislatif.
Setelah Al Amin Nur Nasution (kasus alihfungsi lahan) dan Bulyan Royan (kasus lelang pengadaan kapal patroli Direktorat Jenderal Perhubungan Laut) menjadi tersangka korupsi, kasus lainnya terungkap. Sedikitnya, sebagaimana kesaksian Hamka Yandhu di depan persidangan, 52 anggota DPR RI yang duduk di Komisi IX pada periode 1999-2004 terlibat korupsi: yakni menerima duit dari aliran dana Bank Indonesia (BI) ke DPR.
Tampaknya korupsi telah melekat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan masyarakat dan para penyelenggara negara di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para penyelenggara negara kerap menciptakan sistem yang menguntungkan dirinya sendiri demi melanggengkan kekuasaan. Di sisi lain masyarakat dipaksa menanggung akibat dari sistem yang mereka ciptakan. Akibatnya, masyarakat terperangkap di dalam sistem yang dikuasai oleh orang-orang yang korup. Nah, jika dari jajaran Rukun Tetangga (RT) hingga lembaga kepresidenan (serta lembaga yudikatif dan legislatif) diisi oleh aparat-aparat yang korup, maka praktik korupsi merajalela di setiap strata lembaga pemerintahan.
Sepertinya, pada tatanan penyelenggaraan negara, korupsi menjalar mulai dari level lembaga tinggi negara hingga level terendah. Sebagian besar aparat negara sudah terkontaminasi praktik korupsi, secara terang-terangan maupun terselubung. Sementara itu, berkembangnya korupsi juga didukung oleh berbagai kepentingan masyarakat yang memberi ruang tumbuh suburnya praktik korupsi. Bagi sebagian orang, menyogok aparat telah menjadi keseharian dan budaya yang wajar untuk dilakukan.
Inikah zaman edan? Seperti tersurat dalam karya sastra tembang “Sinom” dalam “Serat Kalatida” bab 8: //Amenangi jaman edan/ ewuh aya ing pambudi/ melu edan ora tahan/ yen tan melu anglakoni/ boya kaduman melik/ kaliren wekasanipun// Ndilallah karsa Allah/ Sakbeja-bejane kang lali/ luwih beja kang eling lawan waspada// (Mengalami jaman gila, serba repot dalam bertindak, ikut gila tidak tahan, jika tidak ikut berbuat gila tidak memperoleh bagian hak milik, akhirnya menjadi ketaparan. Namun dari kehendak Allah, seuntung-untungnya orang yang lupa diri, masih lebih berbahagia orang yang ingat dan waspada).
Isyarat dari Raden Ngabehi Ronggowarsito perlu ditilik bahwa bangsa Indonesia harus bersikap waspada menghadapi kalatida dan kalabendu. Tokoh yang hidup pada masa keemasan Keraton Surakarta tersebut adalah pujangga besar yang telah meninggalkan “warisan piwulang yang sangat berharga” berupa puluhan serat yang mempunyai nilai dan capaian estetika menakjubkan. Ketekunannya pada sastra, budaya dan teologi, mendudukkannya sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta.
Ramalan R. Ng. Ronggowarsito yang terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 Jawi atau 1802 Masehi, putra dari RM. Ng. Pajangsworo, ternyata terjadi sekarang ini dan mungkin juga nanti, kalau zaman kalatida-kalabendu tak kunjung berujung pada lahirnya zaman kalasuba. Kalasuba adalah zaman stabilitas dan kemakmuran.
Menuju Zaman Kalasuba
Masyarakat tahu bahwa lembaga-lembaga kenegaraan, seperti lembaga kepresidenan, kabinet, DPR, dan peradilan, tak bersih dari korupsi. Betapa canggihnya para pelaku korupsi dengan predikat pejabat negara memindahkan uang rakyat yang terkumpul melalui pajak atau retribusi ke kantung-kantung mereka. Belum lagi uang-uang lain yang berasal dari pinjaman, atau bantuan dari negara-negara lain. Bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami, sulit menemukan aparat yang bersih.
Tak berlebihan kalau ada anggapan bahwa perilaku korup sudah ada bersama dengan adanya kekuasaan dalam masyarakat. Karena kekuasaan itu dianggap bersifat korup, dengan sendirinya orang yang mempunyai kekuasaan akan sama saja. Tak heran jika kemudian ada orang yang menganggap bahwa kecenderungan korupsi yang ada dalam diri aparat selama ini muncul karena mereka mempunyai kekuasaan untuk melakukan itu.
Kekuasaan pula yang membuat aparat yang korup menjadi kebal hukum. Mungkin ini salah satu sifat dari kekuasaan dan pemegang kekuasaan di negeri ini yang bisa berbuat apa saja tanpa harus merasa takut dengan hukum. Dampaknya, aparat hukum menjadi mandul ketika berhadapan dengan kekuasaan negara. Kalaupun terjadi keputusan hukum, paling-paling hukumannya ringan, atau dibebaskan dengan berbagai alasan. Bagaimana tidak, citra mereka selama ini jauh dari yang diharapkan masyarakat.
Untuk itu, janganlah menyerah pada kekuasaan yang korup. Jadikan kekuasaan itu untuk menyejahterakan dan memakmurkan sang pemegang kedaulatan. Mereka adalah rakyat! yang sungguh-sungguh memiliki kekuasaan. //Wis wayahe ana presiden utama/ wakil presiden linuwih/ pra nayaka tyas raharja/ panekare becik-becik..// (Sudah saatnya ada presiden yang baik, wakil presidennya cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik..)
Jika para pemimpin itu dapat dipercaya, memegang janji-janjinya ketika membujuk rakyat agar dapat menaiki singgasana, maka zaman kalasuba akan segera datang. Andai zaman kalatida-kalabendu adalah puncak aji mumpung, maka sebagaimana berputarnya roda sejarah –zaman kalasuba hampir tiba: hidup rakyat makmur dan tenteram. Kapan? Mungkin setelah Komisi Pemberantasan Korupsi membekuk semua koruptor: dari daun, ranting, pohon, hingga ke akar-akarnya! [OI, Perspektif, Tahun III, Edisi 111, 4-10 Agustus 2008]
[...Selengkapnya]
Saatnya Elite NU Belajar pada Warganya
Membaca warga NU, bahkan Kiai NU, itu gampang. Kalau Anda ke kampung-kampung yang dihuni mayoritas warga NU, di sana Anda akan mudah mendapati model kehidupan yang sederhana, yang apa adanya. Rasanya tidak ada rasa pamer dan sikap serakah yang berlebihan. Semua serba mudah dipahami. Jika ada orang pamer dan atau serakah, dia akan terdeteksi di acara jamaah Tahlilan dan Yasinan yang berlangsung tiap malam Jum’at. Usai kumpulan di malam Jum’at itu, biasanya orang yang sok pamer dan serakah itu segera menyadari kekeliruannya.
Jadi, menyelesaikan masalah untuk kemaslahatan itu mudah bagi orang-orang NU di kampung. Secara kultural, bahkan warga NU mengerti bagaimana menyikapi Kiai-nya yang tak lagi bersikap independen. Tanpa ruang kelas, tanpa SKS, tanpa embel-embel gelar kesarjanaan, mereka mengerti bagaimana berpolitik yang santun dan bermartabat. Kalau sang Kiai “menjual” mereka untuk kepentingan politik pragmatis, mereka akan segera bertindak! Namun tindakan mereka tetap santun dan damai. Biasanya Kiai model ini akan ditinggalkan jamaahnya. Cara itu sangat elegan dan tidak memakan korban.
Andai pun ada kerusuhan atau adu otot antar warga NU dan atau dengan warga lainnya, biasanya pangkal soalnya hampir selalu berada pada sikap sang Kiai. Permusuhan antar warga NU yang dipicu oleh perilaku Kiai pernah terjadi di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan beberapa daerah lain, pada Pemilu 1999. Namun begitu, perlu digarisbawahi, bahwa Kiai-kiai kampung umumnya berjalan seiring dengan warganya –sebab warga kampung itulah yang menjadikan seseorang itu diberi gelar Kiai atau Ustadz. Jadi, naif andai seorang Kiai lalu mengingkari sang pemegang kedaulatan itu!
Kalau Anda datang ke kantong-kantong NU yang masih ndeso, kampungan, bahkan kerap disebut kurang pendidikan, ternyata mereka lebih terdidik ketimbang para pendidik itu sendiri –yang belakangan terus menerus berjuang menaikkan gajinya meski dibanding warga masyarakat umumnya, mereka sudah berkecukupan. Bayangkan, di kampung-kampung, di desa-desa banyak warga NU yang bertindak sosial tanpa pamrih. Bahkan ketika mereka berkali-kali ditipu politisi, mereka tak berteriak-teriak mau golput! Dalam Pilkades-Pilkada-Pemilu, mereka tetap bersahaja memilih calon pemimpin. Setidaknya memilih orang yang terbaik dari yang terburuk.
Semakin sederhana, semakin bersahaja, semakin menerima pandume gusti Allah (pemberian Allah), akan semakin ketahuan bahwa mereka adalah orang NU. Mereka benar-benar nunut urip marang gusti Allah (menyerahkan hidupnya pada Allah). Hidup yang serba menggantungkan pada kehendak Allah itulah yang lazim mewarnai denyut kehidupan di kampung. Semua serba alamiah. Yang menjadi juragan adalah juragan tulen, begitu juga yang menjadi petani, pengrajian, bahkan Kiai. Karena itu, setiap orang mampu menakar kemampuan ekonomi masing-masing warga. Suasana hidup dan kehidupan warga masyarakat aman, nyaman, tenteram, dan tak bergejolak.
Suasana kampung berubah begitu budaya kota menghentak masuk. Hal-hal yang berbau korupsi, kolusi dan nepotisme pun tak ayal masuk kampung. Akhirnya sikap warga di beberapa kampung pun telah terdistorsi. Bahkan, sistem kepercayaan dalam pergaulan kampung pelan-pelan mulai terkiskis. Beberapa tokoh dari kampung yang tadinya bertangan bersih, mulai berani bertangan kotor. Alasan yang belakangan ngetrend adalah “tak mungkin menghindari tindakan maling kalau hidup di kampung maling”.
Lantas, bagaimana cara berbenah kembali membebaskan kampung-kampung itu dari tangan-tangan kotor orang-orang yang bermental maling? Jawabannya, mungkin, harus ada gerakan kampungisasi. Orang-orang yang telah menjadi elite itu segera dilengserkan kembali lantas hidup dari awal lagi bersama warga kampung yang masih bersahaja, sederhana, apa adanya. Hidup tanpa embel-embel menjadi “munafik”. Barangkali kejujuran akan kembali pulih begitu orang-orang yang telah menjadi elite (dengan segala keserakahannya itu) hidup bersama di tengah orang-orang yang lugu dan jujur.
Mungkin, gejolak PWNU Jawa Tengah adalah potret elite NU secara nasional. Ketika Rais Aam PBNU Dr KHMA Sahal Mahfudh melepaskan kegundahannya pada Konferensi Wilayah ke-13 PWNU Jawa Tengah di Pesantren Alhikmah 2 Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, 11-13 Juli lalu, bisa jadi merupakan bom waktu di mana anomali-anomali struktural maupun gerakan politik terselubung mulai terkuak oleh publik. Kiai Sahal tiba-tiba bertentangan dengan arus yang berkembang di level pengurus wilayah.
Berbagai komentar miring tentang para pimpinan NU muncul dari Kiai tersohor ini, sampai-sampai beliau menolak namanya dicantumkan sebagai Mustasyar PWNU Jawa Tengah 2008-2013. Ungkapan beliau yang mengatakan tidak ada manfaat jika berada di Mustasyar, maupun ungkapannya bahwa NU telah kehilangan idealismenya dan hanya menjadi pembenar pikiran pimpinan yang penuh syahwat politik praktis, menimbulkan spekulasi sangat luas.
Kenapa Kiai santun itu berkata dengan konotasi keras? Ini tak mungkin terjadi hanya karena terpantik kasus kecil. Pasti ada kasus besar yang melatarbelakangi kemarahan Kiai Sahal. Apa yang dia ungkapkan merupakan indikasi kuat bahwa para elite NU sudah melakukan penyelewengan dan penyimpangan.
Mungkin virus politik yang telah menyebabkan friksi-friksi di tubuh NU itu yang ingin dibasmi oleh Kiai Sahal. Friksi-friksi itu muncul dari kalangan struktural yang secara pribadi melakukan politisasi NU dalam pilkades, pilkada, pemilu legislatif dan pilpres. Mereka menggunakan NU sebagai alat menggolkan tujuan politik.
Akibatnya, meskipun NU secara institusional bukan partai politik, keterlibatan elite NU secara pribadi atau kelompok dengan membawa simbol-simbol ormas dalam ajang dukung-mendukung dan tim sukses telah menyeret NU dalam kancah politik praktis. Ketika tim sukses melibatkan pribadi pimpinan NU, maka disadari atau tidak, institusi ini dibawa masuk ke kancah politik kekuasaan.
Apa yang terjadi di PWNU Jawa Tengah mestinya menjadi pijakan bagi seluruh institusi NU secara nasional, agar melakukan introspeksi dan restrospeksi menuju fungsionalisasi institusi dalam kancah sosial keberagamaan yang benar. Para elite NU, mulai dari tingkat ranting hingga pengurus besar, perlu melakukan penyembuhan diri dari berbagai penyakit akibat tidak mampu mengendalikan nafsu politik. Caranya mudah, belajarlah pada warga NU di kampung-kampung itu! [OI, Perspektif, Tahun III, Edisi 110, 28 Juli-3 Agustus 2008]
[...Selengkapnya]
Bisnis Kemilau Putri Malu Dunia
Siapa tak mengenal batu permata? Benda yang berkilauan ini digemari banyak orang: dari preman hingga presiden. Wajar bila bisnis ini sangat menjanjikan.
Selama 30 tahun, Abd Nasir H menggeluti bisnis batu permata. Dari sini, pria separoh baya itu hidup dan menghidupi keluarganya. Tepatnya, di Jl A Yani Km 39,8 RT 01 RW 02 No. 2 Kel Jawa Martapura, Kalimantan Selatan, ia mengendalikan usahanya. Sepanjang berbisnis batu permata sejak 1978, Nasir –begitu ia kerap disapa, tak pernah kekurangan pembeli. Omsetnya tak kurang dari Rp 30 juta per bulan. “Itu dalam keadaan pasar tak ramai,” ujar Nasir. Tentu saja kalau pasar lagi ramai omsetnya bisa berlipat. “Biasanya pada hari-hari menjelang Idul Fitri, Natal dan tahun baru, permintaan berlipat,” tambahnya.
Meski sudah puluhan tahun berusaha di bidang batu permata dengan pelanggan yang sudah terbilang cukup, Nasir tak berpangku tangan mengandalkan penjualan di tokonya yang terletak di Pasar Niaga Baru Blok A No. 11, Martapura, Kalimantan Selatan. Namun ia terus mengembangkan pasarnya dengan mengikuti pameran di berbagai tempat. Kota Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Surakarta-Jawa Tengah, dan berbagai kota lainnya, pernah ia singgahi berjualan di tengah pameran. “Kalau pas lagi beruntung, barang yang saya bawa terjual habis. Bahkan seringkali ada peminat baru yang mengorder,” kata Nasir, yang mengaku membawa barang-barangnya ke dalam pameran senilai tak kurang dari Rp 100 jutaan.
Harga batu permata di tempat Nasir bervariasi. Gelang asesori ada yang berharga Rp 10 ribu, lalu cincin jenis batu kelulud dengan pengikat perak dan suasa (emas muda 33%) yang dikombinasi berharga Rp 325 ribu, sementara cincin emas muda yang dikombinasi dengan berlian bermata satu 0,20 karat berharga Rp 4 jutaan. Bahkan, ada batu permata dengan diameter 2 sentimeter berharga puluhan juta rupiah, serta harga berlian yang mencapai Rp 50-an juta lebih.
Untuk memenuhi kebutuhan bisnis, Nasir juga mengolah sendiri batu-batu permata itu menjadi cincin, gelang, kalung dan asesori dalam berbagai model. Ia melibatkan beberapa pengrajin yang bekerja secara lepas. Ongkos bikin Rp 3 ribu untuk bentukan cincin biasa. Seorang pekerja bisa menyelesaikan 10 cincin per hari. Sementara cincin dengan kombinasi emas, ongkos bikinnya sampai Rp 50 ribu. Seorang pengrajin bisa menyelesaikan 2 biji per hari. Jadi, selain menguntungkan buat diri Nasir, para pengrajin yang tinggal di dekat rumahnya juga menuai hasil: per orang Rp 30 ribu-Rp 100 ribu per hari.
Jenis-jenis batu permata yang dibisniskan Nasir adalah Pirus dan Merah Siam dari Timur Tengah. Kalimaya dari Banten dan Australia. Krista dari Austria. Jamrud dari Rusia dan India. Merah Delima dari Srilanka dan Afrika. Mata Kucing dan Yakut Kuning dari Srilanka. Safir dari Srilanka dan Bima. Rubi dari Afrika. Juga batu akik dari Kalimantan, yang lebih keras dari batu akik Jawa. Selebihnya, “Saya dagang berbagai macam jenis berlian dan asesori yang terbuat dari buah fukaha asal Timur Tengah,” ungkap Nasir.
Wajar, bisnis batu permata atau biasa disebut batu mulia ini sangat menjanjikan. Peminatnya datang dari berbagai kalangan, dari preman hingga presiden. Tentu saja dengan ragam alasan keperluan sang peminat: ada penggemar batu permata yang menikmati kemilau, bentuk, desain, atawa fisik batu permata yang indah itu, serta ada pula penggemar yang hobi mengoleksi batu permata karena berkenaan dengan mitos keberuntungan.
Mengenai mitos batu mulia yang membawa keberuntungan tak pernah hilang sejak zaman Mesir kuno hingga sekarang. Perhatikan saja, mulai dari preman, pelawak, ibu rumah tangga, peragawati, hingga raja dan presiden, mereka menyukai dan memakai batu mulia. Lantas, apa daya tarik batu ini?
Konon, orang yang mengenakan batu mulia akan dikasihi oleh lawan jenis. Ada juga batu yang membuat awet muda, penyembuh penyakit, bahkan ada yang percaya batu jenis tertentu bisa membuat pemakainya kebal senjata. Di luar itu, tentu keindahan dan efek psikologis yang terpancar dari batu mulia membuat orang jatuh cinta.
Secara umum, batu mulia terdiri atas dua kelompok utama, yaitu batu permata mulia (precious stone) dan batu permata setengah mulia (semiprecious stone). Di antara batu permata mulia, hanya intan atau diamond yang ditemukan secara ekonomis dan ditambang sejak abad ke-16, sementara yang lainnya belum maksimal, seperti merah delima (ruby), safir (sapphire) dan zamrud (emerald).
Berbeda dengan batu permata mulia, batu permata setengah mulia ditemukan di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Jenisnya sangat beragam dan keindahannya tidak kalah dengan batu mulia sejenis dari luar negeri seperti opal, kecubung, akik, krisopras, krisokola, dan lain-lain. Karena keindahannya, maka 24 jenis batu mulia asli Indonesia telah diabadikan dalam perangko Republik Indonesia selama 5 tahun berturut-turut, sejak 1997 sampai 2001.
Di dunia ini tidak semua tempat mengandung batu permata. Di Indonesia hanya beberapa tempat yang mengandung batu permata, antara lain di Pulau Kalimantan berupa intan (berlian). Baru-baru ini ditemukan intan 200 karat yang dikenal dengan Intan Putri Malu, di Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalsel pada 1 Januari 2008 yang beritanya sampai menghebohkan negeri Jerman.
Pesona Batu Mulia
Sejak dahulu kala, batu mulia masih dipercaya sebagai lambang zodiak. Salah satunya, batu yang berhubungan dengan bintang kelahiran masih dipakai orang. Lambang zodiak pada batu adalah Aquarius = Kecubung, Pisces = Turquoise, Aries = Intan, Taurus = Zamrud, Gemini = Agate Cancer = Mirah delima, Leo = Sardonix, Virgo = Safir, Libra = Opal, Scorpio = Topaz, Sagitarius = Turquoise, dan Capricorn = Agate.
Selain jenis batu mulia bervariasi, warna batu mulia juga sangat beragam, mulai dari merah, kuning, hijau, biru, atau putih. Kalau dahulu batu mulia hanya terkenal karena digunakan untuk cincin, kini aneka perhiasan seperti gelang, kalung, anting, bros, pin atau tasbih juga dibuat dari batu mulia. Untuk menambah keindahannya, batu mulia tersebut didesain dan digabungkan dengan berlian, emas, dan emas putih.
Di antara berbagai jenis batu mulia, intan berharga paling mahal dan paling tinggi nilainya. Batu ini merupakan batu yang paling keras dan memiliki cahaya paling terang di antara batu mulia lainnya karena mempunyai susunan kristal kubus. Terdapat sembilan unsur kristal yang dimiliki oleh intan. Hal inilah yang menyebabkan pantulan-pantulan sinar yang masuk ke dalam ruang intan tidak dibiaskan ke satu arah, akan tetapi ke sembilan bangun kristal ruang dan membuat kilauan indah! [OI, profil usaha, Tahun III, Edisi 110, 28 Juli-3 Agustus 2008]
[...Selengkapnya]
Mimpi Berhaji
Sampai ajal menjemput, niat Kiai Nuri untuk berhaji tak kesampaian. Namun, mimpi kiai dusun yang tak kesohor itu terus bergemuruh di benak istri dan putra-putrinya. Mereka rindu bertemu Allah di Masjid al-Haram, Mina, Muzdalifah, dan di Padang Arafah. Mereka rindu dipanggil Tuhannya untuk melaksanakan ihram, thawaf, wukuf, sa’i, tahallul, memanjatkan doa di sebuah tempat antara Hajar al-Aswad dan pintu Ka’bah, salat sunah dua rakaat di maqam Ibrahim, meminum air zamzam, dan melempar jumrah. Pendeknya, mereka bermimpi dapat memenuhi panggilan berhaji. Betapa indah rasanya memenuhi panggilan Allah di hari Tarwiyyah, Yawm al-Wukuf, Yawm al-Nahr, dan Yawm al-Tasyriq. “Labbaika Allahumma Labbaik…” (Wahai Tuhanku, kami datang memenuhi panggilan-Mu…).
Keluarga Nuri adalah keluarga santri. Sejak kecil mereka akrab dengan gema takbir, shalawat badar, berzanji, dan rajin mengaji. Jadi wajar saja, seperti kaum muslim pada umumnya yang hidup di kampung santri, berhaji hampir selalu menjadi cita-cita. Bahkan, berhaji tak saja disambut sebagai kewajiban memenuhi panggilan ilahi, tetapi juga untuk meningkatkan gengsi. Makna berhaji memang terus terdistorsi. Orang-orang di kampong Kiai Nuri kian tak peduli terhadap makna hahikat haji.
Tak mengherankan bila di kampung yang dulunya hanya ada satu-dua orang yang bergelar haji, kini jumlah orang yang bergelar haji mendominasi: hanya ada satu-dua orang yang tak bergelar haji. Salah satunya adalah Kiai Nuri. Sampai-sampai kampung yang sesungguhnya miskin secara ekonomi itu dijuluki “Kampung Haji”. Julukan itu makin kukuh, beritanya menyebar ke seantero kabupaten. Dalam perkembangannya orang-orang di kampung ini menjadi lazim dipanggil Pak Haji, Bu Haji, Kang Haji, Dik Haji, Pakde Haji, Bude Haji, Lek Haji. Orang-orang kampung itu puas menepuk dada, “Kamilah para haji.”
Kiai Nuri cemas. Ibadah haji, yang merupakan presentasi diri di hadapan Allah, bergeser menjadi presentasi diri di hadapan manusia. Mahkota penutup kehidupan itu ternistakan oleh kekuatan symbol, gelar, dan gengsi. Mata Kiai Nuri menerawang, “Mengapa syarat berhaji, seperti membayar hutang, zakat, mengembalikan amanat, dan menjamin nafkah keluarga, tak dipenuhi? Mengapa saudara-saudaraku berhaji dengan menjual harta warisan? Dan, lebih dari itu, hak anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan diabaikan?”
Puncaknya, Kiai Nuri terkaget-kaget ketika suatu hari anak sulungnya dan dia berkunjung ke Jakarta. Ternyata, orang-orang gede di metropolitan, yang menurut berita-berita di koran dan televisi banyak di antara mereka terlibat korupsi, kolusi, dan manipulasi uang rakyat, malah berhaji berkali-kali. Bahkan, ketika jumlah calon jamaah haji lebih besar dari kuota yang tersedia, mereka tetap terdaftar sebagai calon jamaah haji yang dipastikan berangkat ke Tanah Suci.
“Astaghfirullah al-Adzim,” kata Kiai Nuri, sambil menasihati istri dan putra-putrinya beberapa saat menjelang kepergiannya ke alam baka. “Kalian bermimpilah untuk berhaji. Tetapi jangan sekali-kali memaksakan diri. Demi haji lupa diri, apalagi dengan menzalimi sesamanya.” [Alkisah No. 03/ 2-15 Februari 2004 – 10-23 Dzulhijjah 1424]
[...Selengkapnya]